Syiah Mencintai Ahlul Bait? Ahlussunnah Menolak Hadits Dari Ahlul Bait?

Syiah Mencintai Ahlul Bait? Ahlussunnah Menolak Hadits Dari Ahlul Bait?

Pertanyaan:

Saya tertarik dengan ajaran Syiah. Saya banyak membaca buku tentang Syiah, Syiah mencintai ahlul bait, ahlul bait itu adalah keluarga rasul. Semua hadis-hadisnya berasal dari ahlul bait. Yang saya tanyakan mengapa Ahlussunah menolak semua hadis-hadis Syiah yang berasal dari keluarga rasul atau ahlul bait tanpa dikaji sedikit pun?

Dari: Thaherem

Jawaban:

Bismillah

Alahmdulillah, shalwat dan salam semoga tercucah kepada Rasulullah, dan ahlul baitnya, serta semua orang yang mengikuti beliau.

Terkait masalah ini, kami perlu menegaskan bahwa tidak ada satu pun Ahlussunah, baik ulamanya maupun orang awamnya yang membenci ahlul bait. Bahkan mereka sangat mencintai ahlul bait. Justru kami meragukan klaim Syiah yang mencintai ahlul bait, karena beberapa hal:

A. Ahlu bait adalah semua keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukankah istri-istri beliau termasuk keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Tapi anehnya, Syiah mencela habis-habisan Aisyah dan Hafshah radhiallahu’anhuma. Berita tentang ini, bisa Anda saksikan di youtube dan berbagai literatur Syiah. Bahkan mereka menegaskan bahwa Aisyah kekal di neraka. Silahkan Anda lihat ceramah dari salah seorang ulama Syiah, Yasir Al-Habib

Dalil tegas yang menunjukkan bahwa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk keluarganya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا (32) وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu gemulai dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit (nafsu) dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai ahlul baitdan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 32-33)

Siapakah Ahlul bait dalam ayat ini?

Ibnu Abbas mengatakan,

قوله: { إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ } قال: نزلت في نساء النبي صلى الله عليه وسلم خاصة.

“Firman Allah di atas turun khusus terkait para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6:410)

Ikrimah (salah satu Ahli tafsir murid Ibnu Abbas) mengatakan,

من شاء باهلته أنها نزلت في أزواج النبي صلى الله عليه وسلم

“Siapa yang ingin mengetahui ahlul bait beliau, sesungguhnya ayat ini turun tentang para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6:411)

B. Mereka sangat mengagungkan Abu Lukluk al-Majusi, yang mereka gelari dengan Baba Syuja’. Kuburannya dibangun megah dst. Silahkan anda lihat di:

Padahal setiap muslim, baik ahlul bait maupun bukan, sepakat bahwa Abu Lu’lu’ adalah orang kafir, termasuk Ali bin Abi Thalib radhiallallahu ‘anhu meyakini hal itu juga.

C. Mereka memberontak Bani Abbasiyah. Padahal Kekhallifahan Bani Abbasiyah dibangun atas prinsip mengumpulkan Ahlul Bait. Semua keluarga Abdul Muthalib (kakek Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) mendapatkan angin segar dengan Kekhallifahan Bani Abbasiyah.

Namun ada seorang penghianat orang Syiah, Nashiruddin At-Thusi yang membuka jalan lebar bagi pasukan Tar-Tar untuk membantai kaum muslilmin di Baghdad. Bukti pengkhianatan tokoh Syiah At-Thusi bisa Anda simak di:

Mungkin Anda balik bertanya, tidak semua keturunan Abdul Muthalib adalah Ahlul Bait. Yang namanya ahlul bait adalah keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja?

Pertanyaan ini sungguh aneh, bukankah orang Syiah memasukkan Ali bin Abi Thalib termasuk Ahlul Bait? Padahal beliau radhiallallahu ‘anhu bukan keturunan Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi beliau adalah anaknya Abu Thalib, paman Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam.

D. Mohon dibaca dengan seksama artikel di gensyiah.com

E. Ahlul bait punya keutamaan, tapi apakah boleh kita kultuskan?? Ini butuh perenungan tambahan.

F. Ahlussunah menerima semua jalur hadis, baik dari ahlul bait maupun bukan ahlul bait. Karena syarat diterimanya berita adalah kejujuran dan kekuatan hafalan, bukan ahlul bait. Jika hanya hadis dari ahlul bait yang bisa diterima, tentu akan meninggalkan pertanyaan besar. Barapa jumlah sahabat yang menjadi ahlul bait? Apakah semua hadis ada pada ahlul bait? Tentu semua orang akan menjawab, sahabat yang lain juga memiliki banyak hadis. Karena itu, sikap yang tepat adalah menerima semua jalur periwayatan hadis, selama jalur itu bisa dipertanggung jawabkan.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Iklan

Download Audio mp3 Dauroh Bojonegoro “Hukum Pergaulan Suami Istri” Bersama Al-Ustadz Abu Nashim Mukhtar ‘Iben’ Rifa’i Lafirlaz

Download Audio mp3 Dauroh Bojonegoro “Hukum Pergaulan Suami Istri” Bersama Al-Ustadz Abu Nashim Mukhtar ‘Iben’ Rifa’i Lafirlaz

 

Download rekaman Dauroh Bojonegoro “Hukum Pergaulan Suami Istri: Hak-Hak Suami kepada Istri, Hak-Hak Istri kepada Suami, serta Hukum-Hukum Ta’addud” bersama Al-Ustadz Abu Nashim Mukhtar –hafizhahullaah– (pengajar Ma’had Darussalaf, Sukoharjo) pada hari Ahad, 11 November 2012.

Untuk download file bisa dilakukan dengan klik kanan -> Save Link Asatau yang semisal. Untuk lebih mempermudah download, kami sarankan menggunakan software download manager seperti FDM, atau yang semisal.

No Nama Kajian Ukuran (MB)
1
Sesi 1
18
2
Sesi 2
9.5

dari Radio Bismillah Surabaya yang telah dipindahkan ke iLmoe.

Bekerjasama dengan:
iLmoe Kajian CeramahHomepage Pribadi Rizky Abu Salman Al-Magetaniy

Download Audio Mp3: Nikah dari A sampai Z “Syarat-Syarat Nikah” oleh Ust. Ahmad Sabiq, Lc

DOWNLOAD

Faidah yang bisa dipetik dari ceramah

1. Kriteria Istri yang Ideal, yang diutamakan adalah yang bagus agamanya. Salah satu ciri wanita yang sholihah adalah seorang istri yang dia mampu menyenangkan suaminya ketika memandangnya, mentaati suaminya jika diperintah, dan tidak menyelisihi suaminya jika suaminya tidak senang terhadap sesuatu.

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya (keislamannya), sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)

2. Kriteria yang kedua adalah pilihlah wanita yang masih gadis. 

“Menikahlah dengan gadis, sebab mulut mereka lebih jernih, rahimnya lebih cepat hamil, dan lebih rela pada pemberian yang sedikit.”(HR. Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al Albani).

Namun tidak mengapa menikah dengan seorang janda jika melihat maslahat yang besar. Seperti  sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu yang menikah dengan janda karena ia memiliki 8 orang adik yang masih kecil sehingga membutuhkan istri yang pandai merawat anak kecil, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyetujuinya (HR. Bukhari-Muslim)

3. Kriteria yang ketiga adalah pilihlah wanita yang subur yang diperkirakan akan bisa memiliki banyak anak dan yang keempat adalah wanita yang penyayang.

“Nikahilah wanita yang penyayang dan subur! Karena aku berbangga dengan banyaknya ummatku.” (HR. An Nasa’I, Abu Dawud. Dihasankan oleh Al Albani dalam Misykatul Mashabih)

4. Kriteria yang keempat adalah pilihlah wanita yang berasal dari keluarga yang baik, bukan dari keluarga gembong penjahat, koruptor,penjudi/ pemabok, dll.

5. Salah satu kriteria juga, walaupun bukan kriteria utama, adalah hendaknya memilih calon suami atau istri yang derajat sosialnya tidak terlalu jauh.

Hal ini diisyaratkan oleh kisah Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dinikahkan dengan Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha. Zainab adalah wanitaterpandang dan cantik, sedangkan Zaid adalah lelaki miskin yang tidak tampan. Namun siapa diantara para lelaki zaman ini yang lebih memiliki kesholehan dan keutamaan melebihi Zaid bin Haritsah??, dan siapa wanita zaman ini yang memiliki kesholehahan dan keutamaan melebihi Zainab binti Jahsy??. Walaupun demikian, pernikahan mereka pun tidak berlangsung lama dikarenakan status sosial yang terlalu jauh.

6. Ketika dihadapkan kepada pilihan yang sama-sama agamanya bagus, maka yang lebih menjadi prioritas selanjutnya adalah tentang kecantikannya, di bandingkan dengan kriteria kekayaan atau keturunan orang terpandang. Sebagaimana pendapat Ibnul Qayyim al Jauzi dan Syaikh Ibnu Utsaimin.

7. Kriteria suami ideal juga tidak jauh beda dengan kriteria istri ideal. Yaitu yang bagus agamanya.

8. Tidak ada larangan secara syar’i diharamkannya menikah dengan kerabat dekat, adapun hadits yang melarangnya adalah hadits lemah. Juga dengan perbuatan Nabi, yaitu menikahkan Ali bin Abi Tholib radliyallahu’anhu dengan Fatimah radliyallahu’anha yang masih kerabat dekat.

9. Lalu bagaimana cara mencari jodoh kita? Pacaran haram hukumnya dalam Islam, sudah jelas akan banyak menimbulkan kemaksiatan didalamnya ketika berjumpa, memandang, pegangan tangan, bahkan sampai saling mencumbu. Wa ‘iyyadzu billah…..Cara yang lain adalah bisa dengan meminta bantuan kepada kawan, kerabat atau keluarga agar dicarikan jodoh, boleh juga menawarkan adiknya, anak gadisnya, kepada seorang laki-laki yang dianggap sholeh. Seorang wanita juga boleh menawarkan dirinya sendiri kepada seorang laki-laki yang sholeh.

10. Disyariatkannya Melihat calon pasangan/ nazhor dan perinciannya.

11. Disyariatkannya melamar/khitbah dengan adab dan perinciannya yang dijelaskan.

12. Syarat Akad nikah yang pertama adalah menikah haruslah dengan orang yang bukan mahrom atau haram nikah dengannya.Terlarang menikah dengan mahrom tersebut sebagaimana dalam Q.S An-Nisa :22-24.

Mahrom dibagi menjadi tiga: [1] Karena nasab/ darah keluarga, [2] Karena ikatan perkawinan, [3] Karena persusuan. Ketiga jalur ini adalah mahrom selama-lamanya (mahrom muabbad).

[1] Mahrom karena nasab ada tujuh wanita:

Pertama: Ibu.

Yang termasuk di sini adalah ibu kandungnya, ibu dari ayahnya, dan neneknya (dari jalan laki-laki atau perempuan) ke atas.

Kedua: Anak kandung perempuan.

Yang termasuk di sini adalah anak kandung perempuannya, cucu perempuannya dan terus ke bawah.

Ketiga: Saudara kandung perempuan.

Keempat: Bibi dari jalur ayah (‘ammaat)

Yang dimaksud di sini adalah saudara perempuan dari ayahnya ke atas. Termasuk di dalamnya adalah bibi dari ayahnya atau bibi dari ibunya.

Kelima: Bibi dari jalur ibu (khollaat)

Yang dimaksud di sini adalah saudara perempuan dari ibu ke atas. Termasuk di dalamnya adalah saudara perempuan dari ibu ayahnya.

Keenam dan ketujuh: Anak perempuan dari saudara laki-laki dan saudara perempuan (keponakan).

Yang dimaksud di sini adalah anak perempuan dari saudara laki-laki atau saudara perempuannya, dan ini terus ke bawah. Adapun sepupu/misanan, maka ini bukanlah mahrom, dan halal jika memang kingin menikahinya. Dan adab-adab dengan bukan mahrom pun juga perlu diterapkan kepada sepupu kita tersebut.

[2] Mahrom karena ikatan perkawinan ada empat wanita:

Pertama: Istri dari ayah (Ibu tiri).

Kedua: Ibu dari istri (ibu mertua). Ibu mertua ini menjadi mahrom selamanya (muabbad) dengan hanya sekedar akad nikah dengan anaknya (tanpa mesti anaknya disetubuhi), menurut mayoritas ulama. Yang termasuk di dalamnya adalah ibu dari ibu mertua dan ibu dari ayah mertua.

Ketiga: Anak perempuan dari istri (Anak tiri). Ia bisa jadi mahrom dengan syarat si laki-laki telah menyetubuhi ibunya. Jika hanya sekedar akad dengan ibunya namun belum sempat disetubuhi, maka boleh menikahi anak perempuannya tadi. Patokannya apakah telah jima’ atau belum adalah jika suami-istri telah bertemu dan masuk ke dalam kamar, pintu dan jendela ditutup, lampu dimatikan, mati itu dikatakan telah jima’. Wallahua’lam. Yang termasuk mahrom juga adalah anak perempuan dari anak perempuan dari istri dan anak perempuan dari anak laki-laki dari istri.

Keempat: Istri dari anak laki-laki (menantu). Yang termasuk mahrom juga adalah istri dari anak persusuan.

[3] Mahrom karena persusuan:

  • Wanita yang menyusui dan ibunya.
  • Anak perempuan dari wanita yang menyusui (saudara persusuan).
  • Saudara perempuan dari wanita yang menyusui (bibi persusuan).
  • Anak perempuan dari anak perempuan dari wanita yang menysusui (anak dari saudara persusuan).
  • Ibu dari suami dari wanita yang menyusui.
  • Saudara perempuan dari suami dari wanita yang menyusui.
  • Anak perempuan dari anak laki-laki dari wanita yang menyusui (anak dari saudara persusuan).
  • Anak perempuan dari suami dari wanita yang menyusui.
  • Istri lain dari suami dari wanita yang menyesui.

Adapun jumlah persusuan yang menyebabkan mahrom adalah lima persusuan atau lebih. Dan patokan satu kali susuan adalah jika bayi menyusui sampai puas dan sampai dilepas sendiri karena kenyang atau sampai tertidur. Jika dilepas karena misalnya ada hajat dari ibu susuan maka ini belum dihitung satu kali. Dan umur bayi ketika masih 0-2 tahun.

13. Adapun mahrom yang sifatnya sementara adalah:

Pertama: Saudara perempuan dari istri (ipar).

Kedua: Bibi (dari jalur ayah atau ibu) dari istri.

Ketiga: Istri yang telah bersuami dan istri orang kafir jika ia masuk Islam.

Keempat: Wanita yang telah ditalak tiga, maka ia tidak boleh dinikahi oleh suaminya yang dulu sampai ia menjadi istri dari laki-laki lain.

Kelima: Wanita musyrik sampai ia masuk Islam.

Keenam: Wanita pezina sampai ia bertaubat dan melakukan istibro’ (pembuktian kosongnya rahim).

Ketujuh: Wanita yang sedang ihrom sampai ia tahallul.

14. Syarat yang kedua dalam Akad adalah adanya Wali yang menikahkannya. Wali adalah keluarga dari jalur laki-laki, (secara berurutan) yang pertama adalah bapak, kemudian bapaknya bapak (kakek), kemudian anak (masih diperselisihkan Ulama), kemudian saudara kandung laki-laki, kemudian saudara sebapak, kemudian anak laki-laki dari saudara kandung, kemudian anak laki-laki dari saudara sebapak, kemudian paman (saudara kandung bapak), kemudian anak laki-laki dari paman, kemudian cucunya paman, jika tidak punya keluarga maka walinya adalah wali sulthon, jika dalam negeri ini adalah wali di KUA. Dan Wali pun juga bisa diwakilkan sekalipun wali dari keluarganya masih ada.

15. Syarat yang ketiga adalah adanya Saksi, yaitu dua orang laki-laki.

16. Syarat yang keempat adalah adanya calon mempelai atau yang mewakilinya. Boleh nikahnya dengan diwakilkan dengan lafadz akad nikah yang menyesuaikan.

Tanya Jawab, simak jawabannya dalam ceramah:

1. Bagaimanakah hukumnya jika menikah seorang wanita dalam keadaan hamil? dan bagaimana konsekwensi hukumnya terhadap kejadian seperti ini?

2. Bagaimanakah status anak hasil perzinaan?

3. Bagaimanakah jika ada seorang wanita yang ditakdirkan oleh Allah menjadi mandul? bukankah kasihan jika hal tersebut menjadi kriteria, karena mereka juga ingin berkeluarga dan juga ingin punya anak?

4. Bagaimanakah adab nazhor, apakah harus ditemani mahrom atau murobbi?

5. Bagaimanakah hukumnya jika mengangkat wali nikah dari bapak angkat?

6. Bagaimana jika sudah terlanjur melakukan pernikahan tanpa wali, padahal kedua orang tua calon mempelai juga sudah sama-sama ridlo?

Sumber : maramissetiawan.wordpress.com

Saksi dan Wali dalam Nikah

saksi_wali_nikah

Melanjutkan pembahasan sebelumnya mengenai fikih nikah. Saat ini kita memasuki serial ketiga dari pembahasan Al Qodhi Ahmad bin Husain Al Ashfahaniy Asy Syafi’i dalam kitab matan Al Ghoyah wat Taqrib (matan Abi Syuja). Yang dibahas kali ini adalah mengenai syarat nikah yang mesti terdapat wali dan saksi.

Abu Syuja’ rahimahullah berkata,

Akad nikah tidaklah sah melainkan dengan wali dan dua saksi yang ‘adel (bukan orang fasik)[1]. Wali dan dua saksi tadi harus memenuhi 6 syarat:

  1. Islam[2]
  2. Baligh (dewasa)[3]
  3. Berakal[4]
  4. Merdeka (bukan hamba sahaya)
  5. Laki-laki [5]
  6. ‘Adel (bukan orang yang fasik)

Namun tidak perlu sampai mengislamakan si wali jika wanitanya adalah wanita dzimmi[6] (dari ahli kitab)[7]. Dan tidak perlu menyaratkan sifat ‘adel pada tuan dari hamba sahaya yang ingin dinikahi.

Urutan wali nikah[8]:

  1. Ayah
  2. Kakek (ayah dari ayah)
  3. Saudara laki-laki kandung
  4. Saudara laki-laki seayah
  5. Anak dari saudara laki-laki kandung (keponakan)
  6. Anak dari saudara laki-laki seayah (keponakan)
  7. Paman (saudara ayah)
  8. Anak dari paman (sepupu)

Jika ‘ashobah di atas tidak ada, maka perwalian beralih pada bekas hamba sahaya yang pernah dibebaskan, lalu ashobah dari hamba sahaya tadi. Jika tidak ada, barulah beralih pada wali hakim[9].

Demikian penjelasan Abu Syuja’ pada kesempatan kali ini. Selanjutnya akan berlanjut pada pembahasan khitbah (lamaran). Moga Allah mudahkan untuk membahasnya.

Wallahu waliyyut taufiq.

 

@ Pesantren Darush Sholihin, Warak-Girisekar, Panggang-GK, 6 Syawal 1433 H

Disalin dari artikel Muhammad Abduh Tuasikal untuk blog Abu Abdurrohman

 


[1] Dalil bahwasanya nikah mesti dengan wali dan dua orang saksi adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لا نكاح إلا بولي وشاهدي عدل

Tidak ada nikah kecuali dengan wali dan dua orang saksi”. (HR. Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya. Ibnu Hibban berkata bahwasanya tidak shahih penyebutan dua orang saksi kecuali dalam hadits ini) (Lihat Tuhfatul Labiib, 2: 747). Imam Asy Syafi’irahimahullah berkata, “Walaupun hadits ini munqothi’ (terputus) hanya sampai di bawah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun kebanyakan para ulama mengamalkan hadits tersebut. Mereka berkata bahwa inilah bedanya antara nikah dan sesuatu yang hanya main-main yaitu dengan adanya saksi.” At Tirmidzi berkata, “Hadits ini diamalkan oleh para ulama dari sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para tabi’in sesudahnya dan selain mereka. Mereka berpendapat bahwa tidak ada nikah kecuali dengan adanya saksi. Tidak ada ulama terdahulu yang berselisih pendapat mengenai hal ini kecuali sebagian ulama belakangan yang berbeda.” (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 3: 149).

Syaikh Abu Malik berkata bahwa hadits yang membicarakan hal ini saling menguatkan satu dan lainnya. Jika dikatakan “tidak ada nikah”, maka itu menunjukkan bahwa adanya saksi merupakan syarat sahnya nikah. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 3: 150)

Syaikh Musthofa Al Bugho berkata, “Persaksian merupakan rukun di antara rukun akad nikah, berbeda dengan akad lainnya karena begitu agungnya dan konsekuensi besar yang ditimbulkan dari akad tersebut. Rukun ini mesti ada demi kehati-hatian dan menghindari pengingkaran. Konsekuensinya pun bisa berakibat pada pelalaian hak-hak dan nasab.” (Lihat At Tadzhib, 177)

[2] Tidak boleh non muslim menjadi wali atau menjadi saksi bagi orang muslim. Dalilnya,

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi wali (penolong) bagi sebahagian yang lain.” (QS. At Taubah: 71). Jadi wali hanyalah dari orang-orang beriman.

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa’: 141). Jadi tidak ada kekuasaan (sulthon) dan kuasa (perwalian) bagi orang kafir. Saksi termasuk perwalian. Sehingga tidak diterima persaksian non muslim bagi orang muslim.

[3] Anak kecil tidak bisa menjadi wali atau saksi (Lihat Kifayatul Akhyar, 2: 75)

[4] Orang gila tidak menjadi wali atau saksi (Lihat Kifayatul Akhyar, 2: 75)

[5] Tidak sah wanita menjadi wali untuk wanita (Lihat Kifayatul Akhyar, 2: 76).  Dalilnya,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ لاَ تُزَوِّجُ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ وَلاَ تُزَوِّجُ الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا وَالزَّانِيَةُ الَّتِى تُنْكِحُ نَفْسَهَا بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Wanita tidak bisa menjadi wali wanita. Dan tidak bisa pula wanita menikahkan dirinya sendiri. Wanita pezina-lah yang menikahkan dirinya sendiri.” (HR. Ad Daruquthni, 3: 227. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dan Syaikh Ahmad Syakir)

[6] Kafir dzimmi yaitu orang kafir yang tinggal di negeri kaum muslimin dan sebagai gantinya mereka mengeluarkan jizyah (semacam upeti) sebagai kompensasi perlindungan kaum muslimin terhadap mereka.

[7] Imam Syafi’i berkata, “Walinya wanita kafir adalah laki-laki kafir. Karena laki-laki kafir tersebut memperhatikan harta anaknya, maka demikian dalam urusan nikah.” (Lihat Tuhfatul Labiib, 2: 749)

[8] Asalnya, tidak boleh wali yang berada dalam urutan terjauh menjadi wali selama masih ada yang dekat dalam urutan. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 3: 144)

[9] Jika tidak ada wali dari ashobah dan bekas budak, barulah beralih pada wali hakim, yaitu penguasa. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهُ

Penguasa adalah wali bagi wanita yang tidak memiliki wali” (HR. Abu Daud no. 2083, Tirmidzi no. 1102, Ibnu Majah no. 1879 dan Ahmad 6: 66. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Tips Membuang Pikiran Kotor

Dijawab oleh Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum,
Ustadz, saya ingin bertanya: Bagaimana caranya untuk menghilangkan pikiran kotor? karena hal itu membuat saya tidak bisa konsentrasi dalam belajar. Apakah saya harus diruqyah? dan apakah saya harus segera menikah? terima kasih. Wassalamu’alaikum.

Dian

Jawaban Ustadz:

‘Alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,
Cara untuk menghilangkan pikiran kotor dapat dilakukan dengan beberapa hal
berikut:

Pertama,
Menjauhi segala sebab yang dapat menimbulkan hal tersebut seperti menonton film, membaca cerita porno atau berita tentang terjadinya pemerkosaan, begitu juga melihat gambar porno, serta menjaga pandangan dari melihat wanita (apa lagi di negeri kita porno aksi sebagai santapan yang biasa dinikmati), semoga Allah melindungi kita dari fitnah wanita dan fitnah dunia.

Kedua,
Mengambil pelajaran dari kisah para nabi atau orang sholeh yang mampu menjaga diri ketika dihadapkan kepada fitnah wanita, seperti kisah nabi Yusuf ‘alaihissalam, betapa beliau saat digoda oleh wanita yang bangsawan lagi cantik, tapi hal itu tidak mampu menebus tembok keimanan beliau, bahkan beliau memilih untuk ditahan dari pada terjerumus ke dalam maksiat.

Ketiga,
Ingat akan besarnya pahala diri di sisi Allah yang dijanjikan bagi orang yang mampu menjaga kehormatan diri sebagaimana yang disebutkan dalam hadits tujuh golongan yang akan mendapat naungan dari Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan Allah disebutkan di antaranya adalah seorang pemuda yang diajak untuk melakukan zina oleh seorang wanita cantik lagi bangsawan, anak muda itu menjawab: “Aku takut pada Allah”. Di samping mengingat tentang balasan yang akan diterimanya dalam surga yaitu bidadari yang senyumnya berkilau bagaikan cahaya, silakan baca bagaimana kecantikan bidadari yang diceritakan Allah dalam Al Quran.

Keempat,
Ingat betapa besarnya azab yang akan diterima bagi orang yang melakukan zina silakan baca ayat-ayat dan hadits-hadits yang mengharamkan zina, seperti yang disebutkan dalam hadits bawa para pezina akan diazab dalam gerbong yang berbentuk kerucut, yang arah kuncupnya ke atas di bawahnya dinyalakan api bergelora dan membara, mereka melayang-layang dalam gerbong yang berbentuk kerucut tersebut karena disembur api dari bawah, tapi tidak bisa keluar karena lobang atas gerbong itu sangat kecil. Mereka berteriak dan memekik sekuat-kuatnya, sehingga pekik satu sama lainnya pun menyiksa. Semoga Allah menjauhkan kita dari api neraka.

Kelima,
Menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat, jangan banyak menyendiri dan berkhayal. Di samping selalu berdoa kepada Allah supaya dihindarkan dari berbagai maksiat.

Keenam,
Bila memiliki kemampuan untuk berkeluarga ini adalah jalan yang paling terbaik yang dianjurkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, bila tidak mampu maka usahakan berpuasa Senin Kamis, wallahu a’lam.

***

Artikel www.konsultasisyariah.com dan dipublikasikan ulang olehwww.salafiyunpad.wordpress.com dan blog Abu Abdurrohman