Siapa Saja Yang Termasuk Ahlul Bait Menurut Ahlussunnah ?

Siapa Saja Yang Termasuk Ahlul Bait Menurut Ahlussunnah ?

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum. Siapa sajakah yang termasuk ahlul bait, menurut pandangan Ahlus Sunnah wal Jamaah? Syukron

Dari: Muhammad al Fatih Malie

Jawaban:
Wa’alaikumussalam
Dalam kitab Syarh Ta’limul Muta’allim -salah satu kitab yang menjadi kurikulum di berbagai pesantren NU- karya Syaikh Ibrahim bin Ismail -salah seorang ulama Madzhab Syafi’i-, ketika beliau menjelaskan lafadz shalawat:

والصلاة على محمد سيد العرب والعجم وعلى آله وأصحابه

Semoga shalawat tercurah kepada Muhammad, pemimpin masyarakat Arab dan non-Arab, beserta keluarganya dan para sahabatnya.

Beliau mengatakan,

وآله من جهة النسب أولاد علي وعباس وجعفر وعقيل وحارث بن عبد المطلب

“Keluarga Nabi dari sisi nasab adalah keturunan Ali, Abbas, Ja’far, Aqil (putra Abu Thalib), dan Haris bin Abdul Muthalib.” (Syarh Ta’limul Muta’allim, Hal. 3)

Kemudian, termasuk ahlul bait berdasarkan dalil Alquran, adalah para istri Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalil tegas yang menunjukkan bahwa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk keluarganya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا (32) وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu gemulai dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit (nafsu) dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 32-33)

Siapakah Ahlul Bait dalam Ayat Ini?

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu mengatakan,

قوله: { إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ } قال: نزلت في نساء النبي صلى الله عليه وسلم خاصة.

“Firman Allah di atas turun khusus terkait para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6:410)

Ikrimah rahimahullah (salah satu ahli tafsir murid Ibnu Abbas) mengatakan,

من شاء باهلته أنها نزلت في أزواج النبي صلى الله عليه وسلم

“Siapa yang ingin mengetahui ahlul bait beliau, sesungguhnya ayat ini turun tentang para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6:411)

Kenyataan di atas sangat berseberangan dengan dogma Syiah. Mereka sangat mengkultuskan keluarga Ali, namun membenci para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdan keturunan Abbas bin Abdul Muthalib. Bukti bahwa mereka sangat membenci istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah doa buruk mereka bahwa para istri beliau, terutama Aisyah dan Hafshah, kekal di neraka. Ceramah yang berjudul Itsbat anna ‘Aisyah Kholidatun fi An-Nar (Sebuah Kepastian bahwasanya Aisyah Seorang Wanita yang Kekal di Neraka) oleh Yasir Al-Habib (ulama Syiah), bisa Anda saksikan di video berikut:

Pengakuan Syiah bahwa mereka mencintai ahlul bait, kelompok yang berpihak kepada ahlul bait adalah klaim dusta. Justru merekalah orang yang membenci ahlul bait. Hanya saja, karena kultus mereka kepada keturunan Ali bin Abi Thalib, banyak masyarakat yang tertipu dengan klaim mereka.

Hanya kepada Allah kita meminta pertolongan.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Iklan

Syiah Mencintai Ahlul Bait? Ahlussunnah Menolak Hadits Dari Ahlul Bait?

Syiah Mencintai Ahlul Bait? Ahlussunnah Menolak Hadits Dari Ahlul Bait?

Pertanyaan:

Saya tertarik dengan ajaran Syiah. Saya banyak membaca buku tentang Syiah, Syiah mencintai ahlul bait, ahlul bait itu adalah keluarga rasul. Semua hadis-hadisnya berasal dari ahlul bait. Yang saya tanyakan mengapa Ahlussunah menolak semua hadis-hadis Syiah yang berasal dari keluarga rasul atau ahlul bait tanpa dikaji sedikit pun?

Dari: Thaherem

Jawaban:

Bismillah

Alahmdulillah, shalwat dan salam semoga tercucah kepada Rasulullah, dan ahlul baitnya, serta semua orang yang mengikuti beliau.

Terkait masalah ini, kami perlu menegaskan bahwa tidak ada satu pun Ahlussunah, baik ulamanya maupun orang awamnya yang membenci ahlul bait. Bahkan mereka sangat mencintai ahlul bait. Justru kami meragukan klaim Syiah yang mencintai ahlul bait, karena beberapa hal:

A. Ahlu bait adalah semua keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukankah istri-istri beliau termasuk keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Tapi anehnya, Syiah mencela habis-habisan Aisyah dan Hafshah radhiallahu’anhuma. Berita tentang ini, bisa Anda saksikan di youtube dan berbagai literatur Syiah. Bahkan mereka menegaskan bahwa Aisyah kekal di neraka. Silahkan Anda lihat ceramah dari salah seorang ulama Syiah, Yasir Al-Habib

Dalil tegas yang menunjukkan bahwa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk keluarganya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا (32) وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu gemulai dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit (nafsu) dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai ahlul baitdan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 32-33)

Siapakah Ahlul bait dalam ayat ini?

Ibnu Abbas mengatakan,

قوله: { إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ } قال: نزلت في نساء النبي صلى الله عليه وسلم خاصة.

“Firman Allah di atas turun khusus terkait para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6:410)

Ikrimah (salah satu Ahli tafsir murid Ibnu Abbas) mengatakan,

من شاء باهلته أنها نزلت في أزواج النبي صلى الله عليه وسلم

“Siapa yang ingin mengetahui ahlul bait beliau, sesungguhnya ayat ini turun tentang para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6:411)

B. Mereka sangat mengagungkan Abu Lukluk al-Majusi, yang mereka gelari dengan Baba Syuja’. Kuburannya dibangun megah dst. Silahkan anda lihat di:

Padahal setiap muslim, baik ahlul bait maupun bukan, sepakat bahwa Abu Lu’lu’ adalah orang kafir, termasuk Ali bin Abi Thalib radhiallallahu ‘anhu meyakini hal itu juga.

C. Mereka memberontak Bani Abbasiyah. Padahal Kekhallifahan Bani Abbasiyah dibangun atas prinsip mengumpulkan Ahlul Bait. Semua keluarga Abdul Muthalib (kakek Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) mendapatkan angin segar dengan Kekhallifahan Bani Abbasiyah.

Namun ada seorang penghianat orang Syiah, Nashiruddin At-Thusi yang membuka jalan lebar bagi pasukan Tar-Tar untuk membantai kaum muslilmin di Baghdad. Bukti pengkhianatan tokoh Syiah At-Thusi bisa Anda simak di:

Mungkin Anda balik bertanya, tidak semua keturunan Abdul Muthalib adalah Ahlul Bait. Yang namanya ahlul bait adalah keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja?

Pertanyaan ini sungguh aneh, bukankah orang Syiah memasukkan Ali bin Abi Thalib termasuk Ahlul Bait? Padahal beliau radhiallallahu ‘anhu bukan keturunan Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi beliau adalah anaknya Abu Thalib, paman Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam.

D. Mohon dibaca dengan seksama artikel di gensyiah.com

E. Ahlul bait punya keutamaan, tapi apakah boleh kita kultuskan?? Ini butuh perenungan tambahan.

F. Ahlussunah menerima semua jalur hadis, baik dari ahlul bait maupun bukan ahlul bait. Karena syarat diterimanya berita adalah kejujuran dan kekuatan hafalan, bukan ahlul bait. Jika hanya hadis dari ahlul bait yang bisa diterima, tentu akan meninggalkan pertanyaan besar. Barapa jumlah sahabat yang menjadi ahlul bait? Apakah semua hadis ada pada ahlul bait? Tentu semua orang akan menjawab, sahabat yang lain juga memiliki banyak hadis. Karena itu, sikap yang tepat adalah menerima semua jalur periwayatan hadis, selama jalur itu bisa dipertanggung jawabkan.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

Artikel www.KonsultasiSyariah.com

HADIRILAH..! InsyaAllah. TABLIGH AKBAR ISLAM di Makassar dengan tema :KECINTAAN KEPADA AHLUL BAIT: ANTARA SUNNI DAN SYI’AH Pemateri: Al-Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi

HADIRILAH..! InsyaAllah. TABLIGH AKBAR ISLAM di Makassar dengan tema :KECINTAAN KEPADA AHLUL BAIT: ANTARA SUNNI DAN SYI’AH Pemateri: Al-Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi 

HADIRILAH..! InsyaAllah.
TABLIGH AKBAR ISLAM di Makassar
dengan tema :KECINTAAN KEPADA AHLUL BAIT: ANTARA SUNNI DAN SYI’AH
Pemateri:
Al-Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi (Redaktur Ahli Jurnal Asy-Syifa)
Hari Kamis 8 Muharram 1434 H / 22 November 2012
Pukul: 12.30 – 15.00 WITA
di Masjid Al Markaz al Islami Jend M Yusuf, Kota Makassar, Sul-Sel.
disiarkan langsung di: www.dzulqarnain.net dan www.an-nashihah.com

Sekilas Tentang Rafidhah dan Pendirinya

Sekilas Tentang Rafidhah dan Pendirinya

Oleh : Abu Bakr ‘Abdurrazzaq bin Shalih bin ‘Ali An-Nahmiy

Mengapa Mereka Dinamakan dengan Rafidhah ?

Mereka dinamakan dengan Rafidlah (kaum yang meninggalkan) karena mereka meninggalkan Zaid bin ‘Ali, ketika mereka meminta beliau untuk menyatakan putus hubungan dengan Abu Bakar dan ‘Umar, tetapi beliau justru mendoakan rahmat untuk mereka berdua. Maka mereka mengatakan,”Jika demikian, kami akan meninggalkanmu”. Maka beliau (Zaid bin ‘Ali) berkata,”Pergilah ! Sesungguhnya kalian adalah Rafidlah (orang-orang yang meninggalkan)”.

Adz-Dzahabi berkata dalam Siyaru A’laamin-Nubalaa’ (5/390) bahwa ‘Isa bin Yunus berkata,”Orang-orang Rafidlah datang menemui Zaid, lantas mereka berkata : ‘Buatlah pernyataan putus hubungan dengan Abu Bakar dan ‘Umar sehingga kami membantumu’. Maka beliau menanggapi : ‘Bahkan aku loyal kepada mereka berdua’. Mereka pun berkata : ‘Jika demikian, maka kami meninggalkanmu’. Dari situlah mereka dikatakan Rafidlah”.

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Majmu’ Fataawaa (4/435) : “Dikatakan kepada Al-Imam Ahmad : ‘Siapa itu Rafidlah ?’. Beliau menjawab : ‘Orang yang mencela Abu Bakar dan ‘Umar’. Karena alasan inilah mereka dinamakan Rafidlah. Sebab, mereka meninggalkan Zaid bin ‘Ali ketika beliau loyal kepada kedua khalifah tersebut sedangkan mereka benci kepada keduanya. Sehingga orang yang membenci mereka berdua dinamakan Rafidlah”.

Ada yang berkata bahwa mereka dinamakan Rafidlah sebab mereka meninggalkan Abu Bakar dan ‘Umar.

Pencetus Pertama Faham/Agama Syi’ah Rafidhah

Orang pertama yang mencetuskan paham Rafidlah adalah ‘Abdullah bin Saba’ Al-Yahud dari kalangan Yahudi Yaman. Dia menampakkan keislaman, kemudian datang ke Madinah pada masa khalifah yang lurus, ‘Utsman bin ‘Affan radliyallaahu ‘anhu.

Ibnu Taimiyyah juga berkata pada sumber yang lalu,”Asal-usul Rafidlah dari kalangan munafiq dan zindiq. Rafidlah itu dibuat oleh Ibnu Saba’ yang zindiq. Dia menampakkan sikap ekstrim mendukung ’Ali dengan propaganda bahwa ’Ali lebih berhak untuk kepemimpinan dan ada wasiat bagi ’Ali”.

Beliau juga berkata pada (28/483),”Para ulama menyebutkan bahwa permulaan paham Rafidlah adalah dari seorang zindiq bernama ’Abdullah bin Saba’. Dia menampakkan keislaman dan menyembunyikan agama Yahudinya. Dia ingin merusak Islam sebagaimana yang dilakukan Paulus An-Nashraniy yang dahulunya Yahudi ketika merusak agama Nashrani”.

Ibnu Abil-’Izz Al-Hanafiy berkata dalam Syarh Ath-Thahawiyyah hal. 490 dengan tahqiq Al-Albani,”Asal mula paham Rafidlah dimunculkan oleh seorang munafiq lagi zindiq yang bermaksud meruntuhkan agama Islam dan mencela Rasul shallallaahu ’alaihi wasallam sebagaimana disebutkan para ulama. Karena ’Abdullah bin Saba’ si Yahudi ketika menampakkan Islam, dia hanya ingin merusak Islam dengan tipu daya dan keburukannya, sebagaimana dilakukan Paulus terhadap agama Nashrani. Dia berpenampilan orang yang rajin beribadah, kemudian dia perlihatkan amar ma’ruf nahi munkart sampai akhirnya dia berupaya memfitnah ’Utsman dan membunuhnya. Kemudian ketika datang ke Kuffah, dia menampakkan sikap ekstrim terhadap ’Ali dan pembelaan kepadanya agar dengan itu ia mampu untuk mencapai tujuan-tujuannya. Berita itu akhirnya sampai kepada ’Ali, maka ’Ali bermaksud membunuhnya sehingga dia melarikan diri darinya menuju Qarqis. Dan berita tentangnya sudah sangat dikenal dalam sejarah. Buku-buku sejarah menyebutkan bahwa Ibnu Saba’ dulunya seorang Yahudi kemudian dia tampakkan keislamannya padahal dia seorang munafiq zindiq”.

Ath-Thabari telah menyebutkannya dalam At-Taarikh (4/430) bahwa Ibnu Saba’ dahulunya seorang Yahudi dari penduduk Shan’a.

Ibnul-Atsir berkata dalam Al-Kamiil (3/77) : ”Abdullah bin Saba’ si Yahudi dulunya seorang Yahudi dari penduduk Shan’a dan ibunya adalah Sauda’ ”.

Ath-Thabariy menyebutkan dalam sejarah kejadian-kejadian di tahun 30 H bahwa Ibnu Saba’ mendatangi Abu Darda’. Maka Abu Darda’ berkata kepadanya,”Siapa kamu ini ? Aku mengira kamu ini – demi Allah – seorang Yahudi !”.

Aku (yaitu Penulis – Abu Bakr ’Abdurrazzaq bin Shalih An-Nahmiy) berkata,”Sehingga ’Abdullah bin Saba’ itu hanyalah seorang Yahudi yang berkedok Islam. Asy-Syahrastani berkata dalam Al-Milal wan-Nihal (1/204) cet. Daarul-Ma’rifah : ’Saba’iyyah adalah para pengikut ’Abdullah bin Saba’ yang berkata kepada ’Ali : ’Kamulah, kamulah !’. Maksudnya,’Kamu adalah Tuhan’. Maka ’Ali kemudian mengusirnya ke Al-Madain”.

Orang-orang menyangka bahwa dia dulunya seorang Yahudi lantas masuk Islam. Ketika beragama Yahudi dia mengatakan bahwa Yusya’ bin Nun berwasiat kepada Musa ’alaihis-salaam seperti yang dikatakannya tentang ’Ali, dialah orang pertama yang memunculkan pernyataan adanya wasiat tentang kepemimpinan ’Ali radliyallaahu ’anhu dan dari situlah bercabang berbagai sikap berlebihan (ghulluw). Dia meyakni bahwa ’Ali terus hidup dan tidak akan mati, padanya terdapat sifat ketuhanan, dan beliau tidak boleh menjadi bawahan. Beliaulah yang datang dari awan, halilintar adalah suaranya, kilatan petir adalah senyumannya. Beliau nanti akan turun ke bumi lantas memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi dengan kedhaliman. Ibnu Saba’ menampakkan ucapan ini setelah wafatnya ’Ali radliyallaahu ’anhu dan adanya sejumlah orang yang berhimpun mendukungnya. Merekalah kelompok pertama yang menyatakan tawaqquf, ghaib, dan akan kembalinya ’Ali. Mereka juga menyatakan menjelmanya sebagian sifat ketuhanan pada para imam setelah ’Ali radliyallaahu ’anhu.

Dia (’Abdullah bin Saba’) berkata,”Makna seperti ini sebenarnya juga diketahui oleh para shahabat, sekalipun mereka berseberangan dengan keinginannya (’Ali). Ini ’Umar bin Khaththab, ketika ’Ali mencungkil mata seseorang dengan benda tajam di tanah suci, dilaporkan kepadanya (’Umar) dan ia berkomentar,’Apa yang sanggup aku katakan terhadap tangan Allah yang telah mencungkil mata di tanah suci milik Allah ?’. Jadi ’Umar memberikan baginya sebutan ketuhanan karena memang ’Umar mengetahui sifat itu pada diri ’Ali”.

Biografi Abdullah bin Saba’ dalam Kitab Ulama Ahlussunnah

Berikut ini adalah biografi ’Abdullah bin Saba’ si Yahudi dalam kitab Mizaanul-I’tidaal karya Adz-Dzahabi dan Lisaanul-Miizaan karya Ibnu Hajar.

Al-Hafidh Adz-Dzahabi berkata,”Abdullah bin Saba’ termasuk orang-orang zindiq yang paling ekstrim, sesat, dan menyesatkan. Aku mengira ’Ali yang membakarnya dengan api. Al-Jauzajani berkata : ’Dia meyakini bahwa Al-Qur’an itu hanya satu bagian dari sembilan bagian yang ilmunya ada pada ’Ali. ’Ali mengusirnya setelah bertekad melakukannya”.

Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Lisaanul-Miizaan (29/30) :

”Ibnu ’Asakir berkata dalam Tarikh-nya : ’Asalnya dari Yaman, dulunya dia seorang Yahudi kemudian dia menampakkan kesialaman. Kemudian dia berkeliling ke negeri-negeri muslimin untuk memalingkan mereka dari ketaatan kepada penguasa dan menyusupkan keburukan di tengah-tengah mereka. Dia memasuki kota Damaskus untuk tujuan tadi pada masa ’Utsman’.

Kemudian dia (Ibnu ’Asakir) meriwayatkan dari jalan Saif bin ’Umar At-Tamimi dalam Al-Futuhdengan kisah yang panjang, tetapi sanadnya tidak benar. Juga dari jalan Ibnu Abi Khaitsamah, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ’Abbad, ia berkata : Telah menceritakan hadits kepada kami Sufyan, dari ’Ammar Ad-Duhni, ia mengatakan : Aku mendengar Abu Ath-Thufail berkata :

رأيت المسيب بن نجبة أتى به دخل على المنبر فقال ما شأنه فقال يكذب على الله وعلى رسوله

Aku melihat Al-Musayyib bin Najbah datang menyeretnya (yaitu Ibnu Saba’), sementara ’Ali sedang berada di atas mimbar. Lantas beliau (’Ali) berkata,”Ada apa dengannya ?”. Al-Musayyib berkata,”Dia berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya”. [1]

Beliau (Ibnu ’Asakir) juga berkata : Telah menceritakan kepada kami ’Umar bin Marzuq, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Salamah bin Kuhail, dari Zaid bin Wahb, dia berkata : ’Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ta’ala ’anhu berkata,

ما لي ولهذا الخبيث الأسود يعني عبد الله بن سبأ كان يقع في أبي بكر وعمر رضى الله تعالى عنهما

”Apa urusanku dengan al-hamil [2] yang hitam ini – yaitu ’Abdullah bin Saba’ – ?. Dia biasa mencela Abu Bakar dan ’Umar radliyalaahu ta’ala ’anhuma”. [3]

Dari jalan Muhammad bin ’Utsman bin Abi Syaibah, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-’Alla’ dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Ayyas, dari Mujahid, dari Asy-Sya’bi, dia berkata : ”Orang pertama yang berbuat kedustaan adalah ’Abdullah bin Saba’”. Abu Ya’la Al-Mushili berkata dalam Musnad-nya : Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Hasan Al-Asadi, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Harun bin Shaalih, dari Al-Haarits bin ’Abdirrahman, dari Abul-Jalas, ia berkata : Aku mendengar ’Ali berkata kepada ’Abdullah bin Saba’ :

والله ما أفضى إلي بشيء كتمه أحدا من الناس ولقد سمعت يقول إن بين يدي الساعة ثلاثين كذابا وإنك لأحدهم

”Demi Allah, beliau tidak pernah menyampaikan kepadaku sesuatupun yang beliau sembunyikan dari manusia. Benar-benar aku mendengar beliau bersabda,’Sesungguhnya sebelum terjadinya kiamat ada tiga puluh pendusta’; dan engkau adalah salah satu dari mereka”.[4]

Abu Ishaq Al-Fazari berkata : Dari Syu’bah, dari Salamah bin Kuhail, dari Abu Az-Za’ra’, dari Zaid bin Wahb : Bahwasannya Suwaid bin Ghafalah masuk menemui ’Ali radliyallaahu ’anhu di masa kepemimpinannya. Lantas dia berkata,”Aku melewati sekelompok orang menyebut-nyebut Abu Bakar dan ’Umar (dengan kejelekan). Mereka berpandangan bahwa engkau juga menyembunyikan perasaan seperti itu kepada mereka berdua. Diantara mereka adalah ’Abdullah bin Saba’ dan dialah orang pertama yang menampakkan hal itu”. Lantas ’Ali berkata,”Aku berlindung kepada Allah untuk menyembunyikan sesuatu terhadap mereka berdua kecuali kebaikan”. Kemudian beliau mengirim utusan kepada ’Abdullah bin Saba’ dan mengusirnya ke Al-Madaain. Beliau juga berkata,”Jangan sampai engkau tinggal satu negeri bersamaku selamanya”. Kemudian beliau bangkit menuju mimbar sehingga manusia berkumpul. Lantas beliau menyebutkan kisah secara panjang lebar yang padanya terdapat pujian terhadap mereka berdua (Abu Bakar dan ’Umar), dan akhirnya berliau berkata,”Ketahuilah, jangan pernah sampai kepadaku dari seorangpun yang mengutamakan aku dari mereka berdua melainkan aku akan mencambuknya sebagai hukuman untuk orang yang berbuat dusta”.[5]

Berita tentang ’Abdullah bin Saba’ ini sangatlah masyhur dalam buku-buku sejarah dan dia tidak mempunyai satu riwayat hadits pun, walhamdulillah. Dia mempunyai pengikut yang dikenal dengan Saba’iyyah yang meyakini sifat ketuhanan ’Ali bin Abi Thalib dan ’Ali telah membakarnya dengan api pada masa kekhalifahannya” [selesai perkataan Ibnu Hajar dalamLisaanul-Miizaan].

Saba’iyyah Dihukum Dengan Cara Yang Paling Buruk

Amirul-Mukminin ’Ali bin Abi Thalib telah membakar pengikut si Yahudi ’Abdullah bin Saba’ setelah beliau menasihati agar mereka kembali dan bertaubat kepada Allah dari kesesatan dan penyelewengan mereka. Al-Bukhari meriwayatkan (12/335) dalam Fathul-Baari no. 6922, beliau berkata : Telah memberikan hadits kepada Abu An-Nu’mar Muhammad bin Al-Fadhl ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid, dari Ayyub, dari ’Ikrimah bahwasannya ia berkata :

أتى علي رضى الله تعالى عنه بزنادقة فأحرقهم فبلغ ذلك بن عباس فقال لو كنت أنا لم أحرقهم لنهي رسول الله صلى الله عليه وسلم لا تعذبوا بعذاب الله ولقتلتهم لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم من بدل دينه فاقتلوه

”Didatangkan kepada ’Ali radliyallaahu ’anhu sekelompok orang zindiq, lantas beliau membakarnya. Kemudian berita itu sampai kepada Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhuma, maka beliau berkata : ”Seandainya aku yang menghukumnya, maka aku tidak akan membakarnya, sebab ada larangan dari Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : ’Janganlah kalian menyiksa dengan siksaan Allah (yaitu api), akan tetapi aku akan membunuhnya karena sabda Rasulullahshallallaahu ’alaihi wasallam : ’Barangsiapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah ia”.

Ibnu Hajar ketika menjelaskan hadits ini berkata :

”Abul-Mudhaffar Al-Isfirayini mengatakan dalam Al-Milal wan-Nihal bahwa yang dibakar oleh ’Ali itu adalah orang-orang Rafidlah yang mengklaim sifat ketuhanan pada diri ’Ali. Dan mereka itu adalah Saba’iyyah. Pemimpin mereka adalah ’Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi yang menampakkan keislaman. Dia membuat bid’ah berupa ucapan seperti ini. Dan sangatlah mungkin asal hadits ini adalah apa yang kami riwayatkan dalam juz 3 dari hadits Abu Thahir Al-Mukhlish dari jalan ’Abdullah bin Syuraik Al-’Amiriy, dari ayahnya ia berkata : Dikatakan kepada ’Ali : ’Disana ada sekelompok orang di depan pintu masjid yang mengklaim bahwa engkau adalah Rabb mereka’. Lantas beliau memanggil mereka dan berkata kepada mereka : ’Celaka kalian, apa yang kalian katakan ?’. Mereka menjawab : ’Engkau adalah Rabb kami, pencipta kami, dan pemberi rizki kami’. ’Ali berkata : ’Celaka kalian, aku hanyalah seorang hamba seperti kalian. Aku makan makanan sebagaimana kalian makan, dan aku minum sebagaimana kalian minum. Jika aku mentaati Allah, maka Allah akan memberiku pahala jika Dia berkehendak. Dan jika aku bermaksiat, maka aku khawatir Dia akan mengadzabku. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah dan kemballah’. Tetapi mereka tetap enggan.

Ketika datang hari berikutnya, mereka datang lagi kepada ’Ali, kemudian datanglah Qanbar dan berkata,’Demi Allah, mereka kembali mengatakan perkataan seperti itu’. ’Ali pun berkata,’Masukkan mereka kemari’. Tetapi mereka masih mengatakan seperti itu juga. Ketiga hari ketiga, beliau berkata,’Jika kalian masih mengatakannya, aku benar-benar akan membunuh kalian dengan cara yang paling buruk’. Tetapi mereka masih berkeras masih menjalaninya. Maka ’Ali berkata,’Wahai Qanbar, datangkanlah kepadaku para pekerja yang membawa alat-alat galian dan alat-alat kerja lainnya. Lantas, buatkanlah untuk mereka parit-parit yang luasnya antara pintu masjid dengan istana’. Beliau juga berkata,’Galilah dan dalamkanlah galiannya’.

Kemudian beliau memerintahkan mendatangkan kayu bakar lantas menyalakan api di parit-parit tersebut. Beliaupun berkata,’Sungguh aku akan lempar kalian ke dalamnya atau kalian kembali (pada agama Allah)’. Maka ’Ali melempar mereka ke dalamnya, sampai ketika mereka telah terbakar, beliau pun berkata :

اني إذا رأيت أمرا منكرا – أوقدت ناري ودعوت قنبرا

Ketika aku melihat perkara yang munkar

Aku sulut apiku dan aku panggil Qanbar

Ini adalah sanad yang hasan.

[selesai perkataan Ibnu Hajar dalam Fathul-Baari].

Makar Ibnu Saba’ Setelah Kematian Ali bin Abi Thalib

Adapun ’Abdullah bin Saba’, maka ’Ali mengusirnya ke Al-Madaain. Ketika ’Ali meninggal dan berita kematian ’Ali sampai kepada ’Abdullah bin Saba’, dia berkata kepada orang yang membawa berita,”Seandainya pun engkau membawa berita kepada kami membawa otaknya dimasukkan ke dalam tujuhpuluh kantong dan engkau berdirikan tujuhpuluh orang saksi yang adil, maka tentu kami masih bisa memastikan bahwa dia belum terbunuh dan tidak akan mati sampai menguasai bumi”.[6]

Ibnu Saba’Al-Yahudi memanfaatkan kematian Amirul-Mukminin ’Ali bin Abi Thalib, dia susupkan keyakinan-keyakinan rusaknya dan diterima oleh para pengikutnya dari orang-orang Rafidlah. Mereka pun kemudian menyebarkannya dan menyeru kepadanya. Di sini, kami akan menyebutkan sebagian yang diperbuat oleh orang Yahudi ni dan keyakinan-keyakinan rusaknya yang dia masukkan (ke dalam tubuh kaum muslimin) :

1. Mencetuskan kelompok yang menyimpang ini, yaitu Rafidlah.

2. Upayanya untuk membunuh khalifah yang lurus Dzun-Nurain (pemilik dua cahaya : dua anak perempuan Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam), yaitu ’Utsman bin ’Affan radliyallaahu ’anhu.

3. Mencela shahabat dan mengkafirkannya, terutama Abu Bakar, ’Umar, dan ’Utsmanradliyallaahu ’anhum.

4. Keyakinan adanya wasiat tertulis bagi ’Ali.

5. Sikap ekstrim terhadap ’Ali dan ahli bait.

6. ’Aqidah bada’ (menjadi nampak).[7]

7. Pengkultusan ’Ali radliyallaahu ’anhu.

8. Keyakinan tentang tidak meninggalnya ’Ali radliyallaahu ’anhu.

Jangan Tertipu Dengan Rafidhah yang Memakai Pakaian Islam

Orang-orang Rafidlah mengambil ’aqidah yang jelek yang disusupkan oleh orang Yahudi ini[8] dan mereka sampai sekarang masih meyakini ’aqidah-’aqidah ini dan membelanya, sebagaimana dikatakan oleh guru kami Al-Imam Al-Wadi’iy[9] dalam kitabnya Al-Ilhadul-Khumaini fil-Ardlil-Haramain hal. 110, Cet. Daarul-Hadits :

”Mudah-mudahan kaum muslimin mengambil pelajaran dari kisah ’Abdullah bin Saba’ sehingga mereka waspada dari tipu daya dan keburukan orang-orang Rafidlah, sebab seruan mereka terbangun di atas kedustaan dan sungguh betapa miripnya malam ini dengan malam sebelumnya. Orang-orang Rafidlah sekarang menganut keyakinan ’Abdullah bin Saba’”.

Ketika ’aqidah orang-orang Rafidlah diambil dari orang Yahudi ini, maka kamu dapati keserupaan mereka dengan Yahudi dalam banyak perkara. Penulis[10] telah meletakkan sebuah pasal dalam risalah ini seputar masalah tersebut. Rafidlah memiliki beberapa nama. Mereka disebut Al-Itsna ’Asyariyah nisbat kepada keyakinan mereka tentang 12 imam. Mereka dinamakan Ja’fariyyah,nisbat kepada Ja’far Ash-Shaadiq. Mereka dinamakan Imamiyyah karena berpandangan kepemimpinan itu hanya untuk ’Ali dan anak keturunannya, dan mereka menunggu seorang imam yang akan muncul di akhir jaman. Mereka juga dinamakan Rafidlah karena sikap mereka yang meninggalkan Zaid bin ’Ali sebagaimana pembahasan lalu.[11]

Demikianlah, dan hendaknya diketahui oleh setiap muslim bahwa orang-orang Rafidlah pada hakekatnya adalah para musuh Islam. Hanyalah mereka berkedok Islam untuk menghantam Islam. Mereka bahu-membahu dengan semua musuh Islam untuk menghadapi Islam serta bekerjasama dengan semua orang jahat untuk melawan islam. Laa haula walaa quwwata illaa billaah.

Artikel Ustadz Abul Jauzaa’ hafizhahullah dengan sedikit perubahan dan pemberian sub judul oleh Akh Abu Umamah.


[1] HR. Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyqi (29/7) dan sanadnya hasan.

[2] Al-Hamil adalah sebutan untuk segala sesuatu yang busuk, dan dia berarti orang yang botak dan tidak mempunyai rambut. (Al-Qaamus).

[3] HR. Ibnu ‘Asakir dalam Taarikh Ad-Dimasyqi (29/7) dengan sanad shahih.

[4] Atsar ini tsabit (kokoh), diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 1325, Abu Ya’la dalam Musnad-nya (449), dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (982). Al-Haitsami berkata dalam Majma’uz-Zawaaid (7/333) : “Para perawinya tsiqah (terpercaya)”.

[5] Atsar ini tsabit.

[6] Firaq Asy-Syi’ah karya An-Naubakhti, hal. 21, Cet. Karbalaa.

[7] Yaitu orang-orang Rafidlah meyakini bahwasannya akan menjadi terang sesuatu bagi Allah setelah sebelumnya tersembunyi. Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang besar. Silakan lihat kitab Buthlaanu ’Aqaaid Asy-Syi’ah karya Al-’Allamah Muhammad ’Abdus-Sattar At-Turisi, hal. 23 dan Mas-alatut-Taqrib baina Ahlis-Sunnah wasy-Syi’ah (1/344).

[8] Tidak ada celah untuk mengingkari eksistensi ‘Abdullah bin Saba’ Al-Yahudiy, sebagaimana disangka oleh sebagian orang bahwa dia hanyalah cerita dongeng belaka. Buku-buku sejarah telah menetapkan hakekat perbuatannya bahkan menetapkan hakekat dirinya, sampai-sampai ditulis oleh orang-orang Syi’ah sendiri.

Tentang hakekat ’Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi ini telah dijelaskan oleh saudaraku yang mulia ’Ali Ar-Razihi dalam kitabnya ­Taudlihun-Nabaa’ ’an Mua’assis Asy-Syi’ah ’Abdullah bin Saba’ baina Aqlami Ahlis-Sunnah wasy-Syi’ah wa Ghairihim. Silakan merujuknya.

[9] Yaoitu Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy rahimahullah – Abul-Jauzaa’.

[10] Yang dimaksudkan oleh Asy-Syaikh Abu Bakar ‘Abdurrazzaq bin Shalih An-Nahmi adalah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab At-Tamimi rahimahullah. Sebagai catatan, tulisan ini merupakan bagian dari muqaddimah Asy-Syaikh An-Nahmi ketika beliau memberikan ta’liqterhadap kitab Risalah fir-Radd ’alar-Rafidlah karya Asy-Syaikh Muhammad bin ’Abdil-Wahhabrahimahullah ­– Abul-Jauzaa’.

[11] Dan silakan lihat kitab Asy-Syi’ah wat-Tasyayyu’ karya Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Dhahirrahimahullah hal. 296.

Download Ebook : Pengkhianatan Syi’ah Kepada Ahlul Bait [Al-Furqon Edisi 8 Th. 11]

Para pembaca rahimakumullah. Syi’ah di Indonesia semakin menggurita dan melembaga.  Tidak kurang dari 7.000 mahasiswa Indonesia sekarang sedang belajar belajar ke Iran, sebuah negara yang notabene pusat cuci otak untuk para pendukung Syiah.

Jika tidak diantisipasi berarti dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia mungkin akan diramaikan oleh paham Syi`ah. Para mahasiswa tersebut akan kembali ke Indonesia dengan membawa paham yang bertentangan dengan paham umat Islam di Indonesia yang notabene Ahli Sunnah wal Jamaah.

Dengan slogan “cinta kepada ahli bait” yang palsu dan “taqiyyah”, Syi’ah membungkus borok mereka agar bisa melakukan tikaman kepada agama dan ahlinya dari dalam.

Para pembaca rahimakumullah. Merupakan suatu hal yang aneh, banyak di antara kalangan yang pro-Syi’ah, dalam waktu yang sama mereka sangat keras memusuhi dakwah salafiyyah atau yang biasa digelari dengan “Wahabi”. Sebut saja misalnya, buku-buku karya seorang misterius berjuluk Syaikh Idahram yang banyak beredar akhir-akhir ini: “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi”, “Ulama Sejagat Menggugat Salafi Wahabi”, “Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Ulama Klasik” yang semuanya diberi kata pengantar oleh Dr. Said Aqil Siradj. Buku-buku tersebut di samping sangat jelas berisi kecaman dan serangan kepada Manhaj Salaf, juga aktif menyelundupkan “sampah-sampah” pemikiran Syi’ah. Oleh karenanya, pada edisi kali ini juga, kami memuat bahasan tentang “Hakikat Wahhabi” sehingga kita tidak termakan oleh isu-isu yang penuh kedustaan.

Semoga Allah meneguhkan kita semua di atas manhaj yang haq dan menyelamatkan kita dari kobaran fitnah yang dahsyat menerpa akhirakhir ini.

Mungkinkah
Sunnah & Syi’ah
Bergandengan tangan?

Tragedi kerusuhan di sebuah pesantren Syi’ah di Madura, bulan lalu—tepatnya pada Kamis 4 Shafar 1433 —menambah catatan suram sejarah Indonesia. Namun, di balik peristiwa tersebut terdapat hikmah akan tersingkapnya jati diri sebagian tokoh mengenai sikap mereka terhadap sekte Syi’ah.

Pasalnya, pasca kejadian tersebut, banyak bermunculan opini dan komentar tentang Syi’ah. Sebagian tokoh organisasi besar di Indonesia dengan vokal menegaskan bahwa “perbedaan antara Sunni dan Syi’ah adalah hanya masalah furu’iyyah (cabang) bukan ushul (inti)”, bahkan ada yang berani mengatakan: “Syi’ah bukan aliran yang sesat”. Lalu mereka pun menyerukan “perdamaian” dan “persatuan” antara Sunni dan Syi’ah agar saling bergandeng tangan.

Bola terus bergulir, ungkapan-ungkapan para tokoh tadi diekspos oleh media massa yang disimak dan didengarkan oleh masyarakat dan orang-orang awam, sehingga banyak di kalangan mereka pun akhirnya tertipu dan menjadi simpatisan aliran Syi’ah, padahal mereka tidak tahu bagaimana sebenarnya pemikiranpemikiran busuk aliran Syi’ah yang  dibungkus dengan topeng “taqiyyah” dan kedok “mencintai ahli bait”.

Sesungguhnya banyak sekali penyimpangan-penyimpangan kaum Syi’ah yang bukan hanya dalam masalah furu’iyyah, melainkan lebih dari itu yakni dalam masalah-masalah prinsip agama, di antaranya: (1) Syi’ah meyakini bahwa al-Qur’an yang ada pada kaum muslimin sekarang tidak asli lagi. (2) Syi’ah meyakini bahwa hadits dan ijma’ bisa dinyatakan  shahih jika dari jalur imam-imam mereka saja. (3) Syi’ah memiliki penyimpangan-penyimpangan dalam tauhid rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ wa shifat. (4) Syi’ah sangat berlebih-lebihan terhadap imam-imam mereka dan meyakini bahwa mereka ma’shum dari dosa. (5) Syi’ah mengkafirkan mayoritas sahabat, termasuk Abu Bakar dan Umar, bahkan mereka menjadikan pengkafiran ini sebagai agama. (6) Syi’ah menghalalkan nikah mut’ah (kawin kontrak) dan menjadikannya sebagai ibadah yang mulia. (7) Syi’ah mengkafirkan kaum muslimin selain golongan mereka dan menghalalkan darah dan harta mereka.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa Syi’ah memiliki senjata pamungkas untuk melindungi borok-borok mereka yaitu senjata “taqiyyah” yakni bolehnya dusta untuk menutupi kedok mereka sehingga banyak kaum muslimin yang terkecoh oleh pengakuan mereka.

Setelah perbedaan-perbedaan mendasar di atas, lantas mungkinkah setelah itu Sunni dan Syi’ah bergandeng tangan sebagaimana propaganda yang diserukan?!! Mungkinkah persatuan terjalin dengan adanya perbedaan-perbedaan tajam di atas?!! Akankah kita menyerukan persatuan semu tersebut padahal dalam waktu yang sama orang-orang sekte Syi’ah enggan akan persatuan tersebut?!!

Akhirnya, bukanlah tulisan ini sebagai dukungan aksi anarkisme yang terjadi, melainkan untuk meluruskan klaim sebagian kalangan yang mendukung Syi’ah. Syi’ah memang sesat dan menyimpang, namun untuk mengingkarinya tentu
bukan dengan cara kekerasan dan anarkisme, melainkan dengan dakwah yang bijak dan kekuatan pemerintah.

Download Ebook

tikaman-syi’ah-kepada-ahlul-bait

Sumber : Majalah Al-Furqon

Disalin dari artikel blog Abu Umamah untuk blog Abu Abdurrohman