Jilbabku Penutup Auratku

Jilbabku Penutup Auratku

Penyusun: Ummu Ziyad
Muroja’ah: Ust. Aris Munandar

Pembahasan kali ini merupakan perinciaan dari artikel-artikel sebelumnya yang membahas tentang masalah jilbab muslimah yang sesuai syari’at sekaligus jawaban atas berbagai komentar yang masuk.
Jilbab merupakan bagian dari syari’at yang penting untuk dilaksanakan oleh seorang muslimah. Ia bukanlah sekedar identitas atau menjadi hiasan semata dan juga bukan penghalang bagi seorang muslimah untuk menjalankan aktivitas kehidupannya. Menggunakan jilbab yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamadalah wajib dilakukan oleh setiap muslimah, sama seperti ibadah-ibadah lainnya seperti sholat, puasa yang diwajibkan bagi setiap muslim. Ia bukanlah kewajiban terpisah dikarenakan kondisi daerah seperti dikatakan sebagian orang (karena Arab itu berdebu, panas dan sebagainya). Ia juga bukan kewajiban untuk kalangan tertentu (yang sudah naik haji atau anak pesantren).

Benar saudariku… memakai jilbab adalah kewajiban kita sebagai seorang muslimah. Dan dalam pemakaiannya kita juga harus memperhatikan apa yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti telah disebutkan pada artikel sebelumnya, terdapat beberapa persyaratan dalam penggunanan jilbab yang sesuai syari’at. Semoga Allah memudahkan penulis memperjelas poin-poin yang ada dalam artikel sebelumnya.

DEFINISI JILBAB

Secara bahasa, dalam kamus al Mu’jam al Wasith 1/128, disebutkan bahwa jilbab memiliki beberapa makna, yaitu:

  1. Qomish (sejenis jubah).
  2. Kain yang menutupi seluruh badan.
  3. Khimar (kerudung).
  4. Pakaian atasan seperti milhafah (selimut).
  5. Semisal selimut (baca: kerudung) yang dipakai seorang wanita untuk menutupi tubuhnya.

Adapun secara istilah, berikut ini perkataan para ulama’ tentang hal ini.

Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan, “Jilbab menurut bahasa Arab yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pakaian yang menutupi seluruh badan, bukan hanya sebagiannya.” Sedangkan Ibnu Katsir mengatakan, “Jilbab adalah semacam selendang yang dikenakan di atas khimar yang sekarang ini sama fungsinya seperti izar (kain penutup).” (Syaikh Al Bani dalam Jilbab Muslimah).

Syaikh bin Baz (dari Program Mausu’ah Fatawa Lajnah wal Imamain) berkata, “Jilbab adalah kain yang diletakkan di atas kepala dan badan di atas kain (dalaman). Jadi, jilbab adalah kain yang dipakai perempuan untuk menutupi kepala, wajah dan seluruh badan. Sedangkan kain untuk menutupi kepala disebut khimar. Jadi perempuan menutupi dengan jilbab, kepala, wajah dan semua badan di atas kain (dalaman).” (bin Baz, 289). Beliau juga mengatakan, “Jilbab adalah rida’ (selendang) yang dipakai di atas khimar (kerudung) seperti abaya (pakaian wanita Saudi).” (bin Baz, 214). Di tempat yang lain beliau mengatakan, “Jilbab adalah kain yang diletakkan seorang perempuan di atas kepala dan badannnya untuk menutupi wajah dan badan, sebagai pakaian tambahan untuk pakaian yang biasa (dipakai di rumah).” (bin Baz, 746). Beliau juga berkata, “Jilbab adalah semua kain yang dipakai seorang perempuan untuk menutupi badan. Kain ini dipakai setelah memakai dar’un (sejenis jubah) dan khimar (kerudung kepala) dengan tujuan menutupi tempat-tempat perhiasan baik asli (baca: aurat) ataupun buatan (misal, kalung, anting-anting, dll).” (bin Baz, 313).

Dalam artikel sebelumnya, terdapat pertanyaan apa beda antara jilbab dengan hijab. Syaikh Al Bani rahimahullah mengatakan, “Setiap jilbab adalah hijab, tetapi tidak semua hijab itu jilbab, sebagaimana yang tampak.” Sehingga memang terkadang kata hijab dimaksudkan untuk makna jilbab. Adapun makna lain dari hijab adalah sesuatu yang menutupi atau meghalangi dirinya, baik berupa tembok, sket ataupun yang lainnya. Inilah yang dimaksud dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat al-Ahzab ayat 53,“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah nabi kecuali bila kamu diberi izin… dan apabila kamu meminta sesuatu keperluan kepda mereka (para istri Nabi), maka mintalah dari balik hijab…”

SYARAT-SYARAT PAKAIAN MUSLIMAH

1. Menutup Seluruh Badan Kecuali Yang Dikecualikan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا…

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…” (QS. An Nuur: 31)

Tentang ayat dalam surat An Nuur yang artinya “kecuali yang (biasa) nampak dari padanya”, maka terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama sehingga membawa konsekuensi yang berbeda tentang hukum penggunaan cadar bagi seorang muslimah. Untuk penjelasan rinci, silakan melihat pada artikel yang sangat bagus tentang masalah ini pada artikel Hukum Cadar di http://www.muslim.or.id.

Dari syarat pertama ini, maka jelaslah bagi seorang muslimah untuk menutup seluruh badan kecuali yang dikecualikan oleh syari’at. Maka, sangat menyedihkan ketika seseorang memaksudkan dirinya memakai jilbab, tapi dapat kita lihat rambut yang keluar baik dari bagian depan ataupun belakang, lengan tangan yang terlihat sampai sehasta, atau leher dan telinganya terlihat jelas sehingga menampakkan perhiasan yang seharusnya ditutupi.

Catatan penting dalam poin ini adalah penggunaan khimar yang merupakan bagian dari syari’at penggunaan jilbab sebagaimana terdapat dalam ayat selanjutnya dalam surat An Nuur ayat 31,

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

“Dan hendaklah mereka menutupkan khimar ke dadanya.”

Khumur merupakan jamak dari kata khimar yang berarti sesuatu yang dipakai untuk menutupi bagian kepala. Sayangnya, pemakaian khimar ini sering dilalaikan oleh muslimah sehingga seseorang mencukupkan memakai jilbab saja atau hanya khimar saja. Padahal masing-masing wajib dikenakan, sebagaimana terdapat dalam hadits dari Sa’id bin Jubair mengenai ayat dalam surat Al Ahzab di atas, ia berkata, “Yakni agar mereka melabuhkan jilbabnya. Sedangkan yang namanya jilbab adalah qina’ (kudung) di atas khimar. Seorang muslimah tidak halal untuk terlihat oleh laki-laki asing kecuali dia harus mengenakan qina’ di atas khimarnya yang dapat menutupi bagian kepala dan lehernya.” Hal ini juga terdapat dalam atsar dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata,

لابد للمرأة من ثلاثة أثواب تصلي فيهن: درع و جلباب و خمار

“Seorang wanita dalam mengerjakan shalat harus mengenakan tiga pakaian: baju, jilbab dan khimar.” (HR. Ibnu Sa’ad, isnadnya shahih berdasarkan syarat Muslim)

Namun terdapat keringanan bagi wanita yang telah menopause yang tidak ingin kawin sehingga mereka diperbolehkan untuk melepaskan jilbabnya, sebagaimana terdapat dalam surat An Nuur ayat 60:

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاء اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحاً فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana.”

Ibnu Abbas radhiallahu’anhu mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata “pakaian” pada ayat di atas adalah “jilbab” dan hal serupa juga dikatakan oleh Ibnu Mas’ud. (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Al Baihaqi). Dapat pula diketahui di sini, bahwa pemakaian khimar yang dikenakan sebelum jilbab adalah menutupi dada. Lalu bagaimana bisa seseorang dikatakan memakai jilbab jika hanya sampai sebatas leher? Semoga ini menjadi renungan bagi saudariku sekalian.

Berikut ini contoh tampilan khimar dan jilbab. Khimar dikenakan menutupi dada. Setelah itu baru dikenakan jilbab di atasnya. (warna, bentuk dan panjang pakaian dalam gambar hanyalah sebagai contoh).

Khimar

Jilbab

Catatan penting lainnya dari poin ini adalah terdapat anggapan bahwa pakaian wanita yang sesuai syari’at adalah yang berupa jubah terusan (longdress), sehingga ada sebagian muslimah yang memaksakan diri untuk menyambung-nyambung baju dan rok agar dikatakan memakai pakaian longdress. Lajnah Daimah pernah ditanya tentang hal ini, yaitu apakah jilbab harus “terusan” atau “potongan” (ada pakaian atasan dan rok bawahan). Maka jawaban Lajnah Daimah, “Hijab (baca: jilbab) baik terusan ataukah potongan, keduanya tidak mengapa (baca: boleh) asalkan bisa menutupi sebagaimana yang diperintahkan dan disyari’atkan.” Fatwa ini ditandatangani oleh Abdul Aziz bin Baz sebagai ketua dan Abdullah bin Ghadayan sebagai anggota (Fatawa Lajnah Daimah 17/293, no fatwa: 7791, Maktabah Syamilah). Dengan demikian, jelaslah tentang tidak benarnya anggapan sebagian muslimah yang mempersyaratkan jubah terusan (longdress) bagi pakaian muslimah. Camkanlah ini wahai saudariku!

2. Bukan Berfungsi Sebagai Perhiasan

Hal ini sebagaimana terdapat dalam surat An Nuur ayat 31, “…Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya…” Ketika jilbab dan pakaian wanita dikenakan agar aurat dan perhiasan mereka tidak nampak, maka tidak tepat ketika menjadikan pakaian atau jilbab itu sebagai perhiasan karena tujuan awal untuk menutupi perhiasan menjadi hilang. Banyak kesalahan yang timbul karena poin ini terlewatkan, sehingga seseorang merasa sah-sah saja menggunakan jilbab dan pakaian indah dengan warna-warni yang lembut dengan motif bunga yang cantik, dihiasi dengan benang-benang emas dan perak atau meletakkan berbagai pernak-pernik perhiasan pada jilbab mereka.

Namun, terdapat kesalahpahaman juga bahwa jika seseorang tidak mengenakan jilbab berwarna hitam maka berarti jilbabnya berfungsi sebagai perhiasan. Hal ini berdasarkan beberapa atsar tentang perbuatan para sahabat wanita di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengenakan pakaian yang berwarna selain hitam. Salah satunya adalah atsar dari Ibrahim An Nakhai,

أنه كان يدخل مع علقمة و الأسود على أزواج النبي صلى الله عليه و سلم و يرا هن في اللحف الحمر

“Bahwa ia bersama Alqomah dan Al Aswad pernah mengunjungi para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia melihat mereka mengenakan mantel-mantel berwarna merah.”(HR. Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al Mushannaf)

Catatan: Masalah warna ini berlaku bagi wanita. Adapun bagi pria, terdapat hadits yang menerangkan pelarangan penggunaan pakaian berwarna merah.

Dengan demikian, tolak ukur “Pakaian perhiasan ataukah bukan adalah berdasarkan ‘urf (kebiasaan).” (keterangan dari Syaikh Ali Al Halabi). Sehingga suatu warna atau motif menarik perhatian pada suatu masyarakat maka itu terlarang dan hal ini boleh jadi tidak berlaku pada masyarakat lain.

3. Kainnya Harus Tebal, Tidak Tipis

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang dua kelompok yang termasuk ahli neraka dan beliau belum pernah melihatnya,

وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya, suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengan cambuknya dan wanita yang kasiyat (berpakaian tapi telanjang, baik karena tipis atau pendek yang tidak menutup auratnya), mailat mumilat (bergaya ketika berjalan, ingin diperhatikan orang), kepala mereka seperti punuk onta. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya, padahal baunya didapati dengan perjalanan demikian dan demikian.” (HR. Muslim 3971, Ahmad 8311 dan Imam Malik 1421 – lihat majalah Al Furqon Gresik)

Ambil dan camkanlah hadits ini wahai saudariku, karena ancamannya demikian keras sehingga para ulama memasukkannya dalam dosa-dosa besar. Betapa banyak wanita muslimah yang seakan-akan menutupi badannya, namun pada hakekatnya telanjang. Maka dalam pemilihan bahan pakaian yang akan kita kenakan juga harus diperhatikan karena sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr, “Bahan yang tipis dapat menggambarkan bentuk tubuh dan tidak dapat menyembunyikannya.” Syaikh Al Bani juga menegaskan, “Yang tipis (transparan) itu lebih parah dari yang menggambarkan lekuk tubuh (tapi tebal).” Bahkan kita ketahui, bahan yang tipis terkadang lebih mudah dalam mengikuti lekuk tubuh sehingga sekalipun tidak transparan, bentuk tubuh seorang wanita menjadi mudah terlihat.

4. Harus Longgar, Tidak Ketat

Selain kain yang tebal dan tidak tipis, maka pakaian tersebut haruslah longgar, tidak ketat, sehingga tidak menampakkan bentuk tubuh wanita muslimah. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits dari Usamah bin Zaid ketika ia diberikan baju Qubthiyah yang tebal oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia memberikan baju tersebut kepada istrinya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahuinya, beliau bersabda,

مرْها فلتجعل تحتها غلالة فإني أخاف أن تصف حجم عظمها

“Perintahkanlah ia agar mengenakan baju dalam di balik Qubthiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tubuh.” (HR. Ad Dhiya’ Al Maqdisi, Ahmad dan Baihaqi dengan sanad hasan)

Maka tidak tepat jika seseorang mencukupkan dengan memakai rok, namun ternyata tetap memperlihatkan pinggul, kaki atau betisnya. Maka jika pakaian tersebut telah cukup tebal dan longgar namun tetap memperlihatkan bentuk tubuh, maka dianjurkan bagi seorang muslimah untuk memakai lapisan dalam. Namun janganlah mencukupkan dengan kaos kaki panjang, karena ini tidak cukup untuk menutupi bentuk tubuh (terutama untuk para saudariku yang sering tersingkap roknya ketika menaiki motor sehingga terlihatlah bentuk betisnya). Poin ini juga menjadi jawaban bagi seseorang yang membolehkan penggunaan celana dengan alasan longgar dan pinggulnya ditutupi oleh baju yang panjang. Celana boleh digunakan untuk menjadi lapisan namun bukan inti dari pakaian yang kita kenakan. Karena bentuk tubuh tetap terlihat dan hal itu menyerupai pakaian kaum laki-laki. (lihat poin 6). Jika ada yang beralasan, celana supaya fleksibel. Maka, tidakkah ia ketahui bahwa rok bahkan lebih fleksibel lagi jika memang sesuai persyaratan (jangan dibayangkan rok yang ketat/span). Kalaupun rok tidak fleksibel (walaupun pada asalnya fleksibel) apakah kita menganggap logika kita (yang mengatakan celana lebih fleksibel) lebih benar daripada syari’at yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan. Renungkanlah wahai saudariku!

5. Tidak Diberi Wewangian atau Parfum

Perhatikanlah salah satu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkaitan tentang wanita-wanita yang memakai wewangian ketika keluar rumah,

ايّما امرأةٍ استعطرتْ فمَرّتْ على قوم ليَجِدُوا رِيْحِها، فهيا زانِيةٌٍ

“Siapapun perempuan yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina.” (HR. Tirmidzi)

أيما امرأة أصابت بخورا فلا تشهد معنا العشاء الاخرة

“Siapapun perempuan yang memakai bakhur, maka janganlah ia menyertai kami dalam menunaikan shalat isya’.” (HR. Muslim)

Syaikh Al Bani berkata, “Wewangian itu selain ada yang digunakan pada badan, ada pula yang digunakan pada pakaian.” Syaikh juga mengingatkan tentang penggunaan bakhur (wewangian yang dihasilkan dari pengasapan) yang ini lebih banyak digunakan untuk pakaian bahkan lebih khusus untuk pakaian. Maka hendaknya kita lebih berhati-hati lagi dalam menggunakan segala jenis bahan yang dapat menimbulkan wewangian pada pakaian yang kita kenakan keluar, semisal produk-produk pelicin pakaian yang disemprotkan untuk menghaluskan dan mewangikan pakaian (bahkan pada kenyataannya, bau wangi produk-produk tersebut sangat menyengat dan mudah tercium ketika terbawa angin). Lain halnya dengan produk yang memang secara tidak langsung dan tidak bisa dihindari membuat pakaian menjadi wangi semisal deterjen yang digunakan ketika mencuci.

6. Tidak Menyerupai Pakaian Laki-Laki

Terdapat hadits-hadits yang menunjukkan larangan seorang wanita menyerupai laki-laki atau sebaliknya (tidak terbatas pada pakaian saja). Salah satu hadits yang melarang penyerupaan dalam masalah pakaian adalah hadits dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata

لعن رسول الله صلى الله عليه و سلم الرجل يلبس لبسة المرأة و المرأة تلبس لبسة الرجل

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pria yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian pria.” (HR. Abu Dawud)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Kesamaan dalam perkara lahir mengakibatkan kesamaan dan keserupaan dalam akhlak dan perbuatan.” Dengan menyerupai pakaian laki-laki, maka seorang wanita akan terpengaruh dengan perangai laki-laki dimana ia akan menampakkan badannya dan menghilangkan rasa malu yang disyari’atkan bagi wanita. Bahkan yang berdampak parah jika sampai membawa kepada maksiat lain, yaitu terbawa sifat kelaki-lakian, sehingga pada akhirnya menyukai sesama wanita. Wal’iyyadzubillah.

Terdapat dua landasan yang dapat digunakan sebagai acuan bagi kita untuk menghindari penggunaan pakaian yang menyerupai laki-laki.

  1. Pakaian tersebut membedakan antara pria dan wanita.
  2. Tertutupnya kaum wanita.

Sehingga dalam penggunaan pakaian yang sesuai syari’at ketika menghadapi yang bukan mahromnya adalah tidak sekedar yang membedakan antara pria dan wanita namun tidak tertutup atau sekedar tertutup tapi tidak membedakan dengan pakaian pria. Keduanya saling berkaitan. Lebih jelas lagi adalah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al Kawakib yang dikutip oleh syaikh Al Bani, yang penulis ringkas menjadi poin-poin sebagai berikut untuk memudahkan pemahaman,

  1. Prinsipnya bukan semata-mata apa yang dipilih, disukai dan biasa dipakai kaum pria dan kaum wanita.
  2. Juga bukan pakaian tertentu yang dinyatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau yang dikenakan oleh kaum pria dan wanita di masa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Jenis pakaian yang digunakan sebagai penutup juga tidak ditentukan (sehingga jika seseorang memakai celana panjang dan kaos kemudian menutup pakaian dan jilbab di atasnya yang sesuai perintah syari’at sehingga bentuk tubuhnya tidak tampak, maka yang seperti ini tidak mengapa -pen)

Kesimpulannya, yang membedakan antara jenis pakaian pria dan wanita kembali kepada apa yang sesuai dengan apa yang diperintahkan bagi pria dan apa yang diperintahkan bagi kaum wanita. Namun yang perlu diingat, pelarangan ini adalah dalam hal-hal yang tidak sesuai fitrahnya. Syaikh Muhammad bin Abu Jumrah rahimahullah sebagaimana dikutip oleh Syaikh Al Bani mengatakan, “Yang dilarang adalah masalah pakaian, gerak-gerik dan lainnya, bukan penyerupaan dalam perkara kebaikan.”

7. Tidak Menyerupai Pakaian Wanita-Wanita Kafir

Banyak dari poin-poin yang telah disebutkan sebelumnya menjadi terasa berat untuk dilaksanakan oleh seorang wanita karena telah terpengaruh dengan pakaian wanita-wanita kafir. Betapa kita ketahui, mereka (orang kafir) suka menampakkan bentuk dan lekuk tubuh, memakai pakaian yang transparan, tidak peduli dengan penyerupaan pakaian wanita dengan pria. Bahkan terkadang mereka mendesain pakaian untuk wanita maskulin! Hanya kepada Allah-lah kita memohon perlindungan dan meminta pertolongan untuk dijauhkan dari kecintaan kepada orang-orang kafir. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), danjanganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hadid [57]: 16)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Firman Allah, ‘Janganlah mereka seperti…’ merupakan larangan mutlak dari tindakan menyerupai mereka….” (Al Iqtidha, dikutip oleh Syaikh Al Bani)

8. Bukan Pakaian Untuk Mencari Popularitas

“Barangsiapa mengenakan pakaian syuhrah (untuk mencari popularitas) di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api naar.”

Adapun libas syuhrah (pakaian untuk mencari popularitas) adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakaian tersebut mahal, yang dipakai seseorang untuk berbangga dengan dunia dan perhiasannya, maupun pakaian yang bernilai rendah yang dipakai seseorang untuk menampakkan kezuhudan dan dengan tujuan riya. (Jilbab Muslimah)

Namun bukan berarti di sini seseorang tidak boleh memakai pakaian yang baik, atau bernilai mahal. Karena pengharaman di sini sebagaimana dikatakan oleh Imam Asy Syaukani adalah berkaitan dengan keinginan meraih popularitas. Jadi, yang dipakai sebagai patokan adalah tujuan memakainya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala suka jika hambanya menampakkan kenikmatan yang telah Allah berikan padanya. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ

“Sesungguhnya Allah menyukai jika melihat bekas kenikmatan yang diberikan oleh-Nya ada pada seorang hamba.” (HR. Tirmidzi)

PENUTUP

Demikian sedikit penjelasan tentang pengertian jilbab dan penjelasan dari poin-poin tentang persyaratan jilbab muslimah yang sesuai syari’at. Saudariku… janganlah kita terpedaya dengan segala aktifitas dan perkataan orang yang menjadikan seseorang cenderung merasa tidak mungkin untuk menggunakan jilbab yang sesuai syari’at. Ingatlah, bahwa sesungguhnya tidak ada teman di hari akhir yang mau menanggung dosa yang kita lakukan. Hanya kepada Allahlah kita memohon pertolongan ketika menjalankan segala ibadah yang telah disyari’atkan. Semoga artikel ini juga dapat menjawab berbagai pertanyaan dan komentar yang masuk pada artikel-artikel sebelumnya. Wallahu a’lam.

Maraji’:

  1. Majalah Al Furqon, edisi 12 tahun III
  2. Jilbab Muslimah. Syaikh Al Bani. Pustaka At Tibyan
  3. Maktabah Syamilah

***

http://www.muslimah.or.id

Iklan

Dimana Allah?

Dimana Allah?

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Ustadz setelah membaca di beberapa tulisan tentang dimana Allah,tolong jelaskan kepada kami tentang itu berdasarkan dalil yang jelas agar umat ini kembali kepada aqidah yang benar sesuai dengan pemahaman Ahlussunnah wal jama’ah..

jazakallah khoiron

Agus [bustomi.agus@yahoo.co.id]

Jawab:

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Berikut potongan tulisan dari ust. Luqman Jamal hafizhahullah dalam majalah An-Nashihah edisi I, dengan judul ‘Dimana Allah’:

Allah Jalla fii ‘Ulahu yang menciptakan kita mewajibkan kepada kita untuk mengenal dan mengetahui di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala berada sehingga hati-hati kita menghadap/mengarah kepada-Nya, demikian pula ketika berdo’a dan beribadah khususnya ketika sholat. Siapa yang tidak mengenal Rabbnya maka dia berada dalam keadaan tersesat, karena tidak tahu dimana beradanya yang dia sembah, dan dia juga tidak akan bisa menegakkan ibadah dengan sebaik-baiknya, bahkan dia tidak tahu siapa Ilah yang dia sembah.

Salah satu cara untuk mengenal dimana Allah adalah dengan mengenal sifat-sifat-Nya, khususnya yang berkaitan dengan masalah dimana Allah. Kemudian menetapkan dan meyakininya dengan sebenar-benarnya. Keyakinan dimana Allah termasuk masalah besar yang berkaitan dengan sifat-sifat-Nya yaitu penetapan sifat Al-’Uluw (sifat ketinggian Allah Azza wa Jalla dan bahwa Dia di atas seluruh makhluk), ketinggian yang mutlak dari segala sisi dan penetapan Istiwa`-Nya di atas Al-Arsy[1], berpisah dan tidak menyatu dengan makhluk-Nya. Namun perlu diketahui bahwa penetapan sifat Al-‘Uluw dan sifat Al-Istiwa` sama dengan penetapan seluruh sifat Allah yang lainnya, yaitu harus berjalan di atas dasar penetapan sifat Allah sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya tanpa ada penyerupaan sedikitpun dengan makhluk-Nya. Sebagaimana dalam Firman-Nya :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Asy-Syura : 11)

Dan dalam ucapan Imam Malik yang sangat masyhur ketika beliau ditanya tentang sifat Al-Istiwa`, maka beliau menjawab :

الْإِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ وَالْإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

“Al-Istiwa` bukan tidak diketahui (baca : telah dimaklumi), kaifiyatnya (gambaran bentuk/caranya) tidak bisa digapai dengan akal, mengimaninya adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah”. [2]

Maka tidak ada yang mengetahui kaifiat ketinggian-Nya kecuali Allah Al-‘Aliyyu Al-‘Azhim sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.

Dan dalil-dalil yang menunjukkan penetapan sifat ini sangatlah banyak, sangat lengkap dan jelas, baik dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah, ijma’, akal dan fitrah sehingga para ulama menganggapnya sebagai perkara yang harus diketahui secara darurat dalam agama yang agung ini.

 

Disyari’atkan Bertanya Dimana Allah

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ قَالَ : كَانَتْ لِيْ جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِيْ قِبَلَ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَّةِ فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ فَإِذَا الذِّيْبُ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍِ مِنْ غَنَمِهَا وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ آدَمَ آسِفُ كَمَا يَأْسَفُوْنَ لَكِنِّيْ صَكَكْتُهَا صَكَّةً فَأَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَفَلَا أُعْتِقُهَا قَالَ ائْتِنِيْ بِهَا فَأَتَيْتُهُ بِهَا فَقَالَ لَهَا أَيْنَ اللهُ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ قَالَ مَنْ أَنَا قَالَتْ أَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ قَالَ أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

“Dari Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulamy radiyallahu ‘anhu, beliau berkata : “Saya mempunyai seorang budak perempuan yang mengembalakan kambing-kambingku di arah gunung Uhud dan Al-Jawwaniyyah (sebelah utara Madinah). Maka suatu hari (ketika) saya mengontrol ternyata seekor serigala telah membawa (memangsa) seekor kambingku -dan saya adalah seorang lelaki dari anak Adam- sayapun marah sebagaimana (umumnya) anak Adam. Tetapi saya memukulnya dengan sekali pukulan. Lalu saya mendatangi Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. Maka beliau menganggap besar hal tersebut atasku, saya berkata : Wahai Rasulullah, bolehkah saya memerdekan dia ?. Rasulullah menjawab : “Datangkanlah dia”, maka saya mendatangkannya. Kemudian Rasulullah bertanya kepadanya : “Dimana Allah?”. Dia menjawab : “Di atas langit”. Dan beliau bertanya (lagi) : “Siapakah aku?”. Dia menjawab : “Engkau adalah Rasulullah”. Kemudian beliau bersabda : “Merdekakanlah dia karena sesungguhnya dia adalah seorang yang mukminah”. ( HR. Muslim no. 537)

Beberapa hukum dan faidah berkaitan dengan hadits.

 

Imam Al-Hafidz Ad-Darimy (wafat 280 H) menyebutkan beberapa faedah dari hadits diatas, diantaranya :

@      Dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan bahwa seseorang jika dia tidak tahu bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla ada di atas langit bukan di bumi maka tidaklah ia dikatakan beriman. Tidakkah kamu perhatikan bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menjadikan tanda keimanan budak tersebut dengan pengetahuannya bahwasannya Allah berada di atas langit.

@      Dan sabda beliau : “’Dimana Allah?”, membongkar kebodohan orang yang berkata bahwa Allah ada di mana-mana. Karena sesuatu yang ada pada semua tempat mustahil untuk dikatakan “di mana dia ?”. Dan tidak dikatakan “dimana” kecuali pada sesuatu yang berada di tempat tertentu.

@      Seandainya Allah ada dimana-mana sebagaimana yang disangka oleh orang-orang yang menyimpang tersebut maka pasti Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam akan mengingkari ucapan budak perempuan tersebut, Tapi Rasulullah justru membenarkannya dan mempersaksikan keimanannya.

@      Dan seandainya Allah ada di bumi sebagaimana Allah berada di atas langit, maka tidaklah sempurna keimanan budak perempuan tersebut sampai dia mengetahui bahwa Allah berada di bumi sebagaimana dia mengetahui bahwa Allah berada di atas langit.

@      Ketika ‘Abdullah ibnul Mubarak ditanya : “Bagaimana kita mengenal Robb kita?”, beliau menjawab : “Bahwasanya Allah berada di atas langit yang ketujuh di atas Arsy berpisah dari makhluk-Nya”.

@      Dan ini sangat sesuai dengan pertanyaan Rasulullahshollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam kepada budak wanita tersebut : “Dimana Allah?”, Nabi menguji keimanannya dengan pertanyaan tersebut. Maka tatkala dia menjawab : “Di atas langit”, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :“Merdekakanlah dia karena sesungguhnya dia adalah seorang yang mukminah”.

(Lihat Ar-Radd ‘alal Jahmiyah hal. 64-67, tahqiq Badr Al-Badr)

@       Berkata Imam Abu Muhammad Al-Juweiny Asy-Syafi’iy (wafat th. 438 H.) : Sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dalam hadits yang shohih (hadits di atas -pent.) kepada budak perempuan : “Dimana Allah ?”, dia menjawab : “Di atas langit”. Dan beliau tidak mengingkari budak tersebut dihadapan para shahabatnya supaya tidak timbul anggapan yang menyelisihi jawaban tersebut, bahkan Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menetapkannya dan bersabda : “Merdekakanlah dia karena sesungguhnya dia adalah seorang yang mukminah”. (Lihat :Majmu’atur Rosa`il Al-Muniriyah 1/176).

@      Berkata Imam Adz-Dzahaby (wafat th. 748 H.) : Hadits ini adalah hadits yang shohih dikeluarkan oleh Imam Muslim, Abu Daud, An-Nasa`i dan Imam-Imam lainnya dalam karya-karya mereka. Mereka memahami apa adanya tanpa ta`wil (memalingkan dari makna sebenarnya tanpa dalil,-pent.) dan tidak pula merubah-rubah. Dan demikianlah kami melihat, semua orang yang ditanya“Dimana Allah ?” maka akan menjawab dengan tepat sesuai dengan fitrahnya bahwasanya Allah berada di atas langit.

Dalam hadits ini ada dua perkara yang penting :

  1. Disyari’atkannya ucapan seorang muslim untuk bertanya :“Dimana Allah ?”.
  2. Disyari’atkan jawaban yang ditanya : “Di atas langit”.

Maka siapa yang mengingkari kedua perkara ini maka sesungguhnya dia mengingkari Al-Musthofa shollallahu ‘alaihi wa sallam.

(Lihat Mukhtashor Al-’Uluw hal. 81).

 

Makna Al-’Uluw Dan Al-Istiwa` Serta Perbedaan Antara Keduanya

Pengertian Al-’Uluw secara bahasa adalah bermakna As-Samuw(diatas) dan Irtifa‘ (ketinggian).

(lihat : Mu’jam Maqayis Al-Lughoh 4/122 karya Ibnu Faris).

Kata Al-‘Uluw menurut para ulama dalam nash Al-Qur`an dan Sunnah tidak keluar dari tiga makna :

1.       ‘Uluwudz Dzat (Ketinggian Dzat)

Di katakan : Fulan ‘Uluw di atas gunung, yaitu apabila ia berada diatasnya.

2.       ‘Uluwul Qahr (Ketinggian kekuasaan dan keperkasaan).

‘Uluw jenis ini menunjukkan makna keagungan dan kesombongan sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin ‘Uluw (menyombongkan diri) dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Qoshosh : 83)

3.       ‘Uluwul Qadr (Ketinggian derajat/kekuatan).

Dan kata Al-‘Uluw secara umum di mutlakkan pada ketinggian yang merupakan lawan dari kerendahan atau di bawah.

 

Adapun Al-Istiwa` secara bahasa, ada beberapa penggunaan :

  1. Apabila Al-Istiwa` tidak Muta’addi maka ia bermakna lengkapdan sempurna. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala :

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى ءَاتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا

“Dan setelah Musa cukup umur dan telah Istiwa` (sempurna akalnya), Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan”.” (QS. Al-Qoshosh : 14)

  1. Dan apabila Al-Istiwa` Muta’addi maka Al-Istiwa` tidak lepas dari empat makna :

@      Al-‘Uluw : Tinggi.

@      Al-Irtifa’ : Tinggi.

@      Al-Istiqrar : Menetap (di atas ketinggian).

@      Al-Sho’ud : Naik (di atas).

 

Perbedaan antara sifat Al-‘Uluw dan Al-Istiwa`:

Para ulama menyebutkan beberapa perbedaan antara keduanya :

  1. Al-Istiwa` termasuk sifat-sifat yang ditetapkan hanya dengan perantara nash baik Al-Qur`an maupun As-Sunnah dalam artian kalau Allah tidak mengabarkan tentang Istiwa`-Nya maka kaum musliminpun tidak mengetahuinya, berbeda dengan Al-‘Uluw yang dapat ditetapkan secara nash, akal maupun fitroh. Lihat Al-Fatawa 5/122, 152 dan 523.
  2. Al-Istiwa` termasuk sifat Fi’liyah (perbuatan) yang Allah bersifat dengannya sesuai dengan kehendaknya. AdapunAl-‘Uluw adalah sifat Dzatiyah yang terus-menerus Allah bersifat dengannya.
  3. Al-Istiwa` adalah bagian dari Al-‘Uluw namun Al-Istiwa` lebih khusus darinya atau dengan kata lain Al-Istiwa` adalahAl-‘Uluw yang khusus.

 

Dalil – Dalil Tentang Ketinggian Allah

Dan sungguh telah mutawatir dalil-dalil kitab dan sunnah secara lafadz dan makna tentang tetapnya sifat ini bagi Allah. Dan dalil-dalil itu mencapai seribu dalil sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dari sebahagian pengikut As-Syafi’iyah (lihat Al-Fatawa 5/121 dan Ash-Showa’iqul mursalah 4/1279) dan berkata Ibnul Qoyyim : “Dan seandainya kami ingin maka kami akan datangkan seribu dalil tentang masalah ini (‘Al-‘Uluw,-pent). (Lihat Ijtima’ul Juyusy hal. 331)

Dalil-dalil dari Al-Qur`an.

Adapun dalil-dalil dari Al-Qur`an sangatlah banyak, bahkan Imam Ibnul qoyyim telah membagi dalil-dalil naqliyah yang menunjukkan akan ketinggian Allah menjadi dua puluh satu bagian, diantaranya : penyebutan secara shorih (jelas) dengan kata Istiwa` dan ketinggian Allah dari apa-apa yang ada dibawahnya, penyebutan naiknya sesuatu kepadanya, diangkatnya sebagian makhluk padanya diturunkannya kitab darinya, pengkhususan sebagian makhluk-Nya bahwa mereka disisi-Nya diatas langit, diangkatnya tangan-tangan kepada-Nya, turunnya Allah setiap malam ke langit dunia dan yang semisalnya. (lihat Mukhtasar Ash-Showa’iq 2/205 dan sesudahnya, An-Nuniyah dengan syarah Syaikh Al-Harras 1/184-251 dan Syarh Al-Aqidah At-Thohawiyah hal. 380-386).

Diantara ayat-ayat tersebut:

[ 1 ]الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.”(QS. Thoha : 5)

Dan pada enam tempat dalam Al-Qur`an, Allah berfirman :

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Kemudian Dia Istiwa` (bersemayam) di atas ‘Arsy.” (QS. Al-A‘raf : 54, Yunus : 3, Ar-Ra’d : 2, Al-Furqan : 59, As-Sajadah : 4, dan Al-Hadid : 4)

Berkata Abul ‘Aliyah : اِسْتَوَى عَلَى السَّمَاءِ artinya اِرْتِفَاعٌ (di atas) dan berkata Mujahid اِسْتَوَى artinya عَلاَ (di atas). Lihat : Fathul Bary13/403-406.

Kata Imam Al-Qurthuby dalam Tafsirnya : “Dan para salaf terdahulu tidak mengatakan atau melafadzkan bahwa tidak ada arah (sisi) bahkan mereka sepakat mengatakan dengan lisan-lisan mereka untuk menetapkannya bagi Allah sebagaimana Al-Qur`an dan Rasul-Nya berbicara dan tidak ada seorangpun dari salaf yang mengingkari bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya secara hakiki dan mengkhususkan ‘Arsy-Nya karena dia sudah merupakan makhluk-Nya yang paling besar dan mereka tidak mengetahui kaifiat istiwa`karena  tidak diketahui hakikatnya”. (Lihat : Tafsir Qurthuby7/219).

Kata Ibnu Katsir : “Manusia dalam menafsirkan ayat ini sangat banyak pendapatnya dan bukan tempatnya untuk menjelaskannya tetapi kita mengikuti pada masalah ini madzhabnya As-Salafus Sholih ; Malik, Al-‘Auza’iy, Ats-Tsaury, Al-Laitsy bin Sa’ad, Asy-Syafi’iy, Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan selainnya dari Imam-Imam kaum muslimin baik dahulu maupun sekarang, yaitu mentafsirkannya sebagaimana adanya (zhohirnya) tanpa takyif(membagaimanakannya), tasybih (menyerupakannya) dan ta’thil(menolaknya)”.

[ 2 ]أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di atas langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?”. (QS. Al-Mulk : 16)

Ayat ini jelas sekali menunjukkan ketinggian dan keberadaan AllahSubhanahu wa Ta’ala di atas langit serta menutup jalan untuk meniadakan atau menghilangkan sifat ketinggian-Nya atau mentakwilkannya.

Kata Imam Ahmad : Ini adalah berita dari Allah yang memberitahukan pada kita bahwasanya Dia berada diatas langit dan kami mendapati segala sesuatu dibawah-Nya adalah tercela. AllahJalla Tsana`uhu berfirman :

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. (QS. An-Nisa` : 145)

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا رَبَّنَا أَرِنَا الَّذَيْنِ أَضَلَّانَا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ نَجْعَلْهُمَا تَحْتَ أَقْدَامِنَا لِيَكُونَا مِنَ الْأَسْفَلِينَ

“Dan orang-orang kafir berkata : “Ya Tuhan kami perlihatkanlah kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami (yaitu) sebagian dari jin dan manusia agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina”.” (QS. Fushshilat : 29)

(Baca : Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyah karya Imam Ahmad hal 136.)

Kata Imam Al-Baihaqy, berkata Syaikh Abu Bakr Ahmad bin Ishaq bin Ayyub Al-Faqih : “Kadang-kadang orang-orang Arab meletakkan (في) di tempat (على) sebagaimana dalam firman Allah :

وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ

“Dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma”. (QS. Thoha : 29)

Maksudnya adalah di atas pangkal pohon korma.

Dan Allah berfirman :

فَسِيحُواْ فِي الأَرْضِ

“Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di permukaan bumi”.(QS. At-Taubah : 2).

Maknanya di atas permukaan bumi. Demikian pula firman-Nya (في السماء) maknanya di atas ‘Arsy di atas langit”. (Lihat : Al-Asma` wa Ash-Shifat 2/330)

[ 3 ]سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

“Sucikanlah nama Rabbmu Yang Maha Tinggi”. (QS. Al-A’la : 1)

Ayat ini merupakan dalil yang jelas bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas semua makhluk-Nya. Dan Rasulullahshollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam memerintah untuk mengucapkan di waktu sujud :

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى

“Maha Suci Robbku yang Maha Tinggi”.

Dengan pernyataan ini berarti kita tunduk dan merendahkan diri pada-Nya dengan hati dan anggota badan. Hal ini menunjukkan bahwa kita di bawah dan rendah serta pengakuan akan ketinggian Allah dengan lisan-lisan kita yang menunjukkan Allah berada di atas dan Maha Tinggi.

[ 4 ]يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)”. (QS. An-Nahl : 50)

Ayat ini menetapkan ketinggian Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam ayat ini para malaikat yang takut kepada Rabb mereka yang berada diatas mereka. Dan merupakan hal yang telah diketahui bahwa para malaikat itu berada di langit dan di atas kita, sedangkan di atas mereka adalah Rabbul ‘Izzah.

[ 5 ] وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَاهَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ , أَسْبَابَ السَّمَوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا وَكَذَلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلَّا فِي تَبَابٍ

“Dan berkatalah Fir`aun : “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Rabb Musa dan sesungguhnya aku menganggapnya sebagai seorang pendusta”. Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian”. (QS. Al-Mukmin : 36-37)

Dalam ayat ini ada dalil yang sangat jelas bahwasanya Musa mendakwahi Fir’aun untuk mengenal Allah yang berada di atas langit. Oleh karena itu Fir’aun memerintahkan Haman untuk membangunkan untuknya bangunan yang tinggi untuk melihat Rabb Musa. Dengan mengatakan : “sesungguhnya aku menganggapnya sebagai seorang pendusta”. Lalu bagaimana kedudukan orang-orang yang mengingkari Allah berada diatas langit, manakah yang lebih baik mereka daripada Fir’aun dalam masalah ini?.

(lihat Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyah hal 45)

 

Dalil-dalil dari As-Sunnah yang shahih:

Adapun dalil-dalil dari As-Sunnah juga sangat banyak bahkan digolongkannya sebagai hadits yang mutawatir oleh Imam Adz-Dzahabi dalam Mukhtashor Al-‘Uluw dan yang lainnya. Dan dalil-dalil tersebut kadang dari ucapan beliau, kadang dari perbuatannya dan kadang dari taqrir (penetapan) dari beliau terhadap perbuatan shohabat, diantara dalil-dalil tersebut adalah :

1.      Dari Abi Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu, Rasulullahshollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

أَلآ تَأْمَنُوْنِيْ وَأَنَا أَمِيْنٌ مَنْ فِيْ السَّمَاءِ, يَأْتِيْنِي خَبَرٌ مِنَ السَّمَاءِ فِي الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ

Tidakkah kalian percaya padaku sedangkan aku adalah kepercayaan Yang berada di langit. Datang kepadaku wahyu dari langit di waktu pagi dan petang”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)

2.      Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullahshollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

اَلرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنِ, اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang akan di sayangi oleh Yang Maha Rahman, sayangilah siapa saja yang ada di bumi niscaya kalian akan di sayangi oleh Yang berada di atas langit”. (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albany dalam As-Shahihahno : 922).

3.      Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata :

إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ قاَلَ فِيْ خُطْبَتِهِ يَوْمَ عَرَفَةَ : (( أَلآ هَلْ بَلَغْتُ ؟ )) فَقَالُوْا : نَعَمْ. فَجَعَلَ يَرْفَعُ أُصْبُعَهُ إِلَى السَّمَاءِ وَيُنْكِتُهَا إِلَيْهِمْ وَيَقُوْلُ : (( اَللَّهُمَّ اشْهَدْ !))

“Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda pada khutbah ‘Arafah : “Apakah aku sudah menyampaikan (risalah)?”, para shahabat menjawab : “Ya”, kemudian Rasulullah mengangkat telunjuknya ke langit kemudian beliau menunjuk ke arah para shahabat sambil bersabda : “Ya Allah, saksikanlah !”.” (HR. Muslim)

Isyarat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dengan telunjuk beliau yang mulia ke langit dan meminta persaksian Rabbnya atas ummatnya adalah isyarat yang pasti atas ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘alaalihi wa sallam mengetahui dimana Rabbnya dengan wahyu dari Allah Jalla fii ‘Ulahu.

4.      Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :

أَنَّ رَجُلاً دَخَلَ الْمَسْجِدَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ وَالنبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ قَائِمٌ يَخْطُبُ, فَقَالَ : يَا رسولَ اللهِ, هَلَكَتِ الْأَمْوَالُ وَانْقَطَعَتِ السُّبُلُ فاَدْعُ اللهَ يُغِيْثُنَا. فَرَفَعَ يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ : (( اَللَّهُمَّ اَغِثْنَا, اَللَّهُمَّ اَغِثْنَا ))

‘Sesungguhnya seorang laki-laki masuk ke mesjid pada hari Jum’at sedangkan Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sedang berdiri berkhutbah, kemudian laki-laki tersebut berkata : “Wahai Rasulullah, telah hancur harta benda, telah putus jalan-jalan, maka berdo’alah kepada Allah agar menurunkan hujan kepada kami”. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya dan berdo’a : “Ya Allah, hujanilah kami, ya Allah, hujanilah kami”.” (HR. Al-Bukhary-Muslim)

Nabi shollallahu “alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mengangkat kedua tangannya adalah isyarat bahwa Allah Azzat ‘Azhomatuhu berada di atas langit.

 

Dalil-dalil dari Ijma’:

Telah dinukil kesepakatan para ulama tentang ketinggian Allah diatas makhluk-Nya, diantaranya dari :

1.       Al-Imam Ad-Darimy di dalam kitabnya Ar-Radd ‘Alal Jahmiyah hal. 44 berkata : “Kemudian kesepakatan dari orang-orang terdahulu dan belakangan, orang alimnya dan jahilnya bahwa jika salah seorang di antara mereka ber-istighotsah, berdo’a atau meminta kepada Allah, dia menengadahkan kedua tangannya dan mengangkat pandangannya ke langit kemudian berdo’a. Dan tidak seorangpun dari mereka berdo’a mengarah ke bawah, ke depan, ke belakang, ke kanan dan ke kiri tetapi ke arah langit karena pengetahuan mereka bahwa Allah berada di atas …”.

Dan beliau berkata di hal. 66 : “Celaka kalian !, kesepakatan para shahabat, tabi’in dan seluruh umat terhadap tafsir Al-Qur`an,Fara`idhhudud dan hukum-hukum tentang turunnya ayat ini, begini bunyinya dan sebabnya begini dan begini, dan turunnya surat ini pada keadaan begini dan begini. Kami tidak mendengar seorangpun yang mengatakan bahwa ayat ini bersumber dari bawah bumi, dari depan atau dari belakang, akan tetapi turun dari atas langit”.

2.       Berkata Ishaq bin Rahawaih : “Merupakan kesepakatan di kalangan ahlul ‘ilmi bahwasanya Allah istiwa` di atas Arsy-Nya, Dia mengetahui segala sesuatu yang ada di lapis bumi yang tujuh, di dasar lautan, di puncak gunung, di perut bumi dan di seluruh tempat sebagaimana Dia mengetahui apa yang ada di langit yang tujuh dan apa yang ada di bawah Arsy, Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu”.

(Lihat : Ijtima‘ul Juyusy hal. 171 dan Mukhtashor Al-’Uluw hal. 194)

3.       Berkata Ibnu ‘Abdil Barr : “Sepakat para ulama dari kalangan shahabat dan tabi’in –yang ilmu ta`wil (tafsir) diambil dari mereka- mereka menta`wilkan (mentafsirkan) firman Allah : “Tidaklah tiga orang berbisik-bisik kecuali Allah yang keempat”, yaitu Dia (Allah) berada di atas Arsy dan Ilmu-Nya di semua tempat dan tidak ada seorangpun -yang menyelisihi mereka- diambil perkataannya sebagai hujjah”. Lihat Mukhtashor Al-’Uluw hal. 268

4.       Berkata Imam Muhammad bin ‘Utsman bin Abi Syaibah : “Semua makhluk sepakat bahwa apabila mereka berdo’a seluruhnya mengangkat tangannya ke langit. Kalaulah seandainya Allah ‘Azza wa Jalla berada di bawah yaitu bumi, maka tidak mungkin mereka mengangkat tangan ke langit (ketika berdo’a) sedangkan Allah bersama mereka di bumi. Kemudian riwayatnyapun datang secaramutawatir bahwasanya Allah menciptakan Arsy kemudian istiwa`diatasnya dengan Dzat-Nya. Kemudian Allah ciptakan bumi dan langit maka menjadilah doa mereka dari bumi ke langit dan dari langit ke Arsy dan Allah berada di atas langit, di atas Arsy dengan Dzat-Nya, tidak bercampur, (melainkan) berpisah dari makhluk-Nya, Ilmu-Nya bersama mereka dan tidak ada sesuatupun yang keluar dari Ilmu-Nya”. (Lihat Kitabul ‘Arsy hal. 58)

5.        Berkata Abu Nashr As-Sijzy : “Dan para imam kami –seperti : Ats-Tsaury, Malik, Ibnu ‘Uyyainah, Hammad bin Zaid, Al-Fudhoil, Ahmad dan Ishaq- semuanya sepakat bahwa Allah berada di atas Arsy dengan Dzat-Nya dan sesungguhnya Ilmu-Nya ada di seluruh tempat”. (Lihat : Ijtima‘ul Juyusy hal. 97)

6.       Berkata Abu ‘Umar Ath-Thalmanky di dalam kitabnya yang berjudul Al-Ushul : “Sepakat kaum muslimin dari kalangan Ahlussunnah bahwasanya Allah istiwa` di atas Arsy dengan Dzat-Nya”.

(Lihat : Ijtima‘ul Juyusy hal. 101 dan Syarh Haditsun Nuzul hal. 142).

 

Dalil-dalil secara akal:

1.      Dari dulu Allah itu ada dan tidak ada sesuatu apapun bersama-Nya kemudian Allah menciptakan makhluk maka tatkala Allah menciptakan mereka maka hanya ada dua kemungkinan, Allah menciptakan  makhluk-Nya berada dalam diri-Nya atau menciptakannya diluar diri-Nya, yang pertama adalah bathil secara pasti dengan kesepakatan. Sebab Allah di sucikan dari hal-hal yang bertentangan dan disucikan merasuk di kotoran-kotoran, Maha Tinggi Allah dari hal tersebut.

Hal itu mengharuskan Allah berpisah dari makhluk-Nya dan makhluk tidak mungkin bersatu dengan Allah.

2.      Dan dikatakan : kemungkinan  Allah masuk (berada) di alam atau berpisah dengan Alam dan sungguh telah pasti dan harus Allah itu berpisah dengan alam, dan kalau berpisah maka mengharuskan Allah  berada diatasnya, hal ini diperjelas dengan perkara berikut :

3.      Bahwasanya arah diatas adalah arah yang paling mulia dan itu menunjukkan sifat kesempurnaan, tidak ada kekurangan dari sisi manapun juga, maka dengan hal itu mengharuskan akan kekhususan Allah dengan hal tsb dan ini adalahi kelaziman Dzat-Nya maka tidak ada wujud selain Dzat-Nya kecuali Allah tinggi berada diatasnya.

4.      Sesungguhnya diketahui dengan akal yang sehat tidak mungkinnya ada dua wujud salah satunya tidak sederetan pada yang lain dan tidak berpisah darinya dari satu sisipun.

(Lihat : Syarah Aqidah Thohawiyah hal 389-390, Dar`ut Ta’arudh Baina Al-Aql wan Naql 6/143-146 dan 7/3-10, Ar-Radd ‘Alal Jahmiyah karya Imam Ahmad hal 139 dan Al-Fatawa 5/152 dan yang lainnya.)

 

Dalil-dalil secara fitroh:

  1. Bahwasanya seorang hamba yang masih berada dalam fitrohnya, ia akan mendapatkan suatu perkara yang dhorury (pasti) yaitu tatkala dia berdoa kepada Allah dalam keadaan gawat maka dia akan tujukan/arahkan hatinya kepada Allah yang Maha Tinggi dan berada diatas.
  2. Di mendapatkan gerakan mata dan tangannya dengan isyarat keatas mengikuti isyarat hatinya keatas dan ia mendapatkan hal itu secara dhorury (spontan dan pasti).
  3. Bahwasanya barbagai macam umat telah bersepakat akan hal itu tanpa disengaja.
  4. Mereka mengatakan dengan lisan-lisan mereka : “Bahwa kami mengangkat tangan-tangan kami kepada Allah dan mereka mengabarkan tentang diri-diri mereka bahwa hal itu mereka dapatkan pada hati-hati mereka secara dhorury (spontan dan pasti) mengarah keatas.

(lihat : Naqdhut Ta`sis 2/447, At-Tahmid karya Ibnu Abdil Baar 7/137, Ar-Raddu ‘Alalal Jahmiyyah karya Ad-Darimy hal 37 dan lain-lain).

Dalam masalah ini kebanyakan ulama menyebutkan kisah Abul Ma’aly Al-Juwainy bersama Abu Ja’far Al-Hamadzany.

Secara global kisahnya adalah sebagai berikut :

Pada suatu ketika Al-Hamadzany datang dan ustadz Al-Juwainy berkata di atas mimbar : “Dari dulu Allah ada dan Arsy belum ada”, di mana beliau berusaha menafikan Istiwa`, maka Abu Ja’far Al-Hamadzany membantahnya dan berkata kepadanya : “Tinggalkan kami dari hal ini dan kabarkan kepada kami tentang perkara yang darurat ini yang kami dapatkan di hati-hati kami tidaklah seorang yang ‘Arif berkata “Ya Allah…” sama sekali kecuali ia mendapatkan dari hatinya suatu makna yang menuntut ketinggian, ia tidak akan menoleh kekanan dan tidak pula kekiri maka bagaimana kita  menolak suatu perkara yang dhorury (spontan dan pasti) ini dari hati-hati kami”.

Maka Abul Ma’aly berteriak dan meletakkan tangannya diatas kepalanya dan berkata : “Al-Hamadzany telah membuat saya bingung, Al-Hamadzany telah membuat saya bingung lalu iapun turun dari mimbar”.”

(lihat Al-Fatawa 3/220 dan 4/44,61, Al-Istiqomah 1/167, As-Siyar 18/474-475, Al-‘Uluw karya Adz-Dzahaby hal 177, Thobaqot As-Syafi’iyyah karya As-Subky 3/262-263 dan lainnya dan Syaikh Al-Albany membawakan Atsar dalam Mukhtashor Al-‘Uluw hal 277 bahwa sanad kisah ini shohih musalsal dengan Al-Huffadz.

Dan Syaikhul Islam memberikan catatan kaki terhadap kisah ini dan berkata : “Maka Syaikh ini mengabarkan dari setiap orang yang mengetahui Allah bahwasannya ia mendapatkan di dalam hatinya gerakan yang dhorury (spontan dan pasti) menuju keatas apabila berkata : “Ya Allah…”, dan hal ini mengharuskan bahwa didalam fitroh-fitroh dan perbuatan-perbuatan mereka ada ilmu bahwa Allah itu diatas dan mengarahkannya bahwa arah menghadap kepada-Nya keatas”.

(lihat Naqdhut Ta`sis dengan perantara tahqiq Hamd bin Abdul Hasan At-Tuwaijiry terhadap Al-Fatawa Al-Hamawiyah hal 114.)

Dan termasuk kisah yang sangat baik untuk diangkat dan disebutkan disini adalah peristiwa yang terjadi antara Syaikhul Islam dengan salah seorang Syaikh yang menafikan Al-‘Uluw, berkata Syaikhul Islam mengabarkan hal itu “Sesungguhnya telah terjadi pada diriku dengan mereka yang menafikan hal ini yakni sifatAl-‘Uluw, dengan salah seorang masya`ikh mereka dan dia meminta dariku suatu keperluan maka sayapun mengajaknya bicara tentang masalah ini seakan-akan saya tidak mengingkarinya. Kemudian saya mengakhirkan untuk memenuhi keperluannya sehingga dadanya menjadi sempit maka iapun mengangkat matanya dan kepalanya kearah langit dan berkata : “Ya Allah…”, maka saya pun berkata kepadanya, kamu menguatkan dan membenarkan orang yang mengangkat mata dan kepalanya !? apakah di atasmu ada seseorang ? maka ia berkata Astghfirullah dan ia pun rujuk kembali dari hal itu takkala telah jelas bahwa keyakinannya menyelisihi fitrohnya, kemudian saya menjelaskan rusaknya perkataan ini maka iapun bertaubat dari hal ini itu dan rujuk pada perkataan kaum muslimin yang telah tetap pada fitroh-fitroh mereka”. (Dar`ut-Ta’arudh  Al-’Aql wan Naql 6/343-344).

Sumber : al-atsariyyah.com


[1] Singgasana Allah, Allah istiwa’ diatasnya sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya. Dan Al-Arsy adalah salah satu makhluk Allah yang sangat besar.

[2] Baca uraian lengkap tentang takhrij dan penjelasan ucapan beliau ini dari tulisan Syaikh Doktor ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin ‘Al-‘Abbad dalam Majalah Al-Jami’ah Al-Islamiyah no. 111 dan 112 tahun 1421 H.

Mengenal Macam-macam Najis

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

“Dialah Allah yang telah menciptakan semua yang ada di bumi ini untuk kalian” (QS. Al Baqarah : 29)

Dari ayat di atas, para ulama mengambil sebuah kaidah yang sangat berharga, yaitu

الأصل الطهارة في كلّ شيء

“Hukum asal segala sesuatu adalah suci”

Maka hukum asal segala jenis materi, baik air, tanah, kain, dan bejana adalah suci hingga kita yakin bahwa benda-benda tersebut terkena najis. Adapun jika kita ragu, semisal kita menemukan gelas di atas meja dan kita tidak tahu apakah gelas tersebut terkena najis atau tidak, maka dikembalikan kepada hukum asalnya, yakni gelas tersebut suci.

Adapun jika mengklaim akan najisnya suatu benda, maka klaim tersebut membutuhkan dalil. Hal ini dikarenakan dia telah mengeluarkan benda tersebut dari hukum asalnya, yaitu suci. Oleh karena itulah, Allah dan Rasul-Nya menjelaskan berbagai hal yang suci di dunia ini dalam bentuk umum sedangkan untuk yang najis dengan cara rinci. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ

“Sesungguhnya Allah telah merinci untuk kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu” (QS. Al An’am : 119)

Oleh karena itulah, segala sesuatu yang ditegaskan oleh Allah dan Rasul-Nya bahwa hal itu adalah najis, maka hukumnya najis. Jika tidak ada penjelasan khusus di dalam syari’at bahwa benda tersebut termasuk najis, atau tidak bisa diqiyaskan dengan benda najis lainnya, maka kembali ke hukum asal, benda tersebut statusnya suci. Inilah kaidah yang hendaknya kita pahami terlebih dahulu.

Jika sudah memahami kaidah di atas, maka kita akan masuk ke dalam perincian hal-hal yang najis. Adapun macam-macam najis yang dijelaskan di dalam syari’at adalah :

  • Kencing dan kotoran manusia

Keduanya adalah najis dengan sepakat ulama.

  • Madzi

Madzi adalah cairan yang berwarna putih yang encer dan lengket yang keluar ketika mulai bangkitnya syahwat. Dalil najisnya madzi adalah hadits ‘Ali radhiyallahu ‘anhudimana beliau mengatakan :

“Aku adalah laki-laki yang mudah keluar madzi. Dan aku malu untuk bertanya kepada Nabi karena istriku adalah putri beliau. Maka aku mengutus Al Miqdad bin Al Aswad untuk bertanya kepada Nabi (tentang status madzi ini). Nabi pun menjawab :

يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ

“Hendaknya dia mencuci kemaluannya dan berwudhu.” (HR. Muslim)

Pendapat bahwa madzi adalah najis adalah pendapat mayoritas ulama.

*Faidah : Berdasarkan hadits di atas, terdapat perbedaan cara bersuci dari kencing dan madzi. Jika bersuci dari kencing, cukup membersihkan tempat keluarnya air kencing. Adapun bersuci dari madzi adalah dengan membersihkan kemaluannya (tidak hanya tempat keluarnya air kencing, ed).

  • Wadi

Wadi adalah air yang berwarna putih keruh yang kental yang biasanya keluar setelah buang air kecil atau beraktifitas berat. Wadi adalah najis dengan sepakat ulama.

  • Darah haid dan darah nifas

Dalil najisnya darah haid adalah hadits Asma binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma ,beliau berkata :

“Seorang wanita datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata : ‘Pakaian salah seorang dari kami terkena darah haid. Apa yang harus dia lakukan?’. Nabi menjawab :

تَحُتُّهُ، ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالْمَاءِ، وَتَنْضَحُهُ، وَتُصَلِّي فِيهِ

“Keriklah bajunya. Lalu peraslah dengan air. Lalu basuhlah. Setelah itu dia boleh sholat dengan baju tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan Imam An Nawawi rahimahullah menukil ijma’ (kesepakatan) ulama akan najisnya darah haid.

*Faidah : Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “keriklah” mengisyaratkan bahwa darah haid meskipun sedikit tetaplah teranggap najis dan tidak dimaafkan.

  • Seluruh tubuh babi

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ

“Katakanlah: “Tiadalah aku temukan dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi karena sesungguhnya babi itu kotor” (QS. Al An’am : 145)

Pendapat bahwa seluruh badan babi adalah najis adalah pendapat Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan selain mereka rahimallahu al jamii’. Maka yang najis dari babi adalah seluruh badannya, bukan hanya dagingnya saja.

  • Kotoran hewan yang haram dimakan dagingnya

Dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang kolam yang didatangi oleh hewan buas dan hewan lainnya untuk minum di sana atau buang air disana, apakah airnya menjadi najis? Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammenjawab :

إذا كان الماء قلتين لم يحمل الخبث

“Jika airnya berjumlah minimal 2 qullah, maka tidak najis” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan An Nasa’i. Status hadits ini diperselisihkan oleh para ulama, ed)

Maka dalam hadits tersebut ada persetujuan Nabi bahwa kencing dan sisa minum hewan buas (dimana hewan buas termasuk hewan yang haram dimakan) adalah termasuk dzat najis.

  • Air liur anjing

Dalil najisnya air liur anjing adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :

طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ، أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ

“Sucinya bejana kalian jika dijilat anjing adalah dengan mencucinya 7 kali yang diawali dengan tanah” (HR. Muslim)

Maka untuk mensucikan bejana yang terjilat anjing adalah dengan mencucinya sebanyak 7 kali, salah satunya menggunakan air yang dicampur tanah. Pendapat bahwa air liur anjing itu najis adalah pendapat mayoritas ulama seperti Imam Asy Syafi’I, Imam Ahmad, dan lainnya.

  • Sisa air minum hewan buas yang dilarang untuk dimakan dagingnya

Ini adalah pendapat Imam Ahmad dan ulama lainnya berdasarkan hadits Ibnu ‘Umarradhiyallahu ‘anhuma sebelumnya yang terdapat di dalam 4 kitab Sunan. Akan tetapi, hal ini tidak berlaku untuk kucing meski kucing memiliki taring. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ، إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ

“Sesungguhnya kucing itu tidak najis karena dia termasuk hewan yang sering berkeliling di sekitar kalian” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan An Nasa’i)

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menguatkan pendapat yang mengatakan sucinya sisa minum dari keledai dan baghol (peranakan kuda dengan keledai) karena keduanya termasuk ath thawwafiin dalam hadits di atas, yang beraktifitas di sekitar manusia. Dan inilah pendapat yang benar.

  • Bangkai

Dalil najisnya bangkai adalah sabda Nabi berikut :

إِذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ

“Jika kulit bangkai telah disamak, maka sudah suci” (HR. Muslim)

Maka, dari hadits ini kita dapat memahami bahwa jika belum disamak, maka  kulit bangkai tersebut adalah najis. Setelah kulitnya disamak, barulah kulit bangkai tersebut menjadi suci. Hadits ini adalah dalil najisnya bangkai. Pendapat najisnya bangkai adalah pendapat mayoritas ulama.

Akan tetapi, ada bangkai yang tidak najis, yakni mayat manusia, bangkai ikan, dan bangkai belalang.

Wallahu a’lam.

Yananto Sulaimansyah

Santri Ma’had Al ‘Ilmi 1431-1433

Muroja’ah : Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyudi

Sumber : mahadilmi.wordpress.com

Referensi :

  1. Jam’ul Mahshul fii Syarhi Risaalati Ibni Sa’di fil Ushul karya Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan, cet. Daarul Muslim
  2. Matan Al Ghayah wat Taqrib fil Fiqhi Asy Syafi’I atau Matan Abi Syuja’ karya Al Qadhi Abu Syuja’ Ahmad bin Al Husain Al Ashfahani, cet. Daar Ibni Hazm. Tahqiq : Majid Al Hamawy
  3. Al Munakhkholah An Nuuniyyah karya Syaikh Murod Syukri, cet. Daarul Hasan

*Ketiganya adalah kitab panduan Ma’had Al ‘Ilmi dalam bidang ushul fiqih dan fiqih

*Tambahan faidah adalah faidah dari Ustadz Aris Munandar hafizhahullah di sela-sela pembahasan

*Jika najisnya suatu benda adalah ijma’ ulama, maka tidak disebut dalilnya agar tidak terlalu panjang

Bersyahadat Tapi Tidak Mau Zakat?

Soal: Apakah hukum seseorang yang telah bersaksi “Laa ilaha illallah” bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan menegakkan shalat, namun tidak mau menunaikan zakat. Ia juga tidak ridha dengan zakat tersebut selamanya. Apa hukumnya dalam Islam bila ia meninggal. Apakah ia dishalati ataukah tidak?

Jawab:

Zakat adalah salah satu rukun Islam. Maka siapa yang meninggallan zakat karena penentangan terhadap kewajibannya, hendaknya diterangkan hukumnya. Apabila ia tetap dalam pengingkarannya maka ia telah kafir. Dan tidak boleh dishalati jenazahnya, tidak boleh pula dimakamkan di pekuburan kaum muslimin.

Adapun bila ia meninggalkan zakat sebab kekikirannya, namun masih mengimani kewajibannya, maka orang itu telah berbuat dosa besar, dan menjadi orang fasik dengan sebab itu. Akan tetapi, ia belum menjadi kafir. Ia tetap dimandikan dan dishalati bila meninggal dalam keadaannya seperti ini. Dan di hari kiamat urusannya dikembalikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wa billahittaufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyina Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam.

[Al Lajnah Ad Daimah Lilbuhutsi Al ‘Ilmiyati wal Ifta’]

Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 18 vol. 02 1433 H – 2012 M, hal. 55.

Mati Tawuran Pelajar dalam Tinjauan Syariah

tawuran pelajar

Berita Seputar Tawuran Pelajar

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du

Bad news is good news, itulah prinsip berita. Peristiwa pembacokan seorang siswa SMA Yayasan Karya 66 (Yake) menjadi headline berita hampir di berbagai portal warta. Yang sangat disayangkan, sebab kematian siswa itu adalah tawuran antar-siswa SMA.

Kita tidak akan membahas dari sudut pandang pendidikan. Karena kita sepakat, menteri pendidikan tidak layak disudutkan kerena peristiwa ini. Kita juga tidak membahas dari sisi politik. Karena kejadian ini tidak memiliki korelasi langsung dengan pemerintah. Kita jadikan peristiwa ini sebagai bagian masalah umat. Sehingga masing-masing bisa mengambil ibrah untuk memperbaiki diri dan lingkungannya.

Islam sebagai agama rahmah sangat menghargai nyawa manusia. Saking berharganya, nyawa seorang muslim itu lebih bernilai dari pada dunia di sisi Allah ta’ala. Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“Sesungguhnya hancurnya dunia, itu lebih ringan di sisi Allah, dari pada terbunuhnya seorang muslim.” (HR. Nasa’i 3987, Turmudzi 1395, dan dishahihkan Al-Albani)

Karena itulah, islam melarang keras umatnya untuk melakukan segala tindakan yang bisa menghilangkan nyawa sendiri atau orang lain, kecuali karena alasan yang dibenarkan secara syariat, seperti jihad di jalan Allah ta’ala. Jihad menjadi salah satu alasan bolehnya mempertaruhkan nyawa, mengingat manfaatnya yang sangat besar. Untuk itulah, orang yang mati karena jihad di jalan Allah mendapat gelar kehormatan sebagai syahid.

Tentu saja, untuk bisa disebut jihad di jalan Allah, harus memenuhi segala persyaratannya. Sehingga tidak semua kasus hilangnya nyawa seorang muslim, bisa disebut jihad.

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang dari pelosok yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya tentang orang yang berperang agar disebut pemberani, atau berperang karena fanatisme, atau karena riya (mengharap pujian), manakah diantara mereka yang di jalan Allah. Beliau bersabda,

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ العُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Siapa yang berperang agar kalimat Allah ditinggikan maka dia di jalan Allah.” (HR. Bukhari & Muslim)

Menilik kriteria di atas, kita tentu sepakat bahwa tawuran bukan termasuk jihad fi sabilillah. Rasanya belum pernah kita jumpai ada orang yang tawuran dalam rangka meninggikan kalimat Allah. Kalaupun ada, itu karena kesalah-pahaman dengan makna meninggikan kalimat Allah. Di saat itulah, darah korban bisa jadi sia-sia. Tidak bernilai sebagai jenazah yang terhormat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

من قاتل تحت راية عمية يغضب لعصبة، أو يدعو إلى عصبة، أو ينصر عصبة، فقتل، فقتلة جاهلية

“Siapa yang berperang karena sebab yang tidak jelas, marah karena fanatik kelompok, atau motivasi ikut kelompok, atau dalam rangka membantu kelompoknya, kemudian dia terbunuh, maka dia mati jahiliyah.” (HR. Muslim 1848).

Yang dimaksud mati jahiliyah adalah mati dalam kondisi fasik (melakukan dosa besar).

Untuk membuat jera agar kaum muslimin menghindari tindakan tidak produktif semacam ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memberikan ancaman neraka,

إِذَا التَقَى المُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالقَاتِلُ وَالمَقْتُولُ فِي النَّارِ

“Apabila ada dua orang muslim yang saling adu pedang maka si pembunuh dan korbannya sama-sama di neraka.”

Para sahabatpun terheran mendengar hadis ini. Mereka bertanya, mengapa yang dibunuh juga di neraka? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

“Karena dia juga ingin membunuh saudaranya.” (HR. Bukhari 31 dan Muslim 2888).

Sungguh sangat memprihatinkan. Siswa SMA yang punya hobi tawuran, masyarakat kampung yang suka tawuran, segera tinggalkan kebiasaan buruk anda.

Hati-hati dengan Darah

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يجيء القاتل والمقتول يوم القيامة متعلق برأس صاحبه يقول: رب سل هذا لم قتلني؟

“Orang yang membunuh dan yang dibunuh akan datang papda hari kiamat dengan menenteng kepala temannya (pembunuh). Dia   (korban) melaporkan: Ya Allah, tanyakan kepada orang ini, mengapa dia membunuhku?” (HR. Ibn majah 2621 dan dishahihkan Al-Albani)

Anda yang saat ini sedang bermusuhan dengan sesama muslim, anda yang saat ini sedang dendam dengan orang lain, jangan sampai punya keinginan untuk membunuh saudara anda. Belum tentu jawaban si pembunuh bisa diterima Allah.

Allahu a’lam.

Oleh ustadz Ammi Nur Baits