(PUASA DIABETES) “HUKUM PUASA BAGI PENDERITA DIABETES” /SAKIT GULA/KENCING MANIS : Jika Diabetes Menyebabkan Tidak Bisa Berpuasa, Haruskah Penderita Diabetes (Penyakit Gula) Meninggalkan Puasa? | Beberapa tips berpuasa bagi penderita diabetes

Haruskah Penderita Diabetes (Penyakit Gula) Meninggalkan Puasa?

Sebuah pertanyaan dari seseorang di Aljazair dikirimkan kepada Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah:

PertanyaanSeseorang terkena penyakit gula (diabetes) dan telah disarankan oleh dokter untuk meninggalkan puasa, dikhawatirkan akan berpengaruh pada kesehatannya. Maka apa yang harus dia lakukan?

Jawab: Kami menasehatkan kepada penderita penyakit ini -semoga Allah Ta’ala membrikan kesembuhan dan kesehatan padanya serta memberinya kekuatan untuk melakukan ketaatan kepada-Nya- kami nasehatkan agar tetap berpuasa, dan Allah Ta’ala adalah sebaik-baik penolong. Bisa jadi puasa yaang dia tunaikan akan menjadi sebab bertambahnya kesehatannya. Selama di mampu menjalankan puasa maka dia hendaknya bersegera menjalankannya.

Para dokter itu bisa jadi mengatakan demikian karena memandang jalan yang lebih hati-hati, tapi bisa jadi di antara para dokter ada yang berkata demikian karena dia memang tidak peduli dengan puasa. Di sana ada dokter yang berusaha memberikan image bahwa penderita diabetes sama sekali sudah tidak bisa puasa, dan ini tidak benar. Karena telah dilakukan penelitian terhadap beberapa penderita di berbagai tempat bahwa para peneliti memberikan hasilnya bahwa banyak penderita diabetes mampu menjalankan puasa.

Maka hendaknya bersegera untuk menunaikan puasa, karena ini adalah kesempatan yang besar bertemu dengan bulan puasa bulan yang penuh kemuliaan. Hendaknya dia berpuasa dan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala, karena bisa jadi dia merasa lemah, merasa takut kalau-kalau batal, mintalah tolong kepada Allah Ta’ala. Dan juga berusaha untuk tidak menggunakan hal-hal yang justru akan menjatuhkan dia pada perkara yang membatalkan puasa. Wallahu A’lam.

Sumber: http://thalibmakbar.wordpress.com/2010/08/09/19-penderita-gula-diabetes-haruskah-puasa/

 

Jika Diabetes Menyebabkan Tidak Bisa Berpuasa

بسم الله الرحمن الرحيم

Sebuah pertanyaan disampaikan kepada Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhullah.

Pertanyaan: Saya seorang pria dan telah berusian 71 tahun, dan saya diuji dengan penyakit gula (diabetes) selama 7 tahun ini. Saya telah mencoba berobat dengan berbagai obat namun belum membawa manfaat bagi saya. Dan saya telah berusaha untuk berpuasa namun saya tidak mampu, saya berusaha lagi namun tetap tidak mampu. Maka ketika saya tidak mampu lagi puasa maka saya menggantinya dengan membayar fidyah. Apakah perbuatan saya ini benar? Apakah saya mencukupkan diri dari mencoba puasa dan cukup membayar fidyah? Jazakumullah khair.

Jawab: Segala puji bagi Allah Ta’ala, semoga shalawat dan salam tercurah bagi Rasulullah dan para pengikutnya, dan aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Amma ba’du.

Yang nampak dari pertanyaan ini, bahwa sang penanya tidaklah wajib untuk berpuasa karena Allah Ta’ala berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kalian sesuai dengan kemampuan kalian.”

Dia telah lanjut dalam usianya dan teruji dengan sakit gula, dan dia telah mencoba berpuasa namun tidak mampu, maka dia mengganti puasanya dengan memberi makan orang miskin (fidyah) setiap datang Ramadhan.Kecuali jika dia merasa membaik dan kuat puasa maka boleh baginya untuk puasa. Akan tetapi jika keadaannya seperti dalam pertanyaan maka dia membayar fidyah dan tiada dosa baginya dan tidak wajib puasa. Maka semuanya sesuai dengan kemampuan yang dia miliki karena Allah Ta’ala tidaklah membebani seorang muslim lebih dari kemampuannya.

Wallahu a’lam bishawab

 Sumber: http://thalibmakbar.wordpress.com/2010/08/12/jika-diabetes-menjadikan-saya-tidak-bisa-puasa/

Puasa Bagi Penderita Diabetes

Banyak kaum muslimin penderita diabetes yang ingin menjalankan ibadah puasa, meskipun mereka terlepas dari kewajiban itu bila kondisi kesehatan mereka tidak memungkinkan. Mengingat setiap penderita diabetes memiliki derajat penyakit yang berbeda-beda, pertanyaan apakah seorang diabetesi boleh berpuasa seringkali menjadi dilema yang dihadapi para ulama dan dokter.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Clinical and Experimental Hypertension edisi Juli 2008 menunjukkan bahwa penderita diabetes yang terkelola dengan baik dapat berpuasa dengan aman. Berikut adalah beberapa pedoman bagi seorangdiabetesi, apakah sebaiknya berpuasa:

 

Anda dapat berpuasa dengan aman bila:

  • Anda telah meminta saran dokter mengenai kondisi kesehatan Anda dan mendapatkan obat-obatan yang sesuai selama berpuasa.
  • Anda dapat mengendalikan diri tidak mengkonsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan pada saat berbuka dan sahur.

Anda sebaiknya tidak berpuasa bila:

  • Diabetes Anda tidak terkelola dengan baik.
  • Anda memiliki komplikasi diabetes serius seperti penyakit jantung atau hipertensi.
  • Anda sedang hamil atau menyusui.
  • Anda memerlukan pengawasan atau perawatan harian (seperti pada lansia atau mereka yang memiliki masalah kesadaran atau pemahaman).
  • Anda sedang sakit dengan kondisi temporer seperti flu dan lainnya yang cukup berat.
  • Anda memiliki riwayat diabetik ketoasidosis (kedaruratan yang terjadi saat gula darah tidak tersedia sebagai sumber tenaga sehingga tubuh menggunakan lemak sebagai penggantinya) atau Anda rentan pingsan karena hipoglikemi.

Beberapa tips berpuasa bagi penderita diabetes:

  • Mintalah saran dokter sebelum dan selama berpuasa, karena mereka mungkin akan mengubah atau mengganti obat yang harus Anda konsumsi.
  • Jangan menghentikan pengobatan, tetapi dosis dan waktunya harus disesuaikan dengan waktu berpuasa.
  • Usahakan untuk menambah porsi makanan yang lambat dicerna seperti buah-buahan, sayur-sayuran dan biji-bijian sehingga tidak menyebabkan lonjakan gula darah segera setelah berbuka.
  • Usahakan untuk makan sahur sedekat mungkin dengan waktu imsak/subuh, bukannya di tengah malam. Hal ini akan membuat gula darah lebih terjaga selama masa berpuasa.
  • Pantaulah kadar gula darah Anda secara ketat, misalnya tiga jam setelah berbuka atau sebelum makan sahur dan di siang hari. Hasil pengukuran dapat menunjukkan bagaimana tubuh Anda beradaptasi terhadap rutinitas baru.
  • Minumlah banyak air tawar di malam hari. Kurangi konsumsi teh dan kopi karena cenderung merangsang keluarnya air seni sehingga memicu dehidrasi di siang hari.
  • Bila Anda mengalami gejala kadar gula rendah (hipoglikemi) seperti berkeringat, gelisah, gemetar, lemah atau bingung, sebaiknya segera berbuka dengan minuman bergula yang diikuti makanan kaya karbohidrat.
  • Setelah Ramadhan, kunjungi dokter untuk memastikan kadar gula darah Anda terkelola dengan baik dan apakah obat-obatan yang diberikan perlu disesuaikan kembali.

Sumber : http://majalahkesehatan.com/puasa-bagi-penderita-diabetes/

Disalin dari artikel blog dr. Abu Hana untuk blog Abu Abdurrohman

Iklan

Fiqh Puasa Syawal

Disunnahkan mengiringi puasa Ramadlan dengan puasa enam hari di bulan Syawal dan itu sebanding dengan puasa selama setahun.

Diriwayatkan dari Abu Ayyub Al-Anshari radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ صاَمَ رَمَضَانَ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالَ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ.

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadlan, lalu ia mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti puasa selama setahun”.[1]

Dari Tsauban radliyallaahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ فَذَلِكَ تَمَامُ السَّنَةِ.

”Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadlan maka puasa sebulan itu sama dengan sepuluh bulan; dan dengan puasa enam hari setelah berbuka (‘Iedul-Fithri), maka ia melengkapi puasa setahun”.[2]

Al-Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam Syarh Muslim (3/238) :

قال العلماء: وإنما كان ذلك كصيام الدهر لأن الحسنة بعشر أمثالها فرمضان بعشرة أشهر والستة بشهرين، وقد جاء هذا في حديث مرفوع في كتاب النسائي

”Para ulama mengatakan bahwa hal itu sebanding dengan puasa setahun karena satu kebaikan balasannya sepuluh kali lipat dan puasa sebulan Ramadlan sama dengan puasa sepuluh bulan, sedang puasa enam hari sama dengan puasa dua bulan. Keterangan ini juga terdapat pada hadits marfu’ dalam kitab An-Nasa’i” [selesai].

 

Ibnu Qudamah berkata dalam Al-Mughniy (4/438) :

وَجُمْلَةُ ذَلِكَ أَنَّ صَوْمَ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِن شَوَّال مُستَحَبٌّ عِنْدَ كَثِيْرٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ. رُوِيَ ذلك عَنْ كَعْب الأَحْبَاب، وَالشَّعْبِيِّ، وَمَيْمُونِ بن مِهْرَانَ. وَبِهِ قَالَ الشَّافِعِيُّ.

“Kesimpulan dari hal itu adalah bahwa puasa enam hari pada bulan Syawwal disunnahkan sebagaimana pendapat kebanyakan ulama’ dan hal itu diriwayatkan dari Ka’ab Al-Ahbar, Asy-Sya’bi, dan Maimun bin Mihran; dan hal ini adalah pendapat Al-Imam Asy-Syafi’iy” [selesai].

Puasa enam hari ini dinyatakan sunnah oleh Asy-Syafi’iy, Ahmad[3], dan ulama yang sependapat dengan mereka. Dalil mereka adalah hadits shahih yang menegaskan hal itu. Sedangkan yang melarang puasa ini adalah Hasan Al-Bashri rahimahullah.

Dari Israil bin Abi Musa dari Hasan Al-Bashri, ia berkata : “Apabila disebutkan puasa enam hari bulan Syawal di dekat Al-Hasan, maka ia berkata :

والله لقد رضي الله بصيام هذا الشهر عن السنة كلها

”Demi Allah, Allah telah ridla puasa satu bulan ini (Ramadlan) sebagai puasa untuk satu tahun penuh”.[4]

Ibnu Rajab dalam Lathaaiful-Ma’aarif (hal. 398) setelah menyebutkan atsar Al-Hasan mengatakan :

ولعله إنما أنكر على من اعتقد وجوب صيامها وأنه لا يكتفي بصيام رمضان عنها في الوجوب وظاهر كلامه يدل على هذا

“Barangkali pengingkarannya itu ditujukan terhadap orang yang meyakini puasa enam hari itu wajib, dan menurutnya puasa Ramadlan telah menjadi kewajiban untuk satu tahun. Dhahir perkataannya memang menunjukkan itu” [selesai].

Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan Malik[5] menyatakan makruh. Abu Yusuf berkata :

كانوا يكرهون أن يتبعوا رمضان صوما خوفا أن يلحق ذلك بالفرضية

“Para ulama kalangan Hanafiyyah memandang makruh mengiringi puasa Ramadlan dengan puasa lain (puasa enam hari bulan Syawal) karena dikhawatirkan akan disamakan dengan puasa wajib”.[6]

Dalam Al-Muwaththa’ (1/330) disebutkan :

قال يحيى وسمعت مالكا يقول في صيام ستة أيام بعد الفطر من رمضان إنه لم ير أحدا من أهل العلم والفقه يصومها ولم يبلغني ذلك عن أحد من السلف وإن أهل العلم يكرهون ذلك ويخافون بدعته وأن يلحق برمضان ما ليس منه أهل الجهالة والجفاء لو رأوا في ذلك رخصة عند أهل العلم ورأوهم يعملون ذلك

“Yahya berkata : Aku mendengar Malik berkata tentang puasa enam hari setelah berbuka (‘Iedul-Fithri) dari bulan Ramadlan : Bahwasannya ia (Malik) tidak melihat seorang ulama pun dan fuqahaa yang melakukan puasa ini dan ia juga tidak mendengar itu seorang pun dari kaum salaf. Para ulama telah memakruhkannya dan mereka takut itu termasuk bid’ah. Mereka juga takut orang yang tidak mengerti akan menyamakannya dengan puasa Ramadlan ketika mereka melihat ulama membolehkannya dan melakukannya” [selesai].

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Syarhul-‘Umdah (2/559) :

“Al-Imam Ahmad mengingkari orang yang memakruhkan puasa Syawal karena takut ada puasa selain Ramadlan yang disamakan dengan puasa Ramadlan. (Al-Imam Ahmad mengingkarinya) karena keutamaan dan anjuran puasa ini telah dijelaskan dalam sunnah. Kekhawatiran akan disamakan dengan puasa Ramadlan bisa terjadi bila dilakukan di awal Ramadlan tanpa ada pemisah antara puasa Ramadlan dan puasa selainnya. Sedangkan bila dilakukan di akhir Ramadlan, maka di antara keduanya telah dipisahkan oleh hari raya. Dan larangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam terhadap puasa hari raya menunjukkan bahwa larangan itu memang khusus berlaku di hari itu saja, sedangkan hari-hari setelahnya adalah hari yang dibolehkan dan diijinkan berpuasa. Sebab bila beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mau, tentu beliau akan melarang puasa di semua hari (bulan Syawal) sebagaimana beliau melarangnya di awal bulan Ramadlan dalam sabdanya :

لَا تُقَدِّمُوا رَمَضَانَ بِصَومِ يَومٍ وَلَا يَوْمَيْنِ.

“Janganlah kalian mendahului puasa Ramadlan dengan puasa sehari atau dua hari (sebelumnya)”.[7] [selesai].

Asy-Syaukani berkata dalam Nailul-Authaar (4/282) :

يكره صومها واستدلا على ذلك بأنه ربما ظن وجوبها وهو باطل لا يليق بعاقل فضلاً عن عالم نصب مثله في مقابلة السنة الصحيحة الصريحة وأيضاً يلزم مثل ذلك في سائر أنواع الصوم المرغب فيها ولا قائل به.

واستدل مالك على الكراهة بما قال في الموطأ من أنه ما رأى أحداً من أهل العلم يصومها ولا يخفى أن الناس إذا تركوا العمل بسنة لم يكن تركهم دليلاً ترد به السنة.

“Abu Hanifah dan Malik berkata : ‘Makruh hukumnya puasa Syawal’. Mereka berargumentasi bahwa mungkin itu akan dianggap puasa wajib. Ini adalah pendapat yang bathil dan tidak pantas dilakukan oleh orang yang memiliki akal pikiran, apalagi seorang ulama seperti mereka dalam menentang sunnah yang shahih dan sharih (jelas). Kemudian pandangan seperti itu akan berlaku pula pada semua puasa yang dianjurkan agama dan tak seorang pun yang mengatakan demikian.

Sementara Malik berargumentasi dalam memakruhkannya sebagaimana yang ia katakan dalam Al-Muwaththa’ bahwa ia tidak pernah melihat seorang pun ulama yang melakukannya. Padahal sangat jelas bahwa bila manusia tidak mengamalkan sunnah, tidak berarti itu dapat menolak sunnah” [selesai].

Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah saat mengomentari pendapat Malik berkata dalam Al-Istidzkaar (3/379) :

لم يبلغ مالكا حديث أبي أيوب على أنه حديث مدني والإحاطة بعلم الخاصة لا سبيل إليه والذي كرهه له مالك أمر قد بينه وأوضحه وذلك خشية أن يضاف إلى فرض رمضان وأن يستبين ذلك إلى العامة وكان – رحمه الله – متحفظا كثير الاحتياط للدين
وأما صيام الستة الأيام من شوال على طلب الفضل وعلى التأويل الذي جاء به ثوبان – رضي الله عنه – فإن مالكا لا يكره ذلك إن شاء الله لأن الصوم جنة وفضله معلوم لمن رد طعامه وشرابه وشهوته لله تعالى وهو عمل بر وخير وقد قال الله عز وجل وافعلوا الخير الحج 77 ومالك لا يجهل شيئا من هذا.

ولم يكره من ذلك إلا ما خافه على أهل الجهالة والجفاء إذا استمر ذلك وخشي أن يعدوه من فرائض الصيام مضافا إلى رمضان وما أظن مالكا جهل الحديث والله أعلم لأنه حديث مدني انفرد به عمر بن ثابت وقد قيل إنه روى عنه مالك ولو لا علمه به ما أنكره وأظن الشيخ عمر بن ثابت لم يكن عنده ممن يعتمد عليه وقد ترك مالك الاحتجاج ببعض ما رواه عن بعض شيوخه إذا لم يثق بحفظه ببعض ما رواه وقد يمكن أن يكون جهل الحديث ولو علمه لقال به والله أعلم

“Malik tidak mengetahui hadits Abu Ayyub sebagai salah satu hadits penduduk Madinah. Sebab mengetahui secara mendalam terhadap ilmu tertentu tidak mungkin dilakukan. Apa yang dimakruhkan Mlik telah ia jelaskan, yaitu ditakutkan puasa itu akan disamakan dengan puasa wajib Ramadlan oleh orang awam. Malik rahimahullah termasuk orang yang sangat berhati-hati dalam masalah agama.

Sedangkan puasa enam hari bulan Syawal untuk mendapatkan keutamaannya dan seperti apa yang dijelaskan dalam hadits Tsauban radliyallaahu ‘anhu, maka itu tidak dimakrukan Malik insya Allah. Sebab puasa adalah perisai dan keutamaannya diketahui oleh orang yang menahan makan, minum, dan nafsunya karena Allah. Ia juga sebuah amal kebajikan, sedang Allah telah berfirman : “Dan kerjakanlah kebajikan” (QS. Al-Hajj : 77). Malik tentu mengetahui itu.

Malik tidak memakruhkan puasa Syawal melainkan karena kekhawatirannya bila itu dilakukan langsung (setelah Ramadlan) orang awam akan menganggapnya termasuk pusa wajib Ramadlan. Aku berpikiran Malik tidaklah jahil tentang hadits ini, wallaahu a’lam, karena itu adalah hadits penduduk Madinah yang diriwayatkan sendiri oleh ‘Umar bin Tsaabit. Bahkan dikatakan Malik meriwayatkan darinya. Jadi, jika Malik tidak mengetahui hadits itu, tentu ia tidak mengingkarinya. Dan aku mengira juga bahwa syaikh ‘Umar bin Tsaabit termasuk orang yang tidak diterima Malik. Apalagi Malik tidak menerima hadits yang diriwayatkannya dari sebagian gurunya karena ia tidak percaya dengan hapalannya pada sebagian riwayatnya. Atau mungkin juga Malik memang tidak tahu hadits tersebut. Sebab jika ia tahu, tentu ia tidak mengatakan demikian (mengingkari puasa Syawal). Wallaahu a’lam”. [selesai].

Apakah Syarat Puasa Enam Hari Harus Dilakukan Berturut-Turut ?

“Tidak disyaratkan dilakukan berturut-turut, sehingga boleh saja dilakukan langsung setelah berbuka (pada hari raya) atau terpisah antara keduanya, atau dilakukan berturutan, atau secara acak. Sebab Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَأَتْبَعَهُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالَ

“Dan iringkanlah puasa Ramadlan dengan puasa enam hari bulan Syawal”.

Dalam satu riwayat :

سِتًّا مِنْ شَوَّالَ

“Enam hari bulan Syawwal”.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjadikan bulan Syawwal semua waktu untuk berpuasa tanpa mengkhususkan sebagian dari sebagian yang lain. Seandainya beliau menentukan sebagian saja, tentu beliau mengatakan enam hari pada awal bulan atau enam hari pada akhir bulan. Mengiringi Ramadlan dengan puasa enam hari bisa dilakukan di awal Syawwal dan bisa pula di akhirnya. Sebab pasti antara puasa tersebut dan puasa Ramadlan terpisah dengan hari raya, padahal hari itu juga termasuk bulan Syawwal.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa puasa Syawwal pasti tidak menyatu dengan puasa Ramadlan (karena dipisah dengan hari raya). Kemudian karena melakukannya di awal bulan kuat karena lebih dekat dengan Ramadlan dan lebih bersambung, dan melakukan di akhirnya juga kuat karena menghindari menyatukan puasa Ramadlan dengan puasa selainnya, atau menjadikan hari raya kedua seperti yang dilakukan sebagian orang, maka keduanya adalah seimbang (di awal bulan atau di akhirnya)”.[8]

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata :

لا بأس بصيامها إنما قال النبي {صلى الله عليه وسلم} ستة ايام من شوال فإذا صام ستة ايام من شوال لا يبالي فرق او تابع

“Tidak mengapa ia berpuasa, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ’Enam hari dari bulan Syawwal’. Maka bila seseorang berpuasa enam hari tersebut, tidak masalah apakah ia dilakukan secara acak atau berturutan”.[9]

Adapun kalangan Syafi’iyyah, mereka berpendapat puasa enam hari bulan Syawal disunnahkan untuk dilakukan berurutan, sebagaimana dikatakan An-Nawawi berkata :

فقال أصحابنا يستحب صوم ستة ايام من شوال لهذا الحديث قالوا ويستحب ان يصومها متتايعة في اول شوال فان فرقها أو أخرها عن أول شوال جاز وكان فاعلا لاصل هذه السنة لعموم الحديث واطلاقه وهذا لا خلاف فيه عندنا وبه قال أحمد وداود

“Para shahabat kami berkata : ‘Disunnahkan puasa enam hari bulan Syawal berdasarkan hadits ini’. Mereka juga berkata : ‘Dan juga disunnahkan berpuasa secara berurutan mulai awal Syawal. Namun jika dilakukan secara acak, atau ditunda hingga akhir bulan, maka itu jga dibolehkan, dan orang yang melakukannya telah menjalankan sunnah sesuai dengan keumuman makna hadits dan kemutlakannya. Tidak ada perbedaan (pendapat) di kalangan madzhab kami. Dan ini juga menjadi pendapat Ahmad dan Abu Dawud”.[10]

Namun pendapat kalangan Syafi’iyyah ini tidak benar, sebab tidak ada dalil yang menunjukkan disunnahkannya berpuasa secara berurutan kecuali keumuman perintah bersegera melaksankan kebajikan. Perintah (puasa Syawal) ini bersifat longgar sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

Bolehkah Mendahulukan Puasa Enam Hari Bulan Syawwal dari meng-Qadla Puasa Ramadlan ?

Jawabannya adalah : Barangsiapa melakukan puasa enam hari bulan Syawwal sebelum mengqadla puasa Ramadlan yang tertinggal, maka dia tidak mendapatkan keutamaannya sebagaimana yang dijelaskan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yaitu sama dengan puasa setahun. Sebab dalam hadits Tsauban hal itu dijelaskan secara rinci, bahwa satu bulan sama dengan sepuluh bulan, dan puasa enam hari setelah berbuka melengkapi menjadi setahun. Sedangkan orang yang masih hutang puasa Ramadlan belum menyempurnakan puasa sebulan. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam Asy-Syarhul-Mumti’ (6/448) :

ثم إن السنة أن يصومها بعد انتهاء قضاء رمضان لا قبله، فلو كان عليه قضاء ثم صام الستة قبل القضاء فإنه لا يحصل على ثوابها؛ لأن النبي صلّى الله عليه وسلّم قال: «من صام رمضان» ومن بقي عليه شيء منه فإنه لا يصح أن يقال إنه صام رمضان؛ بل صام بعضه، وليست هذه المسألة مبنيّة على الخلاف في صوم التطوع قبل القضاء؛ لأن هذا التطوع أعني صوم الست قيده النبي صلّى الله عليه وسلّم بقيد وهو أن يكون بعد رمضان……

“Kemudian, sesungguhnya yang menjadi sunnah adalah ia berpuasa enam hari setelah selesai mengqadla puasa Ramadlan, bukan sebelumnya. Jika ia masih mempunyai kewajiban qadla’ kemudian ia puasa enam hari sebelum menunaikan qadla tersebut, maka ia tidak mendapatkan pahala puasa (yang disebutkan dalam hadits). Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadlan’. Maka jika ia masih mempunyai tersisa hutang puasa Ramadlan, maka tidak benar dikatakan ia telah berpuasa Ramadlan, akan tetapi ia berpuasa pada sebagiannya. Dan permasalahan ini tidaklah termasuk yang dijelaskan mengenai perbedaan (pendapat) bolehnya puasa sunnah sebelum qadla’, karena puasa sunnah enam hari ini telah di-taqyid oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia dilakukan setelah puasa Ramadlan….” [selesai].

[Shiyaamuth-Tathawwu’ Fadlaailun wa Ahkaamun– edisi Indonesia : Puasa Sunnah, Hukum & Keutamaannya oleh Asy-Syaikh Usamah bin ‘Abdil-‘Aziiz, Darul-Haq – dengan peringkasan oleh Abul Jauzaa].

[1] Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1164), Abu Dawud (no. 2433), At-Tirmidzi (no. 759), An-Nasa’iy dalam Al-Kubraa (2/no. 2862), Ibnu Majah (no. 1716), Ahmad (5/417 & 419), dan yang lainnya.

[2] Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra (2/no. 2860 & 2861), Ibnu Majah (no. 1715), Ahmad (5/280), Ad-Darimi (2/21), Ibnu Khuzaimah (no. 2115), Al-Baihaqiy dlam Al-Kubraa (4/393), dan yang lainnya; shahih.

[3] Lihat Al-Baihaqiy dalam Ma’rifatus-Sunan wal-Atsar (3/450), An-Nawawiy dalam Syarh Muslim (3/238), ‘Abdullah bin Ahmad dalam Masaail Ahmad (hal. 193), dan Syaikhul-Islam dalam Syarh ‘Umdatil-Ahkaam (2/556).

[4] Riwayat ini shahih, dikeluarkan oleh At-Tirmidzi (3/124) dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (3/97) melalui jalan Al-Husain bin ‘Aliy Al-Ja’fiy dari Israil bin Abi Musa, dari Al-Hasan.

[5] Fathul-Qadiir (2/349) dan Al-Muwaththa’ (1/330).

Mayoritas syaikh kalangan Hanafiyyah berpendapat tidak mengapa melakukan puasa enam hari bulan Syawal. Demikian yang dikatakan Ibnul-Hamaam dalam Fathul-Qadiir (2/349) dan Ibnu ‘Abidin dalam Hasyiyyah-nya (3/330). Yang juga berpendapat tidak mengapa melakukan puasa Syawal adalah Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah dan ia mentolerir pendapat Al-Imam Malik sebagaimana akan dijelaskan.

[6] Badaa’iush-Shanai’ (2/78).

[7] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 1914) dan Muslim (no. 1082).

[8] Syarhul-‘Umdah oleh Ibnu Taimiyyah (2/559).

[9] Masaa’il Abdullah (hal. 193).

[10] Al-Majmu’ (6/379).

Disalin dari artikel Assunnah Qatar untuk Blog Abu Abdurrohman

ENSIKLOPEDI AMALAN BULAN SYAWAL

BULAN SYAWAL

Termasuk rahmat Allah kepada para hambaNya, Dia menjadikan amalan sunnah pada setiap jenis amalan wajib, seperti shalat, ada yang wajib ada yang sunnah, demikian pula puasa, shodaqoh, haji dan lain sebagainya.

Ketahuilah wahai saudaraku seiman –semoga Allah merahamtimu- bahwa adanya amalan-amalan sunnah tersebut memiliki beberapa faedah bagi umat manusia:

  1. Menyempurnakan kekurangan pada amalan wajib, sebab bagaimanapun seorang telah berusaha agar ibadah wajibnya sempurna semaksimal mungkin namun tidak luput dari kekurangan. Di sinilah peran amalan sunnah untuk menutup lubang-lubang tersebut.
  2. Menambah pahala disebabkan bertambahnya amal shaleh
  3. Menggapai kecintaan Allah
  4. Menambah keimanan seorang hamba
  5. Menambah kuatnya hubungan seorang hamba dengan Robbnya
  6. Merupakanmedanuntuk berlomba-lomba dalam ketaatan
  7. Mendorong hamba dalam melakukan  amalan wajib, sebab sepertinya mustahil kalau ada seorang yang rajin mengamalkan perkara sunnah tetapi mengabaikan amal yang wajib
  8. Pembuka  amalan wajib
  9. Penutup pintu bid’ah dalam agama
  10. Mencontoh Nabi dan para salaf shalih.[194]

       Diantara amalan sunnah tersebut adalah puasa syawwal. Berikut ini beberapa pembahasan tentang puasa syawal. Semoga bermanfaat.

1. Disyari’atkannya Puasa Enam Hari Pada Bulan Syawwal

Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam banyak hadits, di antaranya hadits Abu Ayyub dan Tsauban berikut:

عَنْ أبِي أَيُّوْبَ اْلأَنْصَارِيِّ  أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ n قَالَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَ أَْتبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَهْرِ

Dari Abu Ayyub al-Anshari a/ bahwasanya Rasulullah n/ bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari bulan Syawwal, maka dia seperti berpuasa satu tahun penuh.”[195]

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُوْلِ اللهِ n عَنْ رَسُوْلِ اللهِ n أَنَّهُ قَالَ: مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَنَّةِ. مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشَرُ أَمْثَالِهَا

Dari Tsauban, budak Rasulullah n/, bahwasanya beliau n/ bersabda, “Barangsiapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fithri, maka seperti telah berpuasa setahun penuh. Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh lipatnya.”[196]

Puasa enam hari bulan syawwal hukumnya sunnah, baik bagi kaum pria maupun wanita. Hal ini merupakan pendapat mayoritas ahli ilmu seperti diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ka’b al-Akhbar, Sya’bi, Thawus, Maimun bin Mihran, Abdullah bin Mubarok, Ahmad bin Hanbal dan Syafi’i.[197]

Imam Nawawi berkata: “Dalam hadits ini terdapat dalil yang jelas bagi madzhab Syafi’i, Ahmad, Dawud beserta ulama yang sependapat dengannya mengenai sunnahnya puasa enam hari bulan Syawwal.”[198]

Ibnu Hubairah berkata: “Mereka bersepakat tentang sunnahnya puasa enam hari Syawal kecuali Abu Hanifah dan Malik yang mengatakan bahwa hal itu dibenci dan tidak disunnahkan”.[199]

Alangkah bagusnya ucapan Al-Allamah al-Mubarakfuri: “Pendapat yang menyatakan dibencinya puasa enam hari Syawwal merupakan pendapat yang bathil dan bertentangan dengan hadits-hadits shahih. Oleh karena itu, mayoritas ulama Hanafiyah berpendapat tidak mengapa seorang berpuasa enam hari Syawwal tersebut. Ibnu Humam berkata[200]: “Puasa enam hari Syawwal menurut Abu Hanifah dan Abu Yusuf makruh (dibenci) tetapi ulama Hanafiyah berpendapat bahwa hal itu tidak mengapa”.[201]

2. Keutamaan puasa enam hari Syawwal.

                 Yaitu dihitung seperti puasa setahun penuh, karena satu kebaikan berkelipatan sepuluh. Satu bulan 30 hari x 10 = 10 bulan, dan enam hari 6 x 10 = 2 bulan. Jadi, jumlah seluruhnya 12 bulan = 1 tahun. Hal ini sangat jelas dalam riwayat Tsauban.

                 Namun hal ini bukan berarti dibolehkan atau disunnahkan puasa dahr (setahun) sebagaimana anggapan sebagian kalangan, karena beberapa sebab:

     Pertama: Maksud perumpamaan Nabi di atas adalah sebagai anjuran dan penjelasan tentang keutamaannya, bukan untuk membolehkan puasa dahr (setahun) yang jelas hukumnya haram dan memberatkan diri, apalagi dalam setahun seorang akan berbenturan dengan hari-hari terlarang untuk puasa seperti hari raya dan hari tasyriq.

     Kedua: Nabi telah melarang puasa dahr. Kalau demikian, lantas mungkinkah kemudian hal itu dinilai sebagai puasa yang dianjurkan?!

     Ketiga: Nabi bersabda: “Sebaik-baik puasa adalah puasa Dawud, beliau sehari puasa dan sehari berbuka”. Hadits ini sangat jelas sekali menunjukkan bahwa puasa Dawud lebih utama daripada puasa dahr sekalipun hal itu lebih banyak amalnya.[202]

3. Beberapa Faedah Puasa Syawal

Membiasakan puasa setelah ramadhan memiliki beberapa faedah yang cukup banyak, diantaranya:

  1. Puasa enam hari syawal setelah ramadhan berarti meraih pahala puasa setahun penuh
  2. Puasa syawal dan sya’ban seperti shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudah shalat fardhu, untuk sebagai penyempurna kekurangan yang terdapat dalam fardhu
  3. Puasa syawal setelah ramadhan merupakan tanda bahwa Allah menerima puasa ramadhannya, sebab Allah apabila menerima amal seorang hamba maka Dia akan memberikan taufiq kepadanya untuk melakukan amalan shalih setelahnya
  4. Puasa syawal merupakan ungkapan syukur setelah Allah mengampuni dosanya dengan puasa ramadhan
  5. Puasa syawwal merupakan tanda keteguhannya dalam beramal shalih, karena amal shalih tidaklah terputus dengan selesainya ramadhan tetapi terus berlangusng selagi hamba masih hidup.[203]

4. Haruskah berturut-turut setelah Idul Fithri?!

Ash-Shon’ani berkata: “Ketahuilah bahwa pahala puasa ini bisa didapatkan bagi orang yang berpuasa secara berpisah atau berturut-turut, dan bagi yang berpuasa langsung setelah hari raya atau di tengah-tengah bulan”.[204]

An-Nawawi berkata: “Afdhalnya, berpuasa enam hari berturut turut langsung setelah Idhul Fithri. Namun jika seseorang berpuasa Syawwal tersebut dengan tidak berturut-turut atau berpuasa di akhir-akhir bulan, dia masih mendapatkan keutamaan puasa Syawwal, berdasarkan konteks hadits ini.”[205] Yakni keumuman sabda Nabi “enam hari bulan syawal”.[206]

Inilah pendapat yang benar. Jadi, boleh berpuasa secara berturut-turut atau tidak, baik di awal, di tengah maupun di akhir bulan Syawwal. Namun, yang lebih utama adalah bersegera melakukan puasa Syawwal karena beberapa sebab:

Pertama: Bersegera dalam beramal shalih

Kedua: Agar tidak terhambat oleh halangan dan godaan syetan sehingga menjadikannya tidak berpuasa

Ketiga: Manusia tidak tahu kapan malaikat maut  menjemputnya.

Dengan demikian, maka kita dapat mengetahui kesalahan keyakinan sebagian masyarakat yang mengatakan bahwa puasa sunnah syawwal harus pada hari kedua setelah hari raya, bila tidak maka sia-sia puasanya!!

5. Bila Masih Punya Tanggungan Puasa Ramadhan

            Apabila seorang ingin berpuasa Syawwal tetapi dia masih memiliki tangungan puasa ramadhan, bagaimana hukumnya?!

            Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Barangsiapa yang mempunyai tanggungan puasa Ramadhan, kemudian dia memulai puasa enam syawal, maka dia tidak mendapatkan keutamaan pahala orang yang puasa ramadhan dan mengirinya dengan enam syawal, sebab dia belum menyempurnakan puasa ramadhan”.[207]

            Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin berkata: “Puasa enam syawal berkaitan dengan ramadhan, dan tidak dilakukan kecuali setelah melunasi tanggungan puasa wajibnya. Seandainya dia berpuasa syawal sebelum melunasinya maka dia tidak mendapatkan pahala keutamaannya, berdasarkan sabda Nabi: “Barangsiapa puasa ramadhan kemudian dia menyertainya dengan enam hari syawal maka seakan-akan dia berpuasa setahun penuh”.

            Dan telah dimaklumi bersama bahwa orang yang masih memiliki tanggungan puasa ramadhan berarti dia tidak termasuk golongan orang yang telah puasa ramadhan sampai dia melunasinya terlebih dahulu. Sebagian manusia keliru dalam masalah ini, sehingga tatkala dia khawatir keluarnya bulan syawal maka dia berpuasa sebelum melunasi tanggungannya. Ini adalah suatu kesalahan”.[208]

6. Kalau Memang Ada Udzur Sehingga Keluar Bulan Syawwal

            Bagaimana kalau seseorang tidak bisa melakukan puasa syawal karena ada udzur seperti sakit, nifas atau melunasi hutang puasanya sebanyak sebulan, sehingga keluar bulan syawal. Apakah dia boleh menggantinya pada bulan-bulan lainnya dan meraih keutamaannya, ataukah tidak perlu karana waktunya telah keluar?! Masalah ini diperselisihkan oleh ulama:

1. Boleh menggodho’nya karena ada udzur. Pendapat ini dipilih oleh Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di[209] dan Syaikh Ibnu Utsaimin[210]. Alasannya adalah menqiyaskan dengan ibadah-ibadah lain yang bisa diqodho’ apabila ada udzur seperti shalat.

2. Tidak disyariatkan untuk mengqodho’nya apabila telah keluar bulan syawal, baik karena ada udzur atau tidak, karena waktunya telah lewat. Pendapat ini dipilih oleh syaikh Abdul Aziz bin Baz[211].

            Pendapat kedua inilah yang tentram dalam hati penulis, karena qodho’ membutuhkan dalil khusus dan tidak ada dalil dalam masalah ini. Wallahu A’lam.[212] Alhamdulillah, kalau memang dia benar-benar jujur dalam niatnya yang seandainya bukan karena udzur tersebut dia akan melakukan puasa syawal, maka Allah akan memberikan pahala baginya, sebagaimana dalam hadits:

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلَ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيْمًا صَحِيْحًا

Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, maka dia ditulis seperti apa yang dia lakukan dalam muqim sehat. [213]

7. Menggabung Niat Puasa

            Kalau ada orang yang berpuasa syawwal dan ingin menggabungnya dengan qodho’ puasa ramadahan, atau dengan puasa senin kamis, atau tiga hari dalam sebulan, bagaimana hukumnya?! Menjawab masalah ini, hendakanya kita mengetahui terlebih dahulu sebuah kaidah berharga yang disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Rojab, yaitu “Apabila berkumpul dua ibadah satu jenis dalam satu waktu, salah satunya bukan karena qodho’ (mengganti) atau mengikut pada ibadah lainnya, maka dua ibadah tersebut bisa digabung jadi satu”.[214]

            Jadi, menggabung beberapa ibadah menjadi satu itu terbagi menjadi dua macam:

Pertama: Tidak mungkin digabung, yaitu apabila ibadah tersebut merupakan ibadah tersendiri atau mengikut kepada ibadah lainnya, maka di sini tidak mungkin digabung.

Contoh: Seorang ketinggalan shalat sunnah fajar sampai terbit matahari dan datang waktu sholat dhuha, di sini tidak bisa digabung antara shalat sunnah fajar dan shalat dhuha, karena shalat sunnah fajar adalah ibadah tersendiri dan shalat dhuha juga ibadah tersendiri.

Contoh lain: Seorang sholat fajar dengan niat untuk shalat sunnah rawatib dan shalat fardhu, maka tidak bisa, karena shalat sunnah rawatib adalah mengikut kepada shalat fardhu.

Kedua:  Bisa untuk digabung, yaitu kalau maksud dari ibadah tersebut hanya sekedar adanya perbuatan tersebut, bukan ibadah tersendiri, maka di sini bisa untuk digabung.

Contoh: Seorang masuk masjid dan menjumpai manusia sedang melakukan shalat fajar, maka  dia ikut shalat dengan niat shalat fajar dan tahiyyatul masjid, maka boleh karena tahiyyatul masjid bukanlah ibadah tersendiri.[215]

            Nah, dari sini dapat kita simpulkan bahwa kalau seorang menggabung puasa syawwal dengan mengqodho’ puasa ramadhan maka hukumnya tidak boleh karena puasa syawal di sini mengikut kepada puasa ramadhan[216]. Namun apabila seseorang menggabung puasa syawwal dengan puasa tiga hari dalam sebulan, puasa dawud, senin kami maka hukumnya boleh. Wallahu A’lam.

            Demikianlah beberapa pembahasan yang dapat kami ketengahkan. Semoga bermanfaat.

_______________________________________________

Footnote:

[194] Min Fawaid Syaikhina Sami Abu Muhammad atas kitab Ar-Raudh al-Murbi’ al-Bahuti, kitab puasa.

[195] HR. Muslim 1164.

[196] Diriwayatkan Ibnu Majah 1715, ad-Darimi 1762, Nasa’i dalam Sunan Kubra 2810, 2861, Ibnu Khuzaimah 2115, Ibnu Hibban 928, dan Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya 5/280, ath-Thobarani dalam Mu’jamul Kabir 1451 dan Musnad Syamiyyin 485, ath-Thohawi dalam Musykil Atsar 1425, dan dishahihkan al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil 4/107.

[197] Al-Mughni Ibnu Qudamah 4/438 dan Lathoiful Ma’arif Ibnu Rojab hal. 389

[198] Syarah Shahih Muslim 8/138,

[199] Al-Ifshoh 1/252

[200] Fathul Qodir 2/349

[201] Tuhfatul Ahwadzi 3/389

[202] Tahdzib Sunan 7/70-71 dan al-Manarul Munif hal. 39 Ibnu Qayyim

[203] Lathoiful Ma’arif Ibnu Rojab hal. 393-396

[204] Subulus Salam 4/127

[205] Syarh Muslim 8/238,

[206] lihat pula Masail Imam Ahmad 2/662

[207] Latha’iful Ma’arif  hal. 397

[208] Liqa’athi Ma’a Samahatis Syaikh Ibnu Utsaimin Dr. Abdullah ath-Thoyyar 2/79 dan Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin 20/17-20

[209] Al-Fatawa Sa’diyyah hal. 230

[210] Syarh Mumti’ 7/467

[211] Majmu Fatawa Ibnu Baz 3/270, al-Fatawa Ibnu Baz -Kitab Da’wah 2/172, Fatawa Shiyam 2/694-695 kumpulan Asyrof Abdul Maqshud

[212] Simak kaset Fatawa Jeddah oleh Syaikh al-Albani no. 7  dan Ahkamul Adzkar Zakariya al-Bakistani hal. 51

[213] HR. Bukhari: 2996.

[214] Taqrir Qowaid 1/142

[215] Liqa’ Bab Maftuh Ibnu Utsaimin hal. 20. Lihat penjelasan tentang kaidah ini dan contoh-contohnya secara panjang dalam Taqrir Qowa’id Ibnu Rojab 1/142-158

Disalin dari artikel Ustadz Abu Ubaidah untuk Blog Abu Abdurrohman

Puasa Syawal: Benarkah Disyariatkan ???

disusun oleh:

Abu Ubaidah Yusuf bin Mokhtar As-Sidawi

Termasuk rahmat Allah kepada para hambaNya, Dia menjadikan amalan sunnah pada setiap jenis amalan wajib, seperti shalat, ada yang wajib ada yang sunnah, demikian pula puasa, shodaqoh, haji dan lain sebagainya.

Ketahuilah wahai saudaraku seiman –semoga Allah merahamtimu- bahwa adanya amalan-amalan sunnah tersebut memiliki beberapa faedah bagi umat manusia:

  1. Menyempurnakan kekurangan pada amalan wajib, sebab bagaimanapun seorang telah berusaha agar ibadah wajibnya sempurna semaksimal mungkin namun tidak luput dari kekurangan. Di sinilah peran amalan sunnah untuk menutup lubang-lubang tersebut.
  2. Menambah pahala disebabkan bertambahnya amal shaleh
  3. Menggapai kecintaan Allah
  4. Menambah keimanan seorang hamba
  5. Menambah kuatnya hubungan seorang hamba dengan Robbnya
  6. Merupakan medan untuk berlomba-lomba dalam ketaatan
  7. Mendorong hamba dalam melakukan amalan wajib, sebab sepertinya mustahil kalau ada seorang yang rajin mengamalkan perkara sunnah tetapi mengabaikan amal yang wajib
  8. Pembuka amalan wajib
  9. Penutup pintu bid’ah dalam agama
  10. Mencontoh Nabi dan para salaf shalih.

Di antara amalan sunnah tersebut adalah puasa syawwal sebagaimana ditegaskan dalam banyak hadits. Masalahnya, ada sebagian kalangan yang masih meragukan tentang sunnahnya ibadah ini seraya mengatakan bahwa hadits tidak shahih!! Haditsnya tidak diamalkan para ulama!! Bagaimana sebenarnya duduk permasalahannya?! Pembahasan berikut mencoba untuk mengoreknya. Semoga bermanfaat.

TEKS DAN TAKHRIJ HADITS
Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Allah selalu merahmatimu- bahwa hadits pembahasan ini adalah SHOHIH dengan tiada keraguan di dalamnya sebagaimana ditegaskan oleh ahli hadits. Diriwayatkan dari jalur yang banyak sekali. Berikut pembasan singkat tentangnya.

1. Hadits Abu Ayyub al-Anshori

عَنْ أبِي أَيُّوْبَ اْلأَنْصَارِيِّ – رضي الله عنه – أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ – صلى الله عليه و سلّم- قَالَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَ أَْتبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَهْرِ
Dari Abu Ayyub al-Anshari –radhiyallahu ‘anhu- bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alahi wa sallam- bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari bulan Syawwal, maka dia seperti berpuasa satu tahun penuh.”

SHOHIH. Diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya 1164, Ahmad dalam Musnadnya 5/417, 419, Tirmidzi 759,Abu Dawud 2433, Nasai dalam Sunan Kubro 2862-2864, Ibnu Majah 1716, ad-Darimi 1761, Ibnu Abi Syaibahdalam al-Mushannaf 9723, Abdur Rozzaq dalam al-Mushonnaf 7918-7921, Abu Dawud ath-Thoyyalisi dalam Musnadnya 948, ath-Thobarani dalam Mu’jamul Kabir 4/134-137, Ibnu Khuzaimah 2114, Ibnu Hibban 3626, Abdu bin Humaid dalam al-Muntakhob 228, Abu Awanah 2696-2700, al-Baihaqi dalam Sunan Kubro 4/292 dan lain sebagainya dari beberapa jalan yang cukup banyak sekali dari Sa’d bin Sa’id dari Umar bin Tsabit al-Anshari dariAbu Ayyub –radhiyallahu ‘anhu- dari Rasulullah –shallallahu ‘alahi wa sallam-.
Imam Tirmidzi berkata: “Hadits hasan shahih.” Lalu lanjutnya:

“Sebagian ahli ilmu membicarakan Sa’d bin Sa’id dari segi hafalannya.”
Tetapi, Sa’d bin Sa’id tidaklah sendirian dalam meriwayatkan hadits ini, sebagaimana akan datang penjelasannya.

2. Hadits Tsauban Maula Rasulullah

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُوْلِ اللهِ – صلى الله عليه و سلّم- عَنْ رَسُوْلِ اللهِ – صلى الله عليه و سلّم- أَنَّهُ قَالَ: مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَنَّةِ. مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشَرُ أَمْثَالِهَا
Dari Tsauban, budak Rasulullah –shallallahu ‘alahi wa sallam-, bahwasanya beliau –shallallahu ‘alahi wa sallam- bersabda, “Barangsiapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fithri, maka seperti telah berpuasa setahun penuh. Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh lipatnya.”


SHOHIH. 
Diriwayatkan Ibnu Majah 1715, ad-Darimi 1762, Nasa’i dalam Sunan Kubra 2810, 2861, Ibnu Khuzaimah 2115, Ibnu Hibban 928, dan Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya 5/280, ath-Thobarani dalam Mu’jamul Kabir 1451 dan Musnad Syamiyyin 485, ath-Thohawi dalam Musykil Atsar 1425, ar-Ruyani dalam Musnadnya 634, Ibnu Muqri’ dalam Mu’jamnya 1250 dari jalan Yahya bin Harits ad-Dhimari dari Abu Asma’ ar-Rakhabi dari Tsauban dari Rasulullah –shallallahu ‘alahi wa sallam-.

Sanad hadits ini shahih, sebagaimana ditegaskan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil 4/107.

 

3. Hadits Abu Hurairah

 

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صلى الله عليه و سلّم- : مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَتْبَعَهُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ, فَذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alahi wa sallam-, bersabda: “Barangsiapa berpuasa ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari syawal, maka seperti telah berpuasa setahun penuh”.

SHOHIH. Diriwayatkan Abu Awanah dalam Musnadnya 2702 dan al-Bazzar dalam Musnadnya 669 –Mukhtashor- dari Amr bin Abu Salamah dari Zuhair bin Muhammad dari Suhail dari ayahnya dari Abu Hurairah.
Sanad hadits ini shohih Al-Haitsami berkata dalam Majma’ Zawaid 3/183: “Diriwayatkan oleh al-Bazzar, dan memiliki banyak jalur yang perawi sebagian jalurnya adalah perawi shahih”. Demikian juga dikatakan oleh al-Mundziri dalam At-Targhib 2/111.

4. Hadits Syaddad bin Aus

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ – صلى الله عليه و سلّم- عَنْ رَسُوْلِ اللهِ n أَنَّهُ قَالَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَتْبَعَهُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ , فَذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ
Dari Syaddad bin Aus dari Rasulullah bahwasanya beliau –shallallahu ‘alahi wa sallam- bersabda, “Barangsiapa berpuasa ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari syawal setelah hari raya Idul Fithri, maka seperti telah berpuasa setahun penuh”.

SHOHIH. Diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dalam al-’Ilal 1/253 dari jalur Marwan ath-Thothori dari Yahya bin Hamzah dari Yahya bin Harits dari Asy’ats ash-Shon’ani dari Syaddad bin Aus. Ibnu Abi Hatim menukil dari ayahnya (Abu Hatim ar-Rozi) bahwa beliau menilai hadits ini shahih.
Sanad hadits shahih, seluruh perawinya terpercaya sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Qayyim dalam Tahdzib Sunan 7/88 dan al-Ala’i dalam Raf’ul Isykal hal. 68.
Hadits ini juga diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Anas bin Malik, Ghonnam al-Anshori, tetapi semuanya tidak luput dari kecacatan dan pembicaraan. Sengaja kami tinggalkan, agar tidak mempertebal jumlah halaman. Wallahu A’lam.

 

SYUBHAT DAN JAWABANNYA
Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Allah merahmatimu- bahwa hadits pembahasan ini telah dibicarakan oleh sebagian kalangan dengan berbagai kritikan yang menjatuhkan derajat hadits ini. Oleh karena itu, berikut ini ulasan untuk menyingkap alasan mereka. Kita memohon kepada Allah untuk memudahkan kita dalam menjalan syari’atNya yang mulia ini.

A. SANAD HADITS
Sebagian kalangan mengkritik hadits ini, karena dalam sanad hadits Abu Ayyub terdapat seorang rawi bernama Sa’ad bin Sa’id al-Anshori, dan dia dilemahkan oleh sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Nasa’i.

Jawaban:
Ada beberapa point untuk menjawab kritikan ini:

  • Pertama: Tidak semua ‘illah (kecacatan) itu melemahkan hadits

Telah mapan dalam disiplin ilmu hadits bahwa ‘illah (kecacatan) itu terbagi menjadi dua macam:

  1. Kecacatan yang menjadikan lemahnya suatu hadits
  2. Kecacatan yang tidak menjadikan lemahnya hadits

Jadi, tidak semua kecacatan itu menjadikan lemahnya suatu hadits. Menariknya, Syaikh Muhammad al-Utsaimin dalam kitabnya “Mushtolah Hadits” hal. 20 menjadikan hadits pembahasan ini sebagai contoh hadits yang kecacatannya tidak menjadikan lemahnya hadits.

  • Kedua: Mayoritas Ulama Menilainya Positif

Benar, Sa’ad bin Sa’id dilemahkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan Nasai. Namun, bagi orang yang meneliti kitab-kitab rijal hadits, niscaya akan mendapati bahwa mayoritas ulama telah menilai positif kepada Sa’ad bin Sa’id al-Anshori, diantaranya adalah Yahya bin Ma’in, Ibnu Abi Hatim, al-’Ijli, Ibnu Sa’ad, Ibnu Syahin, ad-Daraquthni, Muslim dan lain sebagainya.

  • Ketiga: Imam Muslim Berhujjah Dengannya

Telah dimaklumi bersama bagi kita kedudukan Imam Muslim dan kitab Shohihnya. Maka melemahkan hadits yang beliau riwayatkan di dalamnya atau perawi yang dijadikan hujjah olehnya bukanlah suatu hal yang ringan. Al-Hafizh Ibnu Qayyim berkata tentang metode Imam Muslim: “Tidaklah salah Imam Muslim tatkala mengeluarkan haditsnya (Harits bin Ubaid), karena beliau memilah hadits-hadits orang sepertinya yang beliau ketahui bahwa perawi tersebut menghafalnya, sebagaimana beliau tidak mencantumkan hadits perawi terpercaya karena beliau mengatahui bahwa rawi tersebut keliru. Metode Muslim ini adalah metode para ahli hadits”.

  • Keempat: Dia Tidak Sendirian dan Haditsnya Memiliki syawahid (penguat)

Dia dikuatkan oleh para perawi lainnya juga, seperti Shafwan bin Sulaim, Zaid bin Aslam, Yahya bin Sa’id al-Anshari, Abdu Rabbihi bin Sa’id al-Anshari, dan lain-lain.
As-Subki berkata:

“Syaikh kami Abu Muhammad ad-Dimyati telah mencurahkan tenaganya mengumpulkan jalan-jalan riwayat hadits ini. Akhirnya beliau mendapatkan sebanyak dua puluh lebih orang telah meriwayatkan dari Sa’d bin Sa’id. Dan riwayat Sa’d bin Sa’id ini dikuatkan oleh saudaranya Yahya bin Sa’id, Abdu Rabbihi, Shafwan bin Sulaim, dan sebagainya. Hadits ini juga mempunyai syawahid (penguat-penguat) yang diriwayatkan dari beberapa sahabat seperti Tsauban, Abu Hurairah, Jabir bin Abdullah, Ibnu Abbas, Barra’ bin Azib, dan Aisyah radhiyallahu ‘anhum …. “.

  • Kelima: Para ulama membela dan menshohihkan hadits

Hadits ini adalah shahih dengan tidak ada keraguan di dalamnya. Hal ini telah ditegaskan oleh para ulama ahli hadits, mereka menegaskan keshahihannya, membantah orang yang melemahkannya, bahkan ada yang menulis kitab-kitab khusus tentangnya, di antaranya:

  1. Imam Muslim dalam Shohihnya
  2. Imam Tirmidzi berkata: “Hadits Hasan shohih”.
  3. Imam Nawawi berkata: “Sanadnya shohih”.
  4. Al-Hafizh ad-Dimyati mengumpulkan jalur-jalur hadits ini.
  5. Al-Hafizh al-Ala’i menulis kitab khusus berjudul Raf’ul Isykal ‘an Shiyam Sittah Ayyam min Syawwal. Kitab ini merupakan bantahan beliau kepada Ibnu Dihyah al-Kalbi yang melemahkan hadits ini dalam kitabnya “Al-Ilmu Masyhur fi Fadhoil Ayyam wa Syuhur”.
  6. Al-Hafizh al-Iraqi mengumpulkan jalur-jalur hadits ini
  7. Al-Hafizh Ibnul Qayyim membela secara kuat dan panjang dalam Tahdzib Sunan Abu Dawud 7/62 -Aunul Ma’bud-
  8. Al-Hafizh Ibnu Muflih menshahihkannya dalam al-Furu’ 3/106
  9. Al-Hafizh Ibnul Mulaqqin menshahihkannya dalam al-Badrul Munir 1/336 -Khulashoh-.
  10. Al-Hafizh Al-Qurthubi berkata: “Hadits hasan shohih”
  11. Syaikh Qashim bin Qhotlubiho menulis risalah khusus berjudul Tahrir Aqwal fi Shoum Sitti Min Syawwal. Dalam kitab ini beliau membantah pernyataan penulis Mandzumah at-Tubbani dan Syarhnya yang menyandarkan kepada Abu Hanifah bahwa beliau membencinya secara mutlak.
  12. Al-Allamah Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil 4/106-107
  13. Dr. Abdul Aziz al-Utaibi menulis pembelaan hadits ini dalam kitabnya Makanah Shohihain.

Dengan penjelasan di atas, maka jelaslah bagi kita keshohihan hadits ini dan selamatnya hadits ini dari kecacatan. Walhamdulillah.

 

B. MATAN HADITS
Sebagian kalangan ada yang mengkritik dari segi matannya, dimana Imam Malik dan Abu Hanifah tidak mengambil kandungan isinya. Alasan Imam Malik, karena beliau tidak melihat seorang alim-pun dari kalangan salaf yang berpuasa seperti itu dan beliau khawatir bila orang yang jahil akan memasukkannya ke dalam puasa Ramadhan. Demikian pula alasan Abu Yusuf, kawan Imam Abu Hanifah, beliau khawatir apabila puasa tersebut dianggap wajib oleh orang yang jahil.

Jawaban:
Ada beberapa point juga untuk membantah kritikan ini:

  • Pertama: Inilah Metode Yang Benar

“Sesungguhnya kami mencintai para ulama kaum muslimin dan memilih dari pendapat mereka yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, kita menimbang pendapat mereka dengan kedua timbangan tersebut, kita tidak menimbangnya dengan ucapan seorangpun, siapapun dia. Kita tidak menjadikan seorang selain Allah dan rasulNya yang terkadang benar dan terkadang salah untuk kita ikuti setiap pendapatnya dan melarang orang lain untuk menyelisihinya.
Demikianlah wasiat para imam Islam kepada kita, maka hendaknya kita untuk mengikuti jejak dan petunjuk mereka”.

  • Kedua: Berikanlah Udzur Kepada Para Ulama

“Perlu diketahui bahwa tidak ada satupun dari para imam dan ulama yang sengaja untuk menyelisihi Rasulullah dalam sunnahnya, sebab mereka semua bersepakat dalam satu kata tentang wajibnya mengikuti Rasulullah dan bahwasanya semua manusia selainnya bisa diterima dan bisa ditolak ucapannya. Hanya saja, apabila ada pendapat dari salah seorang diantara mereka yang menyelisihi hadits shahih, maka harus ada di sana suatu alasan kenapa dia meninggalkannya. Semua udzur tersebut berputar pada tiga perkara:
1. Dia tidak yakin bahwa Nabi mengatakan hal itu
2. Dia tidak menghendaki masalah tersebut
3. Dia menyakini bahwa hukum tersebut telah terhapus”.

  • Ketiga: Membantah Alasan

Alasan dibencinya puasa sunnah ini dapat kita simpulkan menjadi dua sebagai berikut:
Pertama: Perkataan Imam Malik: “Saya tidak melihat seorang pun alim dari kalangan salaf yang berpuasa seperti itu”
Kedua: Kekhawatiran bila puasa ini dianggap sebagai suatu kewajiban seperti puasa Ramadhan.

Untuk menjawab dua alasan ini, kita katakan:

  1. Pertama: Apakah hadits yang shahih dari Nabi Muhammad –shallallahu ‘alahi wa sallam- akan kita tinggalkan hanya karena alasan-alasan lemah seperti ini?! Al-Hafizh asy-Syaukani berkata: “Pendapat ini adalah bathil, tidak pantas bagi seorang yang berakal, lebih-lebih orang berilmu untuk meninggalkan sunnah yang shohih lagi jelas dengan alasan seperti itu”.
  2. Kedua: Alasan Imam Malik bahwa beliau tidak mendapati seorang salaf yang melakukannya adalah tertolak setelah jelas bagi kita keshohihan hadits ini. Imam Nawawi berkata: “Apabila telah shohih suatu hadits, maka tidaklah ditinggalkan dengan alasan karena sebagian manusia meninggalkannya”. “Ucapan ini bukanlah hujjah, sebab sunnah telah shohih, adapun beliau tidak mengetahuinya maka hal itu tidak menjadi masalah”.Dalam masalah lain, beliau membantah alasan ini: “Sunnah Nabi lebih didahulukan daripada pendapat beliau (imam Malik). Sewajibnya mengikuti hadits, adapun Malik maka beliau mendapatkan udzur karena hadits ini belum sampai kepadanya”. Inilah juga yang dikatakan oleh Imam Ibnu Abdil Barr bahwa hadits ini belum sampai kepada Imam Malik, seandainya beliau mengetahuinya, neiscaya beliau akan mengambilnya.
  3. Ketiga: Adapun alasan khawatir dianggap wajib oleh sebagian orang jahil, maka ini adalah alasan yang lemah ditinjau dari beberapa segi:
  • a) Kekhawatiran ini sekarang hampir bisa dikatakan tidak ada wujudnya, sebab semua orang telah mengetahui bahwa puasa syawal hukumnya adalah sunnah.
  • b) Menghilangkan kekhawatiran ini bukanlah caranya dengan menolak sunnah yang telah shohih, tetapi bisa dengan cara lainnya, seperti penjelasan kepada mereka bahwa puasa ini hukumnya hanya sunnah, atau dengan meninggalkannya sesekali agar tidak dianggap wajib.
  • c) Kekhawatiran ini bisa hilang apabila seseorang memisahnya dengan tidak berpuasa pada hari raya karena memang hal itu terlarang, atau dengan berpuasa pada pekan kedua atau ketiga dari bulan syawal.
  • d) Bila alasan ini dipertahankan maka konsekuansinya juga adalah meninggalkan puasa-puasa sunnah lainnya yang dianjurkan seperti Asyuro, Arofah dan lain-lain dengan alasan khawatir dianggap wajib, padahal tidak ada seorang ulama-pun yang berpendapat demikian.

FIQIH HADITS
Lumayan panjang untuk membahas tentang faedah dan hukum-hukum seputar puasa syawal, namun semoga pembahasan berikut ini sedikit mencukupi:

1. Disyari’atkannya Puasa Enam Hari Pada Bulan Syawwal
Puasa enam hari bulan syawwal hukumnya sunnah, baik bagi kaum pria maupun wanita. Hal ini merupakan pendapat mayoritas ahli ilmu seperti diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ka’b al-Akhbar, Sya’bi, Thawus, Maimun bin Mihran, Abdullah bin Mubarok, Ahmad bin Hanbal dan Syafi’i.
Imam Nawawi berkata: “Dalam hadits ini terdapat dalil yang jelas bagi madzhab Syafi’i, Ahmad, Dawud beserta ulama yang sependapat dengannya mengenai sunnahnya puasa enam hari bulan Syawwal.”
Ibnu Hubairah berkata: “Mereka bersepakat tentang sunnahnya puasa enam hari Syawal kecuali Abu Hanifah dan Malik yang mengatakan bahwa hal itu dibenci dan tidak disunnahkan”.
Alangkah bagusnya ucapan Al-Allamah al-Mubarakfuri: “Pendapat yang menyatakan dibencinya puasa enam hari Syawwal merupakan pendapat yang bathil dan bertentangan dengan hadits-hadits shahih. Oleh karena itu, mayoritas ulama Hanafiyah berpendapat tidak mengapa seorang berpuasa enam hari Syawwal tersebut. Ibnu Humam berkata : “Puasa enam hari Syawwal menurut Abu Hanifah dan Abu Yusuf makruh (dibenci) tetapi ulama Hanafiyah berpendapat bahwa hal itu tidak mengapa”.

2. Keutamaan puasa enam hari Syawwal.
Yaitu dihitung seperti puasa setahun penuh, karena satu kebaikan berkelipatan sepuluh. Satu bulan 30 hari x 10 = 10 bulan, dan enam hari 6 x 10 = 2 bulan. Jadi, jumlah seluruhnya 12 bulan = 1 tahun. Hal ini sangat jelas dalam riwayat Tsauban.
Namun hal ini bukan berarti dibolehkan atau disunnahkan puasa dahr (setahun) sebagaimana anggapan sebagian kalangan, karena beberapa sebab:
Pertama: Maksud perumpamaan Nabi di atas adalah sebagai anjuran dan penjelasan tentang keutamaannya, bukan untuk membolehkan puasa dahr (setahun) yang jelas hukumnya haram dan memberatkan diri, apalagi dalam setahun seorang akan berbenturan dengan hari-hari terlarang untuk puasa seperti hari raya dan hari tasyriq.
Kedua: Nabi telah melarang puasa dahr. Kalau demikian, lantas mungkinkah kemudian hal itu dinilai sebagai puasa yang dianjurkan?!
Ketiga: Nabi bersabda: “Sebaik-baik puasa adalah puasa Dawud, beliau sehari puasa dan sehari berbuka”. Hadits ini sangat jelas sekali menunjukkan bahwa puasa Dawud lebih utama daripada puasa dahr sekalipun hal itu lebih banyak amalnya.

3. Beberapa Faedah Puasa Syawal
Membiasakan puasa setelah ramadhan memiliki beberapa faedah yang cukup banyak, diantaranya:

  • Puasa enam hari syawal setelah ramadhan berarti meraih pahala puasa setahun penuh
  • Puasa syawal dan sya’ban seperti shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudah shalat fardhu, untuk sebagai penyempurna kekurangan yang terdapat dalam fardhu
  • Puasa syawal setelah ramadhan merupakan tanda bahwa Allah menerima puasa ramadhannya, sebab Allah apabila menerima amal seorang hamba maka Dia akan memberikan taufiq kepadanya untuk melakukan amalan shalih setelahnya
  • Puasa syawal merupakan ungkapan syukur setelah Allah mengampuni dosanya dengan puasa ramadhan
  • Puasa syawwal merupakan tanda keteguhannya dalam beramal shalih, karena amal shalih tidaklah terputus dengan selesainya ramadhan tetapi terus berlangusng selagi hamba masih hidup.

4. Haruskah berturut-turut setelah Idul Fithri?!
Ash-Shon’ani berkata:

“Ketahuilah bahwa pahala puasa ini bisa didapatkan bagi orang yang berpuasa secara berpisah atau berturut-turut, dan bagi yang berpuasa langsung setelah hari raya atau di tengah-tengah bulan”.
An-Nawawi berkata:

“Afdhalnya, berpuasa enam hari berturut turut langsung setelah Idhul Fithri. Namun jika seseorang berpuasa Syawwal tersebut dengan tidak berturut-turut atau berpuasa di akhir-akhir bulan, dia masih mendapatkan keutamaan puasa Syawwal, berdasarkan konteks hadits ini.” Yakni keumuman sabda Nabi “enam hari bulan syawal”.

Inilah pendapat yang benar. Jadi, boleh berpuasa secara berturut-turut atau tidak, baik di awal, di tengah maupun di akhir bulan Syawwal. Namun, yang lebih utama adalah bersegera melakukan puasa Syawwal karena beberapa sebab:

  • Pertama: Bersegera dalam beramal shalih
  • Kedua: Agar tidak terhambat oleh halangan dan godaan syetan sehingga menjadikannya tidak berpuasa
  • Ketiga: Manusia tidak tahu kapan malaikat maut menjemputnya.

Dengan demikian, maka kita dapat mengetahui kesalahan keyakinan sebagian masyarakat yang mengatakan bahwa puasa sunnah syawwal harus pada hari kedua setelah hari raya, bila tidak maka sia-sia puasanya!!

5. Bila Masih Punya Tanggungan Puasa Ramadhan
Apabila seorang ingin berpuasa Syawwal tetapi dia masih memiliki tangungan puasa ramadhan, bagaimana hukumnya?!

  • Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata:

“Barangsiapa yang mempunyai tanggungan puasa Ramadhan, kemudian dia memulai puasa enam syawal, maka dia tidak mendapatkan keutamaan pahala orang yang puasa ramadhan dan mengirinya dengan enam syawal, sebab dia belum menyempurnakan puasa ramadhan”.

  • Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin berkata:

“Puasa enam syawal berkaitan dengan ramadhan, dan tidak dilakukan kecuali setelah melunasi tanggungan puasa wajibnya. Seandainya dia berpuasa syawal sebelum melunasinya maka dia tidak mendapatkan pahala keutamaannya, berdasarkan sabda Nabi: “Barangsiapa puasa ramadhan kemudian dia menyertainya dengan enam hari syawal maka seakan-akan dia berpuasa setahun penuh”.
Dan telah dimaklumi bersama bahwa orang yang masih memiliki tanggungan puasa ramadhan berarti dia tidak termasuk golongan orang yang telah puasa ramadhan sampai dia melunasinya terlebih dahulu. Sebagian manusia keliru dalam masalah ini, sehingga tatkala dia khawatir keluarnya bulan syawal maka dia berpuasa sebelum melunasi tanggungannya. Ini adalah suatu kesalahan“.

6. Kalau Memang Ada Udzur Sehingga Keluar Bulan Syawwal
Bagaimana kalau seseorang tidak bisa melakukan puasa syawal karena ada udzur seperti sakit, nifas atau melunasi hutang puasanya sebanyak sebulan, sehingga keluar bulan syawal. Apakah dia boleh menggantinya pada bulan-bulan lainnya dan meraih keutamaannya, ataukah tidak perlu karana waktunya telah keluar?! Masalah ini diperselisihkan oleh ulama:

  • Pertama. Boleh menggodho’nya karena ada udzur. Pendapat ini dipilih oleh Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di dan Syaikh Ibnu Utsaimin . Alasannya adalah menqiyaskan dengan ibadah-ibadah lain yang bisa diqodho’ apabila ada udzur seperti shalat.
  • Kedua. Tidak disyariatkan untuk mengqodho’nya apabila telah keluar bulan syawal, baik karena ada udzur atau tidak, karena waktunya telah lewat. Pendapat ini dipilih oleh syaikh Abdul Aziz bin Baz .

Pendapat kedua inilah yang tentram dalam hati penulis, karena qodho’ membutuhkan dalil khusus dan tidak ada dalil dalam masalah ini. Wallahu A’lam. Alhamdulillah, kalau memang dia benar-benar jujur dalam niatnya yang seandainya bukan karena udzur tersebut dia akan melakukan puasa syawal, maka Allah akan memberikan pahala baginya, sebagaimana dalam hadits:

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلَ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيْمًا صَحِيْحًا
Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, maka dia ditulis seperti apa yang dia lakukan dalam muqim sehat.

(HR. Bukhari: 2996)

7. Menggabung Niat Puasa
Kalau ada orang yang berpuasa syawwal dan ingin menggabungnya dengan qodho’ puasa ramadahan, atau dengan puasa senin kamis, atau tiga hari dalam sebulan, bagaimana hukumnya?! Menjawab masalah ini, hendakanya kita mengetahui terlebih dahulu sebuah kaidah berharga yang disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Rojab, yaitu

“Apabila berkumpul dua ibadah satu jenis dalam satu waktu, salah satunya bukan karena qodho’ (mengganti) atau mengikut pada ibadah lainnya, maka dua ibadah tersebut bisa digabung jadi satu”.

Jadi, menggabung beberapa ibadah menjadi satu itu terbagi menjadi dua macam:

  • Pertama: Tidak mungkin digabung, yaitu apabila ibadah tersebut merupakan ibadah tersendiri atau mengikut kepada ibadah lainnya, maka di sini tidak mungkin digabung.
  • Contoh: Seorang ketinggalan shalat sunnah fajar sampai terbit matahari dan datang waktu sholat dhuha, di sini tidak bisa digabung antara shalat sunnah fajar dan shalat dhuha, karena shalat sunnah fajar adalah ibadah tersendiri dan shalat dhuha juga ibadah tersendiri.
  • Contoh lain: Seorang sholat fajar dengan niat untuk shalat sunnah rawatib dan shalat fardhu, maka tidak bisa, karena shalat sunnah rawatib adalah mengikut kepada shalat fardhu.
  • Kedua: Bisa untuk digabung, yaitu kalau maksud dari ibadah tersebut hanya sekedar adanya perbuatan tersebut, bukan ibadah tersendiri, maka di sini bisa untuk digabung.
  • Contoh: Seorang masuk masjid dan menjumpai manusia sedang melakukan shalat fajar, maka dia ikut shalat dengan niat shalat fajar dan tahiyyatul masjid, maka boleh karena tahiyyatul masjid bukanlah ibadah tersendiri.

Nah, dari sini dapat kita simpulkan bahwa kalau seorang menggabung puasa syawwal dengan mengqodho’ puasa ramadhan maka hukumnya tidak boleh karena puasa syawal di sini mengikut kepada puasa ramadhan . Namun apabila seseorang menggabung puasa syawwal dengan puasa tiga hari dalam sebulan, puasa dawud, senin kami maka hukumnya boleh. Wallahu A’lam.

 

Demikianlah beberapa pembahasan yang dapat kami ketengahkan. Semoga bermanfaat.

Disalin dari artikel Ustadz Abu Ubaidah untuk Blog Abu Abdurrohman

Puasa Syawal tidak Terlaksana karena Uzur

Tidak Puasa Syawal karena ada uzur

Bagaimana kalau seseorang tidak bisa melakukan puasa Syawal karena ada udzur seperti sakit, nifas atau melunasi hutang puasanya sebanyak sebulan, sehingga keluar bulan Syawal. Apakah dia boleh menggantinya pada bulan-bulan lainnya dan meraih keutamaannya, ataukah tidak perlu karena waktunya telah keluar? Masalah ini diperselisihkan oleh ulama:

Boleh men-qadha-nya karena ada udzur. Pendapat ini dipilih oleh Syaikh Abdurrahman as-Sa’di (Al-Fatawa Sa’diyyah, hal. 230) dan Syaikh Ibnul Utsaimin (Syarhul Mumti’, 7/467). Alasannya adalah men-qiyas-kan dengan ibadah-ibadah lain yang bisa di-qadha apabila ada udzur seperti shalat.

Tidak disyariatkan untuk men-qadha puasa syawal apabila telah keluar bulan Syawal, baik karena ada udzur atau tidak, karena waktunya telah lewat. Pandapat ini dipilih oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 3/270, Al-Fatawa Ibnu Baz -Kitab Da’wah- 2/172, Fatawa Shiyam, 2/695-695, kumpulan Asyraf ‘Abdul Maqshud).

Kesimpulan qadha puasa syawal karena uzur

Pendapat kedua inilah yang tentram dalam hati penulis, karena qadha puasa syawal membutuhkan dalil khusus dan tidak ada dalil dalam masalah ini. Wallahu A’lam (Simak kaset Fatawa Jeddah, oleh Syaikh al-Albani, no. 7 dan Ahkamul Adzkar, Zakariya al-Bakistani, hal. 51).

Alhamdulillah, kalau memang dia benar-benar jujur dalam niatnya yang seandainya bukan karena udzur tersebut dia akan melakukan puasa Syawal, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan pahala baginya, sebagaimana dalam hadits:

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيْمًا صَحِيْحًا

“Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, maka dia ditulis seperti apa yang dia lakukan dalam muqim sehat.” (HR. al-Bukhari, 2996)

Sumber: Ensiklopedi Amalan Sunnah di Bulan Hijriyah, Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi, Abu Abdillah Syahrul Fatwa, Pustaka Darul Ilmi
Disalin dari artikel konsultasisyariah untuk Blog Abu Abdurrohman