Kristenisasi Berkedok Haji: Beredar Buku Manasik Haji Palsu Bergambar Yesus

BENGKULU (voa-islam.com) –Hampir setiap tahun, para misionaris Kristen memanfaatkan momen akbar ‘Ibadah Haji’ umat Islam dengan menggelontorkan misi kristenisasi berkedok manasik haji. Para calon jama’ah haji diserbu dengan buku manasik haji palsu bergambar Yesus.

Jelang musim haji 2012, Kantor Kementerian Agama Kota Bengkulu menemukan buku panduan haji bergambar Yesus Kristus. Gambar tersebut dijumpai saat sejumlah calon haji hendak melakukan manasik.

“Di buku panduan haji ada gambarnya Yesus sedang menggembala domba,” kata Yusrati, salah seorang peserta Manasik, Senin, 10 September 2012. Dia menduga ada unsur kesengajaan gambar tersebut ada di buku panduan haji. “Tidak mungkin gambar ini muncul tiba-tiba,” ujarnya.

Yusrati menjelaskan, buku panduan haji itu semestinya hanya berisi doa, zikir, dan tanya jawab manasik haji dan umrah. Namun ada satu halaman yang dilampiri foto Yesus. Di situ, Yesus digambarkan dalam posisi sedang menggembala seekor domba. Di bawah gambar tersebut tertulis “Yesus dan gembala yang baik”.

….Di buku panduan haji ada gambarnya Yesus menggembala domba. Padahal mestinya buku panduan haji hanya berisi doa, zikir, dan tanya jawab manasik haji…

Terkait gambar tersebut, Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah Kementerian Agama Kota Bengkulu, Efendi Joni, mengatakan buku panduan tersebut didapat dari Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kementerian Agama Republik Indonesia.

“Buku itu akan kami kembalikan ke direktorat supaya diusut,” kata Efendi. Dia mengaku khawatir adanya gambar tersebut akan menimbulkan konflik antar-agama.

Setelah mengecek 280 buku panduan haji yang telah dibagikan kepada calon jemaah haji, petugas kementerian agama, menurut Efendi, pihaknya hanya menemukan satu buku panduan yang memuat gambar tersebut.

KRISTENISASI BUKU “UPACARA IBADAH HAJI” DI LEBAK BANTEN

Beberapa tahun lalu, kasus serupa terjadi di Kabupaten Lebak, Banten. Secara membabi-buta, misionaris Kristen menyebarkan buku berjudul “Risalah Upacara Ibadah Haji” dengan tebal 86 halaman ini dikarang oleh Drs. H. Amos.

Peristiwa yang menghebohkan warga Lebak pada awal November 2008 itu pun langsung ditangani Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lebak, dengan mengeluarkan fatwa yang menyatakan buku itu haram dibaca umat Islam.

Menurut KH Satibi Hambali, Ketua MUI Lebak, buku itu isinya menyebutkan ibadah haji sebagai ibadah menyembah berhala. Selain itu, ibadah haji juga disebut sebagai ibadah agama bangsa Arab. “Inikan sangat menyesatkan. Untuk itu kami meminta aparat menindak penerbit dan orang yang membagikan buku gratis tersebut,” pinta KH Satibi, Kamis (13/11).

Drs H Amos, nama aslinya Drs Poernama Winangun adalah murtadin binaan penginjil Suradi ben Abraham. Setelah menikah dengan wanita berdarah Manado, ia murtad ke Kristen dan belajar islamologi kepada Suradi ben Abraham.

…Berdasarkan Syari’at Islam mereka yang menghina Islam seperti Pendeta Suradi dan Pendeta Poernama Winangun wajib dihukum mati…

FATWA MATI UNTUK PENDETA DAN PENGINJIL PENGHUJAT ISLAM

Buku “Upacara Ibadah Haji” yang beredar luas ke kalangan Muslim itu beredar pertama kali tahun 2001. Karenanya, atas ulah buku kristenisasi yang menghujat Islam ini, Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) yang dikomandani KH Athian Ali Dai mengeluarkan Fatwa Mati terhadap para pendeta dan penginjil yang menghina Islam seperti Suradi ben Abraham dan Poernama Winangun.

“Berdasarkan Syari’at Islam mereka yang menghina Islam seperti Pendeta Suradi dan Pendeta Poernama Winangun wajib dihukum mati,” demikian kutipan fatwa bertajuk” tertanggal 7 Dzulqa’idah 1421 H bertepatan 1 Februari 2001 itu.

Dalam fatwa yang ditandatangani Ketua FUUI KH. ‘Athian Ali Da’i  dan Penasihat FUUI KH. Muhammad Rusyad Nurdin, fatwa mati divonis berdasarkan nas surat Al-Baqarah ayat 191 dan 193, yang diperkuat dengan beberapa sabda Rasulullah SAW, antara lain:

Hadits riwayat Abu Daud dan An-Nasa’i: “Dari Ibnu Abbas RA, bahwa ada seorang buta yang mempunyai ummul walad (budak perempuan yang dipakai tuannya lalu beranak) yang memaki-maki dan mencela Nabi Muhammad SAW. Ia telah melarang ummul waladtersebut, namun dia tidak mau berhenti mencela. Maka, pada suatu malam ia ambil satu pacul yang tajam sebelah, lalu ia taruh di perutnya dan ia duduki, dan dengan itu ia bunuh dia, sampai yang demikian kepada Nabi SAW, maka beliau bersabda: Saksikanlah bahwa darahnya itu hadar (sia- sia).”

Dalam hadits lainnya disebutkan bahwa seorang wanita Yahudi telah memaki Nabi SAW dan mencelanya, maka seorang lelaki mencekiknya hingga mati, maka Rasulullah SAW membatalkan darahnya.”

PENDETA MENGHUJAT MUALLAF MERALAT

Fatwa mati terhadap pendeta dan penginjil penghujat Islam itu sangat tepat, karena seluruh isi buku itu jauh dari ilmiah, penuh dengan hujatan agama yang bisa memicu konflik antaragama. Beberapa daftar hujatan dalam buku ini antara lain:

Isi buku “Upacara Ibadah Haji” tulisan pendeta ini seluruhnya menghujat Islam, melecehkan Allah SWT, menghina Nabi Muhammad SAW, dan menginjak-injak syariat Islam. Beberapa pelecehan dalam buku ini, antara lain:

  1. Menyatakan bahwa berdasar Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW, kedudukan Nabi Isa AS sama dengan ALLAH SWT. (hlm. 7-10).
  2. Menghina Allah SWT dengan menyatakan bahwa Allah adalah sebuah benda/zat (hlm. 15-17).
  3. Menuduh Nabi Muhammad sebagai nabi khusus untuk orang Arab saja yang mengajarkan kitab Al-Qur’an khusus untuk orang Arab saja (hlm. 19-20).
  4. Menghina Nabi Muhammad SAW sebagai orang yang belum memperoleh keselamatan (celaka) di akhirat (hlm. 23-25).
  5. Melecehkan Nabi Muhammad SAW dengan menuduh beliau pernah memperkosa seorang gadis di bawah umur (hlm. 27-33).
  6. Melecehkan Nabi Muhammad SAW dengan menuduh beliau sebagai orang yang hobi kawin-cerai (hlm. 32).
  7. Menghina ALLAH SWT dengan menyatakan bahwa berdasar Al-Qur’an dan Hadits Nabi, Nabi Musa AS lebih memiliki pengetahuan dibandingkan ALLAH SWT. (hlm. 38-40).
  8. Menghina umat Islam dengan tuduhan bahwa umat Islam memberhalakan Ka’bah. (hlm. 49-51).
  9. Melecehkan ibadah haji dengan menuduh bahwa umat Islam halal mencuri dan korupsi untuk haji (hlm. 52).
  10. Menghina tauhid umat Islam sebagai tauhid yang menyembah sebuah batu (hlm. 60-61).
  11. Menuduh Al-Qur’an sebagai kitab yang sudah tidak relevan dan ketinggalan zaman (hlm. 64-66).
  12. Menuduh Nabi Muhammad sebagai orang yang mengajarkan penyembahan setan dalam Upacara Haji (hlm. 71); sehingga orang yang tidak menyembah berhala dikafirkan oleh Nabi Muhammad (hlm. 73-74).
  13. Menuduh Ibadah Haji sebagai upacara penyembahan berhala yang tertutup (hlm. 78).
  14. Menuduh Ibadah Haji sebagai pekerjaan syirik kepada Tuhan (hlm. 83).

Menyikapi fitnah keji pendeta tersebut, H Wenseslaus Insan LS Mokoginta, muallaf berdarah Cina-Manado, menempuh jalur ilmiah dengan menulis buku jawaban balik. Dalam buku monumentalnya “Pendeta Menghujat Muallaf Meralat: Menyanggah Buku ‘Upacara Ibadah Haji’ karya Pendeta Himar Amos Alias Poernama Winangun,” Insan berusaha menjawab seluruh hujatan buku Kristen.

Melalui buku ini, peraih Muallaf Award selama empat tahun berturut-turut itu berharap agar umat Islam tidak terkecoh membaca buku “Upacara Ibadah Haji” karya Pendeta Drs. H. Amos itu. “Umat Islam pasti terkecoh dan menyangka kalau buku ini adalah bacaan umat Islam, sama seperti buku manasik ibadah haji pada umumnya. Apalagi pada sampul depan dihiasi dengan foto Masjidil Haram yang sedang dipadati oleh jemaah ibadah haji,” ujarnya. [taz]

Referensi www.voa-islam.com dan nahimunkar.com

Artikel Blog Abu Abdurrohman

Iklan

Kelancangan Ahlul Kitab Terhadap Kitab Suci-Nya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi)

 

“Sesungguhnya ada segolongan di antara mereka yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu mengira yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: ‘Ini (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah’, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.” (Ali ‘Imran: 78)

Penjelasan Mufradat Ayat

Di antara mereka, yaitu kaum Yahudi yang ada di sekitar kota Madinah. Sebab, kata ganti “mereka” di sini kembali ke firman Allah I sebelumnya yang menjelaskan tentang keadaan mereka. (Tafsir Ath-Thabari, 3/323)

Memutar-mutar lidahnya, yaitu mereka men-tahrif (mengubahnya), sebagaimana dinukil dari Mujahid, Asy-Sya’bi, Al-Hasan, Qatadah, dan Rabi’ bin Anas. Demikian pula yang diriwayatkan Al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas bahwa mereka mengubah dan menghilangkannya, dan tidak ada seorang-pun dari makhluk Allah I mampu meng-hilangkan lafadz kitab dari kitab-kitab Allah. Namun mereka mengubah dan mentakwil-nya bukan di atas penakwilan sebenarnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/377, lihat pula Tafsir Ath-Thabari, 3/324)
Qatadah t berkata: “Mereka adalah Yahudi, musuh Allah I. Mereka mengubah kitab Allah I, membuat bid’ah di dalamnya, kemudian mengira bahwa itu dari sisi Allah I.” (Tafsir Ath-Thabari, 3/324)
Adapun dalam qira`ah (bacaan) Abu Ja’far dan Syaibah dibaca dengan “yulawwuun”, yang menunjukkan makna lebih sering dalam mengerjakan hal tersebut. (Tafsir Al-Qurthubi, 4/121)

Penjelasan Makna Ayat
Al-’Allamah Abdurrahman As-Sa’di t berkata menjelaskan ayat ini: “Allah I mengabarkan bahwa di antara ahli kitab ada yang mempermainkan lisannya dengan Al-Kitab, yaitu memalingkan dan mengubah dari maksud sebenarnya. Dan ini mencakup mengubah lafadz dan maknanya. Padahal tujuan dari adanya Al-Kitab adalah untuk memelihara lafadznya dan tidak mengubah-nya, serta memahami maksud dari ayat tersebut dan memahamkannya. Mereka justru bertolak belakang dengan hal ini. Mereka memahamkan selain apa yang diinginkan dari Al-Kitab, baik dengan sindiran maupun terang-terangan. Adapun secara sindiran terdapat pada firman-Nya (agar kalian menyang-kanya dari Al-Kitab) yaitu mereka memutar-mutar lisannya dan memberikan kesan kepadamu bahwa itulah maksud dari kitab Allah I. Padahal bukan itu yang dimaksud. Adapun yang secara terang-terangan, terdapat pada firman-Nya:

“Dan mereka mengatakan bahwa itu dari sisi Allah, padahal bukan dari sisi Allah. Mereka mengada-ada atas nama Allah dengan kedustaan dalam keadaan mereka menge-tahui.”
Dan ini lebih besar dosanya daripada orang yang mengada-ada atas nama Allah I tanpa ilmu. Mereka ini berdusta atas nama Allah I, kemudian menggabungkan antara menghilangkan makna yang haq dan menetapkan makna yang batil, dan mendu-dukkan lafadz yang menunjukkan kebenaran untuk dibawa kepada makna yang batil, dalam keadaan mereka mengetahui.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 136)
Ibnu Katsir t berkata: “Allah I mengabarkan tentang Yahudi –laknat Allah atas mereka– bahwa di antara mereka ada suatu kelompok yang mengubah-ubah kalimat dari tempatnya dan mengganti firman Allah serta menghilangkannya dari maksud sebenarnya untuk memberi kesan kepada orang-orang jahil bahwa itu terdapat dalam kitab Allah. Mereka menisbahkannya kepada Allah. Mereka berdusta dalam keadaan mereka mengeta-hui dari diri mereka sendiri bahwa mereka berdusta dan mengada-adakan semua itu. Oleh karenanya Allah mengatakan: “dan mereka berdusta atas nama Allah dalam keadaan mereka mengetahui.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/377)
Ath-Thabari t berkata: “Allah jalla tsana`uhu memaksudkan bahwa di antara ahli kitab, yaitu kaum Yahudi dari Bani Israil yang ada di sekitar Rasulullah n di masanya, mempermainkan lisan mereka dengan Al-Kitab agar kalian menyangkanya dari kitab Allah dan yang diturunkan-Nya. Padahal apa yang lisan mereka permainkan adalah kitab Allah yang telah mereka ubah dan ada-adakan. Dan mereka kesankan bahwa apa yang telah mereka permainkan dengan lisan mereka dengan mengubah, berdusta, dan berbuat kebatilan, lalu mereka masukkan dalam kitab Allah, bahwa itu berasal dari sisi Allah. Padahal itu bukan dari apa yang diturunkan Allah kepada salah seorang dari nabinya. Namun hal tersebut merupakan sesuatu yang mereka ada-adakan dari diri mereka sendiri, dusta atas nama Allah. Mereka sengaja berdusta atas nama Allah, dan bersaksi atasnya dengan kebatilan dan menyertakan sesuatu yang tidak termasuk kitab Allah ke dalamnya, hanya karena mengharapkan kekuasaan dan kehidupan dunia yang rendah nilainya.” (Tafsir Ath-Thabari, dengan sedikit diringkas, 3/323-324)

Kitab Taurat dan Injil yang Telah Berubah1
Allah I berfirman:
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: ‘Ini dari Allah’, (dengan maksud) untuk memper-oleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 79)

“Hai Rasul, janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (mem-perlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: ‘Kami telah beriman’, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka mengubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: ‘Jika diberikan ini (yang sudah diubah-ubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah.’ Barangsiapa yang Allah menghen-daki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) dari Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat mereka mendapat siksaan yang besar.” (Al-Maidah: 41)
Ayat-ayat Allah U yang mulia ini menjelaskan kepada kita, apa yang telah diperbuat Ahli Kitab terhadap kitab-kitab mereka berupa perubahan, penambahan, dan membawa makna-makna yang terdapat dalam kitab Allah tersebut kepada yang bukan pemahaman sebenarnya. Mereka melaku-kannya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah dan untuk mendapatkan sebagian kehidupan dunia yang hina. Mereka melakukannya dalam keadaan mengetahui kebenaran tersebut, namun menyembunyi-kan dan menampakkan sebaliknya di hadapan manusia. Allah I berfirman:
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (Al-Baqarah: 146)
Namun adanya perubahan tersebut bukan berarti bahwa semua yang terdapat dalam kitab Taurat ataukah Injil telah mengalami perubahan secara keseluruhan. Bahkan di dalam keduanya itu masih banyak terdapat ayat-ayat yang merupakan teks asli dari kitab Allah U, yang jika seseorang Nasrani atau Yahudi mengimani ayat-ayat tersebut dengan keimanan yang sebenar-benarnya, niscaya mereka akan beriman dengan apa yang dibawa Rasulullah n berupa wahyu Al-Qur`an Al-Karim. Hal ini telah dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t, beliau berkata:
“Demikian pula dikatakan: jika lafadz-lafadz khabar diubah sedikit, tidaklah mencegah bahwa kebanyakan lafadznya tidak terjadi perubahan. Apalagi jika di dalam Al-Kitab itu sendiri ada yang menunjukkan sesuatu yang telah diubah itu. Dan dikatakan pula bahwa apa-apa yang telah diubah dari lafadz-lafadz Taurat dan Injil, maka dalam Taurat dan Injil itu sendiri ada yang menjelaskan sesuatu yang telah berubah tersebut.”
Lalu beliau melanjutkan perkataan-nya: “Sesungguhnya, perubahan yang ada hanya sedikit dan kebanyakannya tidak berubah. Dan pada yang tidak berubah terdapat lafadz-lafadz yang jelas dan sangat nampak maksudnya yang menjelaskan kesalahan yang menyelisihinya, dan memiliki penguat-penguat yang banyak yang membenarkan sebagian terhadap sebagian yang lainnya. Berbeda dengan sesuatu yang telah berubah, sesungguhnya lafadznya sedikit dan nash-nash Al-Kitab membantah-nya. Sehingga (Al-Kitab) ini berkedudukan seperti kitab-kitab hadits yang dinukil dari Nabi n, di mana terdapat beberapa hadits yang lemah di dalam Sunan Abu Dawud, At-Tirmidzi, atau selainnya. Maka dalam hadits-hadits shahih dari Nabi n ada yang menjelaskan lemahnya riwayat tersebut.
Bahkan di dalam Shahih Muslim terdapat sedikit lafadz yang keliru, yang mana hadits-hadits yang shahih bersama Al-Qur`an ada yang menjelaskan kekeliruan tersebut. Seperti apa yang diriwayatkan bahwa Allah menciptakan bumi pada hari Sabtu dan menjadikan penciptaan makhluk dalam tempo tujuh hari, di mana hadits ini telah dijelaskan para imam ahli hadits seperti Yahya bin Ma’in, Abdurrahman bin Mahdi, Al-Bukhari dan selainnya bahwa hadits ini keliru, dan bahwa itu bukan dari perkataan Nabi n. Bahkan Al-Bukhari menjelaskan dalam Tarikh Kabir bahwa ini adalah perkataan Ka’b Al-Ahbar, sebagaimana telah dirinci pada pembahasannya. Dan Al-Qur`an juga menunjukkan kesalahan ini dan menjelaskan bahwa penciptaan terjadi selama enam hari. Dan telah terdapat dalam hadits shahih bahwa akhir pen-ciptaan pada hari Jum’at, maka awal penciptaan terjadi pada hari Ahad.
Demikian pula yang diriwayatkan bahwa Rasulullah n shalat kusuf (gerhana) dengan dua atau tiga ruku’, maka sesungguhnya yang tsabit dan mutawatir dari Nabi n dalam dua kitab Shahih (Al-Bukhari dan Muslim) dan selainnya dari hadits ‘Aisyah, Ibnu ‘Abbas, Abdullah bin ‘Amr, dan yang lainnya bahwa beliau shalat pada satu rakaat dengan dua ruku’. Oleh karenanya Al-Imam Al-Bukhari tidak mengeluarkan hadits lain kecuali hadits ini.”
Lalu beliau berkata lagi: “Demikian pula jika terjadi perubahan pada sebagian lafadz kitab-kitab terdahulu, maka dalam kitab itu sendiri ada yang menjelaskan kekeliruannya. Dan telah kami jelaskan bahwa kaum muslimin tidaklah mengklaim bahwa seluruh salinan (Al-Kitab) yang ada di dunia dari zaman Nabi n dengan setiap bahasa dari Taurat, Injil, dan Zabur telah diubah lafadz-lafadznya. Sesungguhnya saya tidak mengetahui ada yang meng-ucapkan demikian baik dari ulama salaf, meskipun dari kalangan mutaakhirin (orang belakangan) bisa jadi ada yang mengata-kannya. Sebagaimana di kalangan umat belakangan ada yang membolehkan ber-istinja (bersuci) dengan setiap salinan Taurat dan Injil yang ada di dunia. Maka ucapan ini dan yang semisalnya bukanlah ucapan pendahulu dan para imam umat ini.” (Daqa`iq At-Tafsir, 2/57-59. Lihat pula Al-Jawab Ash-Shahih Liman Baddala Dinal Masih, 2/442-444)
Apa yang disebutkan Syaikhul Islam ini dibuktikan kebenarannya oleh Al-Qur`an dan As-Sunnah. Al-Qur`an Al-Karim dalam banyak tempat banyak menjadikan isi Taurat dan Injil sebagai hujjah atas ahli kitab untuk membenarkan apa yang dibawa Rasulullah n. Silahkan baca surah Al-Ma`idah, mulai dari ayat 46-50. Demikian pula firman Allah U:
“Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: ‘(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar’.” (Ali Imran: 93)
Demikian pula yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin ‘Umar bahwa beberapa orang Yahudi datang kepada Nabi n dengan membawa seorang lelaki dari mereka dan seorang wanita yang keduanya telah berbuat zina. Maka Rasulullah n bertanya kepada mereka: “Apa yang kalian lakukan terhadap orang yang berzina di antara kalian?” Mereka menjawab: “Kami melumuri wajahnya dengan arang2 dan memukulnya.” Rasulul-lah n berkata: “Apakah kalian tidak menemu-kan hukum rajam dalam Taurat?” Mereka menja-wab: “Kami tidak mendapati sedi-kitpun (tentang rajam).” Abdul-lah bin Sallam berkata kepada mereka: “Kalian telah berdusta, datangkanlah Taurat jika kalian jujur.” Salah seorang guru mereka yang mengajari mereka meletakkan telapak tangannya di atas ayat rajam (dengan maksud menutupinya, red.). Lalu diapun mulai membaca ayat yang sebelum dan sesudahnya, dan tidak membaca ayat rajam. (Abdullah bin Sallam) melepaskan tangannya dari ayat rajam dan bertanya: “(Ayat) apa ini?” Tatkala mereka melihat itu merekapun menjawab: “Itu ayat rajam.” Maka Rasulullah n memerintahkan agar keduanya dirajam3. Maka keduanya pun dirajam di dekat tempat jenazah yang ada di dekat masjid. Ibnu ‘Umar berkata: “Aku melihat (yang dirajam tersebut) berusaha menghindar, melindungi dirinya dari bebatuan (yang dilemparkan kepadanya hingga ia tewas).” (HR. Al-Bukhari, 8/4556 dan Muslim no. 1699)
Bagi siapa yang melihat kitab Injil sekarang ini, masih sangat banyak ajaran-ajaran asli yang berasal dari ajaran Nabi ‘Isa u, yang apabila mereka memahami-nya dengan pemahaman yang jernih, niscaya akan membawa kepada keyakinan akan kebenaran Islam yang dibawa Rasulullah n.
Di antara-nya adalah apa yang disebutkan dalam Injil, kitab Ulangan 6:4: “Dengarlah hai orang Israil, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu satu.”
Dan dalam kitab Yesaya 45:5-6: “Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain.”
Demikian pula dalam Yoha-nes 17:3: “Inilah hidup yang kekal, yaitu mereka mengenal Engkau, satu-satu-Nya yang benar dan mengenal Yesus4 yang telah engkau utus.”
Demikian pula di dalam kitab Injil yang terdapat larangan membuat patung, dalam kitab keluaran 20:4-5: “Janganlah membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku Tuhan, Allahmu adalah Allah yang cemburu.”
Bahkan anjuran untuk berkhitan pun disebutkan dalam Injil mereka, seperti yang disebutkan dalam Kitab Kejadian 17:13: “Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat,” lalu pada ayat ke-14 disebutkan: “Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerah kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari tengah masyarakatnya. Ia telah mengingkari perjanjian-Ku.”
Demikian pula dijelaskan bahwa Nabi ‘Isa u hanyalah diutus secara khusus untuk Bani Israil, dan tidak lebih dari itu. Seperti yang disebutkan dalam Matius 10:5-6: “Kedua belas murid itu diutus Yesus dan ia berpesan kepada mereka: ‘Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Dan dalam Matius 15:24 disebutkan: “Jawab Yesus: ‘Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israil’.”
Seluruh perkara ini dibenarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya n dalam banyak haditsnya. Oleh karenanya, setelah diutusnya Rasulullah n sebagai Nabi dan Rasul penghabisan, maka beliau diutus untuk seluruh umat manusia. Sehingga tidak diperkenankan lagi bagi seorangpun dari kalangan umat ini untuk menjadikan petunjuk kecuali apa yang telah dibawa Muhammad bin Abdullah n. Sebagaimana diriwayatkan Al-Imam Muslim dari hadits Abu Hurairah z, bahwa Rasulullah n bersabda:
“Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentangku seorangpun dari umat ini, apakah dia seorang Yahudi ataukah Nasrani, lalu dia mati dan tidak mengimani apa yang dengannya aku telah diutus, melainkan dia tergolong penduduk neraka.” (HR. Muslim dan Ahmad)
Wallahu’alam bish-shawab.


1 Adapun hukum membaca Taurat dan Injil, silakan lihat pembahasan Rubrik Hadits edisi ini.
2 Ada pula yang menafsirkannya: Kami menyiramnya dengan air panas. Dalam riwayat lain: Kami mempermalukan mereka dan mereka dicambuk.
3 Dalam riwayat lain bahwa Rasulullah n berkata: “Sesungguhnya aku menghukuminya berdasarkan apa yang terdapat dalam Taurat.”
4 Maksudnya adalah Nabi ‘Isa u.

HAFAL AL QUR’AN VS HAFAL INJIL

AKHWAT: “Pak Pendeta, di dunia ini ada banyak orang yang hapal Al Qur’an diluar kepala. Apakah ada orang yang hapal Alkitab diluar kepala?”

PENDETA (bertitle Doctor Teology): “Di dunia ini tidak mungkin ada yang hapal Alkitab di luar kepala. Sejenius apa pun orang itu, tidak mungkin dia bisa hapal Alkitab di luar kepala, sebab Alkitab itu adalah buku yang sangat tebal, jadi sulit untuk dihapal. Berbeda dengan Al Qur’an. Al Qur’an adalah buku yang sangat tipis, makanya mudah dihapal.”

(Jawaban pendeta tersebut terlalu singkat, tidak rasional dan sangat merendahkan bahkan melecehkan AI Qur’an)

Dengan jawaban pak Pendeta hanya seperti itu, karena penasaran, kami maju ke depan, merebut mikropone yang ada ditangan akhwat tersebut, dan melanjutkan pertanyaan akhwat tadi. (maaf disini kami pakai nama pengganti HILS)

HILS : “Maaf pak Pendeta, tadi bapak katakan bahwa Al Qur an adalah buku yang sangat tipis, makanya gampang dihapal diluar kepala. Tapi pak Pendeta, bahwa setipis-tipisnya Al Qur’an, ada sekitar 500 s/d 600 halaman, jadi cukup banyak juga lho!! Tapi kenyataannya di dunia ini ada jutaan orang yang hapal Al Qur’an diluar kepala. Bahkan anak kecil sekalipun banyak yang hapal diluar kepala, walaupun artinya belum dipahami. Sekarang saya bertanya kepada pak Pendeta, Alkitab itu terdiri dari 66 kitab bukan? Jika pak Pendeta hapal satu surat saja diluar kepala (1/66 saja), semua yang hadir disini jadi saksi, saya akan kembali masuk agama Kristen lagi! Ayo silahkan pak Pendeta!”

Mendengar tantangan saya seperti itu, situasi jadi tegang, mungkin audiens yang muslim khawatir, jangan-jangan ada salah satu Pendeta yang benar-benar hapal salah satu surat saja di dalam Alkitab tersebut. Seandainya ada yang hapal, berarti saya harus tepati janjiku yaitu harus masuk Kristen kembali. Karena para Pendetanya diam, saya lemparkan kepada jemaat atau audiens Kristen yang dibelakang.

HILS :  “Ayo kalian yang dibelakang, jika ada diantara kalian yang hapal satu surat saja dari Alkitab ini diluar kepala, saat ini semua jadi saksi, saya akan kembali masuk ke agama Kristen lagi, silahkan!!”

Masih dalam situasi tegang, dan memang saya tahu persis tidak akan mungkin ada yang hapal walaupun satu surat saja diluar kepala, tantangan tersebut saya robah dan turunkan lagi. Saat itu ada beberapa Pendeta yang hadir sebagai pembicara maupun sebagai moderator. Mereka itu usianya bervariasi, ada yang sekitar 40, 50 dan 60an tahun. Pada saat yang sangat menegangkan, saya turunkan tantangan saya ke titik yang terendah, dimana semua audiens yang hadir, baik pihak Kristen maupun Islam semakin tegang dan mungkin sport jantung.

HILS :  “Maaf pak Pendeta, umur andakan sekitar 40, 50 tahun dan 60an tahun bukan? Jika ada diantara pak Pendeta yang hapal SATU LEMBAR saja BOLAK BALIK ayat Alkitab ini, asalkan PAS TITIK KOMANYA, saat ini semua jadi saksinya, aku kembali masuk agama Kristen lagi!! Silahkan pak!”

Ketegangan yang pertama belum pulih, dengan mendengar tantangan saya seperti itu, situasi semakin tegang, terutama dipihak teman-teman yang beragama Islam. Mungkin mereka menganggap saya ini gila, over acting, terlalu berani, masak menantang para Pendeta yang hampir rata­rata bertitel Doctor hanya hapalan satu lembar ayat Alkitab saja. Suasana saat itu sangat hening, tidak ada yang angkat suara, mungkin cemas, jangan-jangan ada yang benar-benar hapal ayat Alkitab satu lembar saja. Karena para pendeta diam seribu bahasa, akhirnya saya lemparkan lagi kepada jemaat atau audiens yang beragama Kristen.

HILS :  “Ayo siapa diantara kalian yang hapal satu lembar saja ayat Alkitab ini, bolak balik asal pas titik komanya, saat ini saya kembali masuk Kristen. Ayo silahkan maju kedepan!”

Ternyata tidak ada satu pun yang maju kedepan dari sekian banyak Pendeta maupun audiens yang beragama Kristen. Akhirnya salah seorang Pendeta angkat bicara sebagai berikut:

PENDETA: “Pak Insan, terus terang saja, kami dari umat Kristiani memang tidak terbiasa menghapal. Yang penting bagi kami mengamalkannya.”

HILS : “Alkitab ini kan bahasa Indonesia, dibaca langsung dimengerti! Masak puluhan tahun beragama Kristen dan sudah jadi Pendeta, selembar pun tidak terhapal? Kenapa? Jawabnya karena Alkitab ini tidak murni wahyu Allah, maka­nya sulit dihapal karena tidak mengandung mukjizat! Beda dengan Al Qur’an. Di dunia ini ada jutaan orang hapal diluar kepala, bahkan anak kecilpun banyak yang hapal diluar kepala seluruh isi Al Qur’an yang ratusan halaman. Padahal bahasa bukan bahasa kita Indonesia. Tapi kenapa mudah dihapal? Karena Al Qur’an ini benar-benar wahyu Allah, jadi mengandung mukjizat Allah, sehingga dimudahkan untuk dihapal. Soal mengamalkannya, kami umat Islam juga berusaha mengamalkan ajaran Al Qur’an. Saya yakin jika bapak-bapak benar­benar mengamalkan isi kandungan Alkitab, maka jalan satu-satunya harus masuk Islam. Bukti lain bahwa Al Qur’an adalah wahyu Allah, seandainya dari Arab Saudi diadakan pekan Tilawatil Qur’an, kemudian seluruh dunia mengakses siaran tersebut, kami umat islam bisa mengikutinya, bahkan bisa menilai apakah bacaannya benar atau salah. Dan ketika mengikuti siaran acara tersebut, tidak perlu harus mencari kitab Al Qur’an cetakan tahun 2000 atau 2005. Sembarang Al Qur’an tahun berapa saja diambil, pasti sama. Beda dengan Alkitab. Seandainya ada acara pekan tilawatil Injil disiarkan langsung dari Amerika, kemudian seluruh dunia mengaksesnya, kitab yang mana yang jadi rujukan untuk di ikuti dan dinilai benar tidaknya? Sama-sama bahasa Inggris saja beda versi, jadi sangat mustahil jika ada umat Kristiani bisa melakukan pekan tilawatil Injil, karena satu sama lainnya berbeda.”

Alhamdulillah dari sanggahan kami seperti itu mendapat sambutan hangat dan aplaus dari audiens yang beragama Islam. Oleh sebab itu kami serius menyediakan hadiah uang tunai sebesar Rp. 10.000.000.­(sepuluh juta rupiah) bagi siapa saja umat Kristiani yang bisa hapal ayat-ayat Alkitab walau 100 lembar saja bolak balik atas pas titik komanya. Bagi yang ingin mencobanya, kami persilahkan hubungi kami bila ada yang bisa menghapalnya diluar kepala, tanpa harus membuat satupun kesal.

(“Mustahil Kristen Bisa Menjawab”, Oleh : H. Insan LS Mokoginta)

Jumlah Penghafal Al-Qur’an di Indonesia Terbanyak di Dunia

Indonesia kali ini boleh berbangga. Pasalnya, ternyata jumlah penghafal Alquran di Indonesia tertinggi di dunia, yakni mencapai 30 ribu orang. Arab Saudi bahkan hanya memiliki 6.000 orang penghafal Alquran.
Namun jangan gembira dulu, jumlah tersebut masih terhitung sedikit jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan penduduk Indonesia yang sekitar 234 juta orang.

”Jadi lomba Musabaqah hafalan Alquran dianggap penting agar bisa terus menghasilkan penghafal Alquran dan hadits di kemudian hari,” ujar Koordinator Sekretariat Musabaqah Tahunan Hafalan Alquran Sultan Bin Abdul Aziz Tingkat Nasional, Gunaim Ikhsan, Jumat (24/9).

Acara yang berlangsung sejak Jumat (24/9) hingga Ahad (26/9) ini, kata Gunaim, masih memperlombakan lima cabang utama. Yakni hafalan 30 juz Alquran, 20 Juz Alquran, 15 Juz Alquran, 10 Juz Alquran, serta hafalan kumpulan hadits sejumlah 500 hadits (100 hadits lengkap dengan sanadnya dan 400 hadits tanpa sanad). “Jumlah peserta selalu bertambah setiap tahunnya. Tahun ini termasuk animo terbesar, terutama untuk peserta hapalan hadits,” kata dia.

Gunaim menambahkan, demi terus meningkatkan jumlah penghafal Alquran di Indonesia, hadiah Musabaqah pun terus ditambah. Ahad nanti, panitia akan mengumumkan 15 pemenang dari lima kategori perlombaan tersebut. Hadiah terbesarnya, yakni bagi pemenang pertama kategori hafalan 30 juz Alquran berhak mendapatkan uang sebesar 16 ribu riyal atau sebesar Rp 40 juta. Jumlah tersebut terus berurutan menurun untuk juara-juara berikutnya. Hadiah tersekecil, yakni bagi juara tiga cabang hafalan Alquran 10 juz akan mendapatkan 5.000 riyal atau sebesar Rp 12,5 juta. “Untuk peserta yang tidak menang juga kami berikan hadiah sebesar Rp 450 ribu per orang,” katanya.

Hadiah-hadiah tersebut tentu belum termasuk akomodasi dan penginapan serta baju, tas, dan makan yang gratis. Hadiah-hadiah dalam jumlah yang cukup besar tersebut, kata Gunaim, diharapkan mampu memberikan tambahan motivasi bagi anak muda penghafal Alquran agar memiliki kualitas lebih baik lagi.

(http://bataviase.co.id/node/394391 dan http://alhikmah.ac.id/2011/jumlah-penghafal-al-qur%E2%80%99an-di-indonesia-terbanyak-di-dunia/)

Diposting oleh Abu Fahd Negara Tauhid disalin untuk blog Abu Abdurrohman

Hukum Mempelajari Kitab Taurat Dan Injil

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang seorang muslim yang membuka-buka kitab Taurat dan Injil serta membacanya hanya sekadar ingin tahu saja, tidak ada tujuan yang lainnya. Haruskah kita mengimani keduanya?

Dijawab oleh syaikh kurang lebihnya demikian:

Wajib bagi setiap muslim untuk beriman kepada kitab-kitab tersebut; Tauratnya, Injilnya maupun Zaburnya. Maka kita wajib mengimaninya bahwa kitab-kitab tersebut telah diturunkan Allah kepada para nabi-Nya. Dan Allah juga telah menurunkan lembaran-lembaran yang berisikan perintah dan larangan, ancaman dan peringatan, berita-berita yang telah terjadi di masa lalu, berita tentang surga dan neraka, juga yang semisal dengan itu.

Akan tetapi bukan berarti boleh dipakai, karena kitab-kitab tersebut telah mengalami penyelewengan, pergantian maupun perubahan. Dan bukan juga berarti boleh melihat-lihat kitab Zabur, Taurat dan Injil atau membacanya. karena yang demikian amatlah berbahaya, karena terkadang isinya mendustakan kebenaran atau membenarkan kebathilan. Karena kitab-kitab ini telah diselewengkan dan telah diubah, juga telah disusupkan ke dalamnya oleh mereka-mereka dari kalangan kaum Yahudi maupun Nasrani maupun selain mereka baik dengan perubahan, penyelewengan, pendahuluan maupun penundaan. Dan cukuplah bagi kita kitab suci kita sebagai pedoman; yaitu Al-Qur’an.

Dan telah diriwayatkan dari Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bahwasanya:

 رأى في يد عمر شيئا من التوراة فغضب وقال: أفي شك أنت يا ابن الخطاب ؟ لقد جئتكم بها بيضاء نقية لو كان موسى حيا ما وسعه إلا اتباعي

Beliau pernah melihat di tangan Umar sebagian dari lembaran kitab Taurat, maka marahlah Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam seraya berkata: “Apakah engkau dalam keraguan wahai Ibnal Khoththob? Sungguh aku telah membawakan kepadamu cahaya putih yang bersih. Kalaulah sekiranya Musa masih hidup, maka tidak ada keringanan baginya melainkan harus mengikuti aku.” (Musnad Imam Ahmad 3/387, Sunan Ad-Darimi di dalam mukadimahnya 435)

Yang kami maksud: Kami nasehatkan anda dan orang-orang selain anda untuk tidak mengambil dari kitab-kitab tersebut sedikitpun, tidak dari Taurat, dari Zabur dan tidak pula dari Injil. Dan jangan anda melihat-lihatnya, dan jangan membacanya sedikitpun. Bahkan apabila anda memiliki sebagiannya saja dari kitab-kitab tersebut maka tanamlah atau bakarlah. Karena kebenaran yang ada padanya telah dicukupkan oleh Kitabulloh Al-Qur’an, dan perubahan maupun penggantian yang ada di dalamnya merupakan kebatilan dan kemungkaran.

Maka yang wajib bagi setiap mukmin untuk mawas diri yang demikian, dan memperingatkan dari membuka-buka kitab-kitab tersebut. Terkadang isinya membenarkan kebatilan dan mendustakan kebenaran, sehingga jalan selamatnya ialah dengan menimbunnya atau membakarnya.

Kendati demikian, terkadang dibolehkan bagi seorang alim yang memiliki pandangan yang luas melihat kitab-kitab tersebut, demi membantah musuh-musuh islam baik dari kalangan Yahudi maupun Nasrani. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh nabi untuk menghadirkan kitab Taurat manakala Yahudi mengingkari hukum rajam agar melihatnya kembali kepada kitab Taurat, hingga mereka pun mengakuinya.

Maksudnya: Bahwa para ulama yang luas pengetahuannya terkadang mereka butuh untuk mengkaji kitab Taurat, Injil atau Zabur untuk tujuan yang Islami; seperti membantah musuh-musuh Islam atau menjelaskan keutamaan Al-Qur’an dan kebenaran serta petunjuk yang ada di dalamnya. Adapun orang yang awam atau yang serupa dengannya, maka mereka tidak berhak melakukan yang demikian. Bahkan kapanpun mereka mendapati sebagian dari Taurat atau Injil maupun Zabur, maka yang wajib baginya ialah menimbunnya atau membakarnya agar jangan ada satupun yang menjadi tersesat karenanya.

(Nur ‘alad Darb, Ibnu Baz 1/11)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Abduh hafidzhahullahu Ta’ala

Disalin dari artikel blog Rizky Abu Salman untuk blog Abu Abdurrohman

2 ALASAN MENGAPA SEORANG MUSLIM TIDAK BOLEH MEMILIKI & MEMPELAJARI KITAB INJIL & TAURAT

BOLEHKAH MEMILIKI INJIL ?

Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin Rahimahullah

Tanya: Apakah seorang muslim boleh untuk memiliki Injil untuk mengetahui firman Allah kepada hamba dan rasul-Nya Isa ‘alaihish sholaatu was salaam?

Jawab: Tidak boleh untuk memiliki sesuatupun dari kitab-kitab sebelum Al Quran, seperti Injil, Taurot, atau selain keduanya, karena dua sebab:
Sebab pertama: Sesungguhnya semua hal yang bermanfaat telah Allah subhanahu wa ta’ala terangkan dalam Al Quranul Karim
Sebab kedua: Sungguh yang terdapat di dalam Al Quran telah mencukupi dari kitab-kitab sebelumnya, karena firman Allah Ta’ala:
نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ

“Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya…” (QS Ali Imron: 3).

Dan firman Allah Ta’ala:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan…” (QS Al Maidah: 48).

Maka sesungguhnya kebaikan yang ada di kitab-kitab sebelum Al Quran terdapat dalam Al Quran.

Adapun perkataan si penanya, bahwa dia ingin mengetahui firman Allah kepada hamba dan rasul-Nya Isa, maka hal-hal yang bermanfaat dari firman Allah tersebut pasti telah Allah kisahkan di dalam Al Quran sehingga tidak perlu untuk mencari di kitab lain. Selain itu, Injil yang ada sekarang telah diubah, dan yang menunjukkan hal itu adalah dengan adanya empat injil yang berselisih antara satu dengan yang lainnya dan itu bukan Injil yang satu, dengan demikian tidak boleh percaya padanya.

Adapun tholibul ilmi (penuntut ilmu) yang mempunyai ilmu yang mantap untuk mengetahui yang haq (benar) dari yang bathil maka tidak terhalang untuk mengetahui kitab tersebut untuk membantah kesalahan di dalam kitab itu dan menegakkan hujjah (bukti) atas para penganutnya.
(Sumber: Majmu’ Fatawa jilid 1).

Sumber URL :  http://fdawj.atspace.org/awwb/th1/11.htm#sub2