KPK dan Negeri Koruptor (Sebuah Nasihat)

Berita KPK dan POLRI

Berita Seputar KPK dan POLRI

Pertanyaan:

Bismillah

Seperti yang sedang kita dengar, carut-marut media masa dijejali dengan fenomena benturan POLRI dan KPK. Pihak POLRI merasa terancam kemudian mereka berusaha memeja hijaukan Kompol Novel Basweidan. Masalahnya lagi-lagi soal korupsi. Seolah sejak dulu tidak pernah ada habisnya. Bagaimanakah sikap kita sebagai rakyat biasa? Mohon tanggapannya.

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du

Permasalahan yang Anda sampaikan, termasuk pertanyaan kelas besar. Menyangkut stabilitas masyarakat dan negara. Tidak sembarang orang boleh memberikan fatwa dan penilaian. Yang layak memberikan fatwa beserta penjelasan hukumnya adalah mereka yang sudah pada taraf ulama. Memberikan komentar serampangan, yang menyangkut massalah stabilitas nasional, termasuk sikap orang munafik. Allah berfirman:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ

Apabila datang kepada mereka suatu berita menyangkut keamanan atau ancaman ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri).” (QS. An-Nisa: 83)

Isu pemerintahan termasuk masalah besar. Sikap yang tepat adalah menyerahkan kepada yang berhak dan tidak mudah berkomentar. Karena itu, keterangan yang kami sebutkan di sini hanya sebatas nasihat ringan dari seorang muslim kepada saudara muslim yang lain. Semoga bermanfaat dan bisa diterima dengan baik.

Pertama, sesungguhnya pemimpin adalah cermin dari rakyatnya.

Seolah telah menjadi sunatullah, bahwa pemimpin yang ditunjuk untuk mengatur suatu rakyat, sifatnya tidak jauh dari rakyatnya. Karena pada awalnya setiap pemimpin adalah rakyat, yang kemudian dia ditunjuk untuk mengurusi msyarakatnya.

Oleh karena itu, jika kita berharap ingin memiliki pemimpin yang baik, jadilah rakyat yang baik. Sebaliknya, ketika umumnya rakyat adalah masyarakat yang “cacat mental”, hampir bisa dipastikan, pemimpinnya tidak jauh dari sifat itu.

Untuk itu, boleh saja Anda mengatakan: ‘wajar saja banyak petinggi Indonesia yang korup, karena memang rakyatnya juga suka korup dan makan harta haram’

Allah berfirman:

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Demikianlah kami jadikan sebagaian orang zalim sebagai pemimpin bagi orang zalim yang lain, disebabkan perbuatan maksiat yang telah mereka lakukan.” (QS. Al-An’am: 129).

Mari kita perhatikan, sebab utama Allah menunjuk orang zalim sebagai pemimpin adalah perbuatan maksiat yang pernah dilakukan oleh rakyatnya. Karena sejatinya, perbuatan maksiat termasuk bentuk kezaliman.

Mengapa Harus Pemimpin yang Zalim?

Ya, keberadaan pemimpn zalim yang menguasai urusan mereka, akan menjadi hukuman dunia bagi rakyatnya yang juga telah melakukan kezaliman dengan berbagai maksiat.

Dari sinilah para ulama mengatakan:

كما تكونون يولى عليكم عمالكم أعمالكم

“Sebagaimana kondisi kalian, maka seperti itulah pemimpin yang akan mengatur kalian. Pemimpin kalian itu sesuai dengan amal kalian.”

Keterangan ini diriwayatkan al-Qudhai dalam Musnad asy-Syihab dari Hasan al-Basri, dari Abu Bakrah al-Anshari, secara marfu’ (dengan mencantumkan nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Namun yang benar, ini bukan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana keterangan as-Sakhawi dalam al-Maqasid al-Hasanah.

Kalimat ini benar secara makna, meskipun bukan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disamping itu, dikuatkan oleh beberapa dalil lainnya.

Diriwayatkan al-Baihaqi dari Ka’b al-Akhbar, beliau mengatakan:

إن لكل زمان ملكا يبعثه الله على نحو قلوب أهله ؛ فإذا أراد صلاحهم بعث عليهم مصلحا ، وإذا أراد هلاكهم بعث عليهم مترفيهم

“Sesungguhnya di setiap zaman ada pemimpin yang Allah tunjuk sesuai dengan keadaan hati masyarakatnya. Jika Allah hendak memperbaiki masyarakat ini maka Allah tunjuk pemimpin yang baik. Dan jika Allah hendak membinasakan mereka, Allah tunjuk pemimpin yang zalim. (Syuabul Iman Al-Baihaqi, 9:491).

Ibnul Qoyim dalam Miftah Dar As-Sa’adah mengatakan:

وتأمل حكمته تعالى في أن جعل ملوك العباد وأمراءهم وولاتهم من جنس أعمالهم بل كأن أعمالهم ظهرت في صور ولاتهم وملوكهم فإن استقاموا استقامت ملوكهم وإن عدلوا عدلت عليهم وإن جاروا جارت ملوكهم وولاتهم وإن ظهر فيهم المكر والخديعة فولاتهم كذلك وإن منعوا حقوق الله لديهم وبخلوا بها منعت ملوكهم وولاتهم ما لهم عندهم من الحق وبخلوا بها عليهم

“Renungkanlah hikmah Allah Ta’ala, dimana Dia menjadikan pengusaha para hamba-Nya, pemimpin mereka, yang sejenis dengan amal perbuatan mereka. Bahkan amal perbuatan mereka, nampak dalam sikap pemimpin dan penguasa mereka. Jika para hamba bisa istiqamah, maka pemimpin mereka akan istiqamah, sebaliknya, jika mereka menyimpang maka pemimpin mereka juga akan menyimpang. Jika mereka berbuat zalim, pemimpin mereka juga berbuat zalim, jika rakyat suka menipu maka pemimpin mereka juga sama. Jika rakyat tidak mau menyerahkan hak-hak Allah yang menjadi kewajiban mereka maka pemimpin akan menghalangi mereka untuk mendapatkan hak rakyat dan bersikap bakhil terhadap rakyat…” (Miftah Dar as-Sa’adah, 1:253).

Saatnya memulai perbaikan dari diri kita masing-masing. Jika kita berharap memiliki pemimpin yang bebas korupsi, bebas kezaliman, perhatian terhadap rakyat kecil, aspiratif, berupaya mewujudkan syariat Islam, dan seabreg harapan lainnya, maka hadapkan satu pertanyaan untuk diri Anda. Sudahkah Anda melakukan melakukan hal itu secara personal?

Kedua, perbanyak memohon kepada Allah, agar Dia memberi hidayah dan taufiq bagi pemimpin kita.

Kebiasaan semacam ini telah menjadi ciri ahlus sunah sejak masa silam. Meskipun bisa jadi ada pemimpin mereka yang zalim, mereka berusaha untuk tetap mendoakan kebaikan bagi pemimpinnya.

Imam al-Barbahari mengatakan:

وإذا رأيت الرجل يدعو على السلطان فاعلم أنه صاحب هوى وإذا سمعت الرجل يدعو للسلطان بالصلاح فاعلم أنه صاحب سنة إن شاء الله

“Jika Anda melihat ada orang yang mendoakan keburukan untuk pemimpin, ketahuilah bahwa dia adalah pengikut hawa nafsu (aqidahnya menyimpang). Dan jika Anda melihat ada orang yang mendoakan kebaikan untuk pemimpin, ketahuilah bahwa dia Ahlus Sunah, insya Allah.” (Syarh as-Sunnah, Hal. 51).

Selanjutnya, al-Barbahari membawakan riwayat perkataan seorang ulama besar, Fudhail bin Iyadh rahimahullah, yang memberikan nasihat:

لو كان لي دعوة مستجابة ما جعلتها الا في السلطان

“Andaikan saya memiliki satu doa yang pasti terkabulkan, tidak akan aku ucapkan kecuali untuk mendoakan kebaikan pemimpin.”

Kemudian ada orang yang bertanya, mengapa harus demikian? Beliau menjawab:

إذا جعلتها في نفسي لم تعدني وإذا جعلتها في السلطان صلح فصلح بصلاحه العباد والبلاد فأمرنا أن ندعو لهم بالصلاح ولم نؤمر أن ندعو عليهم وإن جاروا وظلموا لأن جورهم وظلمهم على أنفسهم وصلاحهم لأنفسهم وللمسلمين

“Jika doa itu hanya untuk diriku, tidak akan kembali kepadaku. Namun jika aku panjatkan untuk kebaikan pemimpin, kemudian dia jadi baik, maka masyarakat dan negara akan menjadi baik. Kita diperintahkan untuk mendoakan kebaikan untuk mereka, dan kita tidak diperintahkan untuk mendoakan keburukan bagi mereka, meskipun mereka zalim. Karena kezaliman mereka akan ditanggung mereka sendiri, sementara kebaikan mereka akan kembali untuk mereka dan kaum muslimin.” (Syarh as-Sunnah, Hal. 51).

Allahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s