BAHAYA BERGAUL DENGAN AHLUL BID’AH [KHUSUSNYA SYI’AH], MATI DI ATAS KESESATAN

BAHAYA BERGAUL DENGAN AHLUL BID’AH [KHUSUSNYA SYI’AH], MATI DI ATAS KESESATAN

[STUDI KASUS BEBERAPA KIAI DAN USTADZ YANG TADINYA AHLUS SUNNAH AKHIRNYA MENJADI SYI’AH SETELAH BERTEMAN DENGAN ORANG-ORANG SYI’AH]

Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, orang-orang yang sangat mendalam ilmunya namun sangat takut bergaul dengan Ahlul Bid’ah karena khawatir terpengaruh kesesatan mereka.

Dan subhaanallah, betapa kita telah sering melihat di zaman ini, banyak sekali orang-orang yang tadinya Ahlus Sunnah, bahkan Kiai dan Ustadznya, serta pernah mengecap pendidikan tinggi bersama Ahlus Sunnah, tetapi karena bergaul dengan orang-orang Syi’ah akhirnya menjadi Syi’ah. Sebut saja seorang Doktor, Ketua Ormas Islam besar di negeri ini, menyelesaikan S2 dan S3 di UMMUL QURO’ Makkah, yang tadinya membantah Sufi dan Syi’ah, sekarang membela Sufi dan Syi’ah.

Demikian pula kasus ANAK-ANAK KIAI DI SAMPANG MADURA YANG TERPENGARUH ALIRAN SESAT SYI’AH karena bergaul dengan tokoh-tokoh Syi’ah Bangil, dan akhirnya, terjadilah pertumpahan darah.

Satu lagi, seorang Ustadz besar di Manado, alumni pesantren ternama di Ponorogo, akhirnya juga terpengaruh Syi’ah setelah bergaul dengan orang-orang Syi’ah, dan sangat ana sayangkan dia mati di atas kesesatan tersebut.

PELAJARAN PENTING DARI KEMATIANNYA, (Guru kami) Al-Ustadz Adnan hafizhahullah bercerita, “Sebulan sebelum matinya, dia (Ustadz alumni pesantren ternama di Ponorogo) mengatakan, dalam setahun dia akan menjadikan separuh umat Islam di Manado sebagai pengikut Syi’ah. Ternyata, dia mati sebulan setelahnya.”

Ini keadaan para tokoh, betapa mudahnya mereka terpengaruh kesesatan akibat PERGAULAN BEBAS, maka bagaimana lagi dengan orang-orang awam. Maka renungkanlah nasihat-nasihat ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikut ini:

Imam besar Syafi’iyah, Al-Hafizh Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

أكثر أئمة السلف على هذا التحذير يرون أن القلوب ضعيفة والشبه خطافة

“Kebanyakan para Imam Salaf memperingatkan dari bergaul dengan Ahlul Bid’ah, karena mereka menganggap HATI ITU LEMAH dan SYUBHAT-SYUBHAT ITU MENYAMBAR-NYAMBAR.” [Siyar A’lamin Nubala’, 7/216]

Ucapan di atas disebutkan oleh Al-Hafizh Adz-Dzahabi pada biografi imam besar Ahlus Sunnah: Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah, setelah menyebutkan ucapan beliau (Sufyan Ats-Tsauri),

من أصغى بسمعه إلى صاحب بدعة وهو يعلم خرج من عصمة الله ووكل إلى نفسه

“Barangsiapa mengarahkan pendengarannya kepada Ahlul Bid’ah dalam keadaan dia mengetahui, maka dia keluar dari penjagaan Allah ta’ala dan dibiarkan dia bergantung kepada dirinya sendiri.”

Juga ucapan beliau,

من سمع ببدعة فلا يحكها لجلسائه لا يلقها في قلوبهم

“Barangsiapa mendengarkan suatu bid’ah, janganlah ia sampaikan kepada teman-teman duduknya, agar tidak masuk ke dalam hati-hati mereka.”

Dan berikut beberapa atsar yang menunjukkan sikap Salaf dalam bermajelis dengan ahlul bid’ah dari kitab Lamud Durril Mantsur Minal Qoulil Ma’tsur (hal. 36-37):

“Dua orang dari kalangan pengikut hawa nafsu mendatangi Ibnu Sirin seraya berkata, “Wahai Abu Bakr, bolehkah kami menyampaikan satu hadits kepadamu?” Beliau menjawab, “Tidak”. Keduanya berkata lagi, “Kalau begitu kami bacakan satu ayat Al-Qur’an kepadamu?” Beliau menjawab, “Tidak, kalian pergi dari sini atau saya yang pergi”. Lalu keduanya pun keluar. Sebagian orang berkata, “Wahai Abu Bakr, mengapa engkau tidak mau mereka membacakan ayat Al-Qur’an kepadamu?” Beliau menjawab, “Sungguh aku khawatir mereka bacakan kepadaku satu ayat lalu mereka selewengkan maknanya sehingga tertanam dalam hatiku”.” [HR. Ad Darimy, (1/120/no. 397)]

Sallam rahimahullah berkata, “Seorang pengikut kesesatan berkata kepada Ayyub, “Saya ingin bertanya kepadamu tentang satu kalimat?” Maka Ayyub segera berpaling dan berkata, “Tidak, meski setengah kalimat, meski setengah kalimat”. Beliau mengisyaratkan jarinya.” [HR. Ibnu Baththoh dalam Al-Ibanah (2/447 no. 402), Al-Lalika’i dalam Syarh Ushul Al-I’tiqod (1/143/no. 291), Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah (1/138/no. 101) dan Ad-Darimi dalam Sunan-nya (1/121 no. 398)]

Al-Fudlail bin Iyyadh rahimahullah berkata, “Jauhilah olehmu duduk dengan orang yang dapat merusak hatimu (aqidahmu) dan janganlah engkau duduk bersama pengekor hawa nafsu (ahli bid’ah) karena sungguh saya khawatir kamu terkena murka Allah.” [HR. Ibnu Baththoh dalam Al-Ibanah (2/462-463 no. 451-452) dan Al-Lalika’i dalam Syarhul Ushul (262)]

Kalaupun seseorang tetap bergaul dengan Ahlul Bid’ah karena kesombongannya dengan ilmunya dan yakin tidak akan terpengaruh, maka ketahuilah, kehadirannya di majelis-majelis Ahlul Bid’ah atau majelis-majelis yang menyebarkan kesesatan terdapat bahaya-bahaya yang lain.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آَيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim tersebut sesudah teringat (akan larangan itu).” [Al-An’am: 68]

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah menerangkan, “Dalam ayat ini terkandung nasihat yang agung bagi mereka yang mentolerir duduk bermajelis dengan ahlul bid’ah, yaitu dengan orang-orang yang suka mengubah-ubah perkataan Allah Subhanahu wa Ta’ala, mempermainkan Kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya, serta mengembalikan pemahaman Al-Qur’an dan As-Sunnah kepada hawa nafsu mereka yang menyesatkan dan bid’ah mereka yang rusak. Maka, jika seseorang tidak mampu mengingkari atau mengubah kebid’ahan mereka, paling tidak dia harus meninggalkan majelis mereka, dan tentu ini mudah baginya, tidak susah”.

Kemudian Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan diantara bahaya duduk bersama orang-orang yang menyimpang, “Terkadang orang-orang yang menyimpang tersebut menjadikan kehadiran seseorang bersama mereka (meskipun orang tersebut bersih dari kebid’ahan yang mereka lakukan) sebagai syubhat, dengannya mereka mengaburkan (permasalahan) atas orang-orang awam. Jadi, dalam kehadirannya (di majelis mereka) terdapat tambahan mudharat dari sekedar mendengarkan kemungkaran.” [Lihat Fathul Qodir, 2/185)]

Semoga kita dapat mengambil pelajaran.

Sumber : Sofyan Chalid Ruray

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s