Kisah Mu’awiyyah bin Abi Sufyan 41H-60H (Bagian 2)

HALUAN POLITIK YANG BELIAU TEMPUH DAN UPAYA­UPAYA PERDAMAIAN YANG BELIAU LAKUKAN

Al-Imam Ahmad dalam Musnadnya me­riwayatkan dengan sanad yang para perawinya adalah orang-orang yang terpercaya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Mu’awiyah, bila engkau memegang tampuk kepemimpinan maka hendaklah engkau bertakwa kepada Allah dan berlakulah adil.” Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhuberkata: “Aku senantiasa menyangka bahwa diriku adalah orang yang akan mendapat ujian berupa sebuah jabatan karena pernyataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kemudian aku pun mendapati ujian itu. “

Cukuplah sebagai bukti keadilan dan amanahnya bahwa ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menjadikan beliau sebagai gubernur di sebagian negeri Syam, kemudian ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu menjadikannya sebagai gubernur untuk seluruh wilayah Syam sepeninggal ‘Umar radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah seorang yang dicintai oleh rakyatnya. Beliau memegang kekuasaan di wilayah Syam selama 20 tahun, sedangkan kekhalifahan beliau pegang selama 20 tahun pula. Selama masa pemerintahan yang panjang itu, tidak ada seorang pun yang hendak merongrong wilayahnya, bahkan seluruh kaum muslimin tunduk di bawah pemerintahannya. Kekuasaannya mencakup berbagai wilayah, yaitu dua negeri haram (Makkah dan Madinah), Syam (sekarang terbagi menjadi beberapa negara: Yordan, Syiria, Palestine, -pen), Mesir, Iraq, Khurasan, Persia. (Iran), jazirah Arab, Yaman, Maghrib, dan lain? lainnya. Qabishah bin Jabir berkata tentangnya: “Aku tidak pernah menyaksikan seorang yang sangat penyabar, sangat baik, jauh dari kekerasan, sangat lembut jalan keluarnya, sangat bersemangat dalam melakukan kebaikan, perlakuan luarnya sama dengan dalamnya daripada Mu’awiyah.

Khalifah Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu telah memilih dengan baik para bawahannya. Beliau memilih mereka dari kalangan orang-orang yang memiliki kecakapan untuk memimpin, cerdas, dan bagus dalam mengatur. Oleh karena itu mereka benar-benar membantu dan menolongnya sehingga kerajaannya berjalan dengan baik. Diantara orang-orang yang memiliki sifat di atas adalah ‘Amr bin Al-’Ash sebagai gubernur di Mesir, Al-Mughirah bin Syu’bah di Kufah, dan Ziyad bin Abihi di Bashrah.

Sistem pemerintahan yang beliau canangkan baik di dalam negeri maupun di luar negeri mendapatkan kesuksesan. Kesuksesan yang didapatkan di luar negeri akan kita bicarakan ketika membahas penyebaran Islam di masa pemerintahannya. Adapun kesuksesan di dalam negeri maka upaya perbaikan dan penataan yang beliau lakukan mampu mencapai seluruh wilayah. Diantara usaha terpenting yang beliau lakukan adalah mengatur tukang pos. Dalam hal ini beliau telah membuat suatu cara yang belum pernah ada sebelumnya. Beliau membuat pos-pos yang telah dipersiapkan di dalamnya kuda-kuda tunggangan. Apabila tukang pos pertama telah mencapai jarak yang memayahkannya maka akan dilanjutkan oleh tukang pos berikutnya untuk disampaikan pada tukang pos yang berikutnya lagi yang telah mempersiapkan diri pula. Demikian pada akhirnya surat yang diposkan akan sampai dengan cepat dan teratur. Tidak diragukan lagi bahwa upaya yang mulia ini memiliki pengaruh dalam menjaga stabilitas nasional dan keamanan rakyatnya. Sehingga sangat memungkinkan untuk sampainya dengan cepat pengaduan seorang yang dianiaya yang berada di pelosok negeri kepada sang khalifah. Sebagaimana pula perintah dan saran-saran sang khalifah akan sampai kepada gubernur atau rakyat yang dituju dengan begitu cepat, tepat, dan rapi.

Mu’awiyah juga memulai upaya baru dengan mendirikan bagian pengesahan (penyetempelan/pengarsipan) untuk menyusun surat-surat resmi khalifah kemudian diikat dengan tali dan dibubuhi lilin agar senantiasa terjaga kewibawaannya dan aman dari ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

PERLUASAN WILAYAH DI MASA PEMERINTAHAN MU’AWIYAH

Muawiyyah radhiyallahu ‘anhu mendapatkan warisan berupa sebuah negara yang sangat luas dari para pendahulunya, yaitu para khalifah yang empat. Karena luasnya wilayah ini, sehingga butuh kepada usaha yang kuat agar keamanan dan kesejahteraan terwujud di seluruh pelosok negeri. Namun hal itu tidak membuat Mu’awiyah lalai dari melanjutkan upaya jihad, penaklukan wilayah-wilayah, dan dakwah ke negara lain. Oleh. karena itu, beliau mulai menyingsingkan lengan untuk melanjutkan jihad fii sabilillah. Pembentukan pasukan jihad dilakukan yaitu dengan membagi pasukan menjadi pasukan yang berperang di musim dingin dan pasukan yang berperang di musim panas. Sehingga perluasan wilayah pun mulai berlanjut sebagaimana yang dilakukan oleh pendahulunya dari empat khalifah dan kaum muslimin pun tidak terjatuh dalam kemalasan dan buaian kesejahteraan.

Negeri Persia berusaha melepaskan dirinya dari upeti yang harus dibayarkan. Mereka mulai melakukan fitnah (upaya.-upaya makar -­pen) pada masa pemerintahan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu untuk melawan hukum Islam. Dengan demikian pasukan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu harus menghadapi ancaman fitnah ini. Kemudian perjalanan perjuangan perluasan negeri dilanjutkan ke arah timur. Sungai Jaihun (sungai Amudarya) diseberangi, sehingga terbukalah wilayah Bukhara, Samarkand, dan Turmudz.

Pada waktu yang bersamaan, kerajaan Romawi juga melakukan rangkaian penyerangan untuk mempersempit wilayah Islam, yaitu dengan menyerang wilayah barat laut. Oleh karena itu Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu mempersiapkan pasukan perang, dan kemenangan pun diperoleh oleh pasukan muslimin di banyak medan pertempuran. Selain itu, beliau juga mempersiapkan armada laut yang berkekuatan 1.700 kapal. Pasukan marinir yang besar ini, dengan idzin Allah Ta’ala, berhasil menaklukkan wilayah Ciprus dan Rudis, Berta kepulauan lainnya yang masuk dalam wilayah kerajaan Romawi.

Sang khalifah  juga mengirimkan pasukan besar untuk membuka wilayah Konstantinopel. [5] Upaya besar yang beliau  lakukan ini merupakan tanda yang jelas bahwa beliau adalah seorang yang amat yakin akan kemenangan dan pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla. Beliau melancarkan upaya ini pada tahun 48 H. Sejumlah shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut serta dalam perang ini. Diantara mereka adalah ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin Az-Zubair, dan Abu Ayyub Al-Anshari

Mu’awiyah menunjuk putranya yang bernama Yazid sebagai komandan pasukan perang ini. Pengangkatan putranya sebagai panglima pasukan tidak menimbulkan rasa berat hati pada diri para shahabat radhiyallahu ‘anhum . Bahkan yang mereka tunjukkan adalah sikap siap berperang di bawah komandonya disertai dengan penyampaian nasehat untuknya dengan jihad yang sebenar-benarnya.

Namun operasi tempur yang dilancarkan ini tidak berhasil menerobos sedikitpun tembok pagar dan benteng pertahanan Konstantinopel. Benteng tersebut membuat pasukan Islam kewalahan dan tidak berhasil untuk menembusnya. Api yang dinyalakan oleh pasukan Yunani berhasil membakar Sejumlah besar kapal muslimin. Walaupun tidak berhasil melumpuhkan benteng Konstantinopel, namun operasi militer yang dilancarkan oleh pasukan muslimin ini berhasil menguasai pulau besar yang berada di dekat Konstantinopel dan pulau itu berada di bawah kekuasaan kaum muslimin selama tujuh tahun. Kemudian Yazid bin Mu’awiyah semasa pemerintahannya meninggalkannya.

Adapun di Afrika (Tunis)[6], maka banyak fitnah/huru hara yang terjadi, ditambah lagi kerajaan Romawi memiliki cengkraman kekuatan yang besar di daerah ini. Keadaan yang demikian dikarenakan keberhasilan yang dicapai kaum muslimin dalam menguasai wilayah Afrika hanya sebatas negeri itu. Afrika bagian utara sebelum dikuasai oleh kaum muslimin adalah negeri yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Romawi.

Pada tahun 50 H Mu’awiyah mengutus `Uqbah bin Nafi’ bersama 10.000 pasukan sehingga wilayah Afrika berhasil dikuasai kembali dan Islam pun tersebar di pelosok negeri. Sejumlah orang dari kaum Barbar yang masuk Islam dimasukkan ke dalam barisannya. Kota Qirwan dibangun sebagai tempat tinggal kaum muslimin dan keluarganya. Masjid jami’ dibangun pula dan diberi benteng yang kuat agar tidak bisa dijamah oleh kaum Barbar. Sepeninggal Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhudan kekuasaan di tangan putranya yaitu Yazid, ‘Uqbah bin Nafi’ melanjutkan upaya penaklukan negeri sehingga berhasil menguasai seluruh wilayah Afrika bagian utara. Sampai beliau berhasil menguasai batas benua dan menyaksikan lautan sambil mengatakan: “Wahai Rabbku, kalau bukan karena lautan ini sungguh aku akan terns melanjutkan penaklukan negeri dan berjihad di jalan-Mu.”

Artikel Blog Abu Abdurrohman

Foot Note:

[5] Dalam upaya ini beliau radhiyallahu ‘anhu – sepertinya – bertolak dari keinginannya untuk merealisasikan kabar gembira  yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya tentang takluknya Konstantinopel. Beliau berharap pendudukan wilayah ini berada di masa kekuasaannya: “Konstantinopel akan tertundukkan, dan penguasa yang paling balk adalah penguasanya (yang berhasil menguasainya), dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan (yang menguasai) wilayah itu.” [HR. Ahmad dan yang lainnya, dilemahkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahaadits Adh-Dha’ifah no. 878 -ed]

[6] Apabila disebutkan dalam buku-buku sejarah Islam yang terdahulu wilayah Afrika maka yang dimaksud adalah negara Tunis yang sekarang

Sumber: Disalin dari buku “TARIKH DAULAH UMAWIYYAH”, Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah, Riyadh Saudi Arabia, Penerbit Hikmah Ahlus Sunnah, Cet.Kedua, Hal.24-32 oleh kisahislam.net re-publikasi abuabdurrohman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s