Perbedaan Islam dan Syi’ah Rafidhah Dalam Perkara Ushul (Pokok) dan Furu’ (Cabang)!

Lebih Damai Tanpa Syiah

Istilah Syi’ah berasal dari kata tasyayyu’, yang berarti: membela, menolong. Sedangkan Syi’ah artinya: para penolong atau para pengikut. Dahulu, istilah Syi’ah digunakan bagi orang-orang yang membela Ali Radhiyallahu ‘anhu dan keluarganya, tetapi kemudian digunakan sebagai nama pada kelompok Rafidhah (Syi’ah Ja’fariyyah; Itsna ‘Aysariyyah) dan Zaidiyyah.

PERKEMBANGAN SYI’AH
Syi’ah melewati perkembangan-perkembangan sebagai berikut:

1. Dahulu, istilah Syi’ah (tasyayyu’) digunakan sebagai ungkapan kecintaan terhadap Ali Radhiyallahu ‘anhu dan keluarganya, tanpa merendahkan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain.

2. Kemudian berkembang sehingga melewati batas terhadap Ali Radhiyallahu ‘anhu dan sebagian anggota keluarganya, mencela sahabat Radhiyallahu ‘anhum, bahkan mengkafirkan mereka, disertai aqidah-aqidah lain yang bukan dari agama Islam sama sekali, seperti: taqiyyah, imamah, ‘ishmah, raj’ah, dan batiniyyah.

3. Kemudian di antara mereka ada yang menuhankan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu dan imam-imam setelahnya, berkeyakinan reinkarnasi dan aqidah-aqidah kufur lainnya, yang bertameng dengan tasyayyu’ (kecintaan terhadap Ali Radhiyallahu ‘anhu dan keluarganya).

FIRQAH-FIRQAH (KELOMPOK-KELOMPOK) SYI’AH
Firqah-firqah Syi’ah banyak sekali, sampai sebagian ulama menyebutkan bahwa mereka mencapai 300 firqah. Sedangkan di zaman ini, firqah mereka yang besar ada tiga, yaitu:

1. Kelompok Rafidhah, dikenal dengan nama Syi’ah Ja’fariyyah, karena menisbatkan kepada Ja’far Ash-Shadiq. Juga dikenal dengan nama Imamiyyah, dan Itsna ‘Aysariyyah, karena memiliki keyakinan imam dua belas. Kelompok inilah yang paling besar dewasa ini. Mereka sekarang berada di Iran, Irak, Syam, Libanon, Pakistan, Afghanistan Barat, Ahsa’, dan Madinah.

2. Zaidiyyah, mereka adalah para pengikut Zaid bin Ali bin Al-Husain. Mereka tinggal di Yaman.

3. Isma’iliyyah. Mereka menisbatkan kepada Isma’il bin Ja’far Ash-Shadiq dan meyakini keimamannya, sehingga disebut Isma’iliyyah. Mereka berada di Jazirah Arab Utara, Afrika Utara, Afrika Tengah, Syam, Pakistan, India, dan lainnya.

Selain kelompok di atas, ada kelompok Nushairiyyah, Duruz, Bahrah, Agha Khaniyyah, dan lainnya.

Karena kelompok Syi’ah terbesar sekarang ini adalah kelompok Rafidhah (Syi’ah Ja’fariyyah ; Itsna ‘Aysariyyah), maka kami akan memfokuskan pembicaraan ini tentang mereka.

USAHA RAFIDHAH MENDEKATI AHLUS SUNNAH
Semangat Rafidhah untuk memasukkan madzhabnya ke barisan madzhab-madzhab kaum muslimin begitu kuat, mereka menginginkan seandainya madzhab mereka disebut madzhab kelima di kalangan kaum muslimin. Oleh karena itu mereka berusaha mensukseskan program mereka “taqrib (pendekatan) antara Sunnah dan Syi’ah” dengan berbagai cara. Tidak diragukan lagi bahwa persatuan kaum muslimin merupakan perkara yang wajib diwujudkan, tetapi hal itu haruslah tegak di atas fondasi-fondasi kebenaran.

Usaha-usaha Rafidhah itu sempat menjadikan sebagian kaum muslimin terkecoh karenanya. Padahal seandainya mereka mengetahui hakekat agama Rafidhah, mereka pasti akan lari menjauhi dengan ketakutan!

KESESATAN RAFIDHAH
Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, bahwa terdapat jurang perbedaan yang sangat besar antara Ahlus Sunnah dengan Rafidhah, sehingga mustahil untuk disatukan! kecuali yang satu berpindah kepada agama yang lain!
Inilah perbedaan-perbedaan mendasar tersebut, yang sekaligus sebagai kesesatan-kesesatan mereka!:

1. Mereka berkeyakinan, -dengan dinisbatkan kepada para imam mereka- bahwa mereka memiliki Al-Qur’an yang berbeda dengan yang dimiliki kaum muslimin.

a). Mereka meriwayatkan dari Abu Abdullah, yang berkata: “Al-Qur’an yang dibawa oleh Jibril Alaihissallam kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 17 ribu ayat”. [Al-Kaafi fil Ushul II/634, Cetakan Teheran, Iran]

b). Dalam riwayat mereka yang lain disebutkan bahwa Abu Abdullah berkata : “Pada fihak kami sesungguhnya ada mushhaf Fatimah. Tahukan mereka apakah mushhaf Fatimah itu? Jawabnya: “Mushhaf Fatimah itu isinya tiga kali dibanding dengan Al-Qur’an kalian ini. Demi Allah, tidak satupun huruf dari Al-Qur’an tersebut, terdapat dalam Al-Qur’an kalian.” [Al-Kaafi fil Ushul II/240-241, Cetakan Teheran, Iran]

Bantahan.
Inilah keyakinan Rafidhah terhadap Al-Qur’anul Karim, keyakinan yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. Keyakinan adanya perubahan di dalam Al-Qur’an ini tersebar di dalam buku-buku induk mereka! Mungkinkah kelompok yang memiliki keyakinan kufur seperti ini dianggap sebagai madzhab kelima di kalangan kaum muslimin?!

Padahal Allah Ta’ala telah memberikan jaminanNya terhadap kebenaran Al-Qur’an, Dia berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. [Al Hijr/15:9]

Sebagian mereka membantah dengan mengatakan bahwa : “Keyakinan perubahan terhadap Al-Qur’an adalah tuduhan musuh-musuh Syi’ah, sedangkan kami (orang-orang Syi’ah) tidak mempercayainya. Buktinya mushhaf yang dicetak dan dibaca oleh orang-orang Syi’ah sama dengan mushhaf Al-Qur’an yang dimiliki oleh kaum muslimin yang lain.”

Bantahan.
Bahwa anda –dan sebagian ulama Syi’ah- tidak meyakini adanya perubahan di dalam Al-Qur’an, itu adalah hak anda. Tetapi kenyataannya hal itu tertulis di dalam kitab-kitab utama dan dipercayai di kalangan Rafidhah, sehingga hal itu merupakan keyakinan Rafidhah. Kalau memang anda tidak memiliki keyakinan tersebut, sebaiknya anda keluar dari kelompok Rafidhah yang memiliki kitab-kitab pegangan yang berisikan hal tersebut. Atau itu sekedar taqiyah (menampakkan sesuatu yang berbeda dengan keyakinannya)??Dan inilah jawaban tentang keadaan orang-orang Rafidhah yang menggunakan Al-Qur’an yang sama dengan mush-haf kaum muslimin.

Salah seorang pemimpin Rafidhah, bernama Ni’matullah Al-Jazairi, menyatakan: “Jika anda bertanya, mengapa kami dibenarkan membaca Al-Qur’an ini, padahal telah mengalami perubahan? Saya menjawab: “Telah diriwayatkan di dalam banyak riwayat bahwa para imam Syi’ah menyuruh golongan mereka untuk membaca Al-Qur’an yang ada ditangan umat Islam di waktu shalat dan lain-lain, dan melaksanakan hukum-hukumnya, sampai kelak datang waktunya pemimpin kita, Shahibuz Zaman, muncul lalu menarik beredarnya Al-Qur’an yang ada ditangan umat Islam ini ke langit, dan mengeluarkan Al-Qur’an yang dahulu disusun oleh Amirul Mukminin as, lalu Al-Qur’an inilah yang dibaca dan diamalkan.” [Al-Anwar An-Nu’maniyyah II/363-364, Cetakan: Teheran]

Ketahuilah, bahwa sebab yang mendorong Rafidhah berkeyakinan adanya perubahan terhadap Al-Qur’an adalah karena keyakinan pokok mereka, yaitu tentang keimaman 12 imam versi mereka tidak disebut di dalam Al-Qur’an, demikian juga di dalam Al-Qur’an penuh pujian dan sanjungan terhadap para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal para sahabat adalah orang-orang yang menjadi sasaran caci-maki mereka! Maka untuk meyakinkan para pengikut, mereka menyatakan bahwa ayat tentang tentang keimaman dan celaan terhadap para sahabat telah dibuang! Tetapi pernyataan itu tentulah akan membongkar kekafiran mereka, karena mengaggap adanya perubahan dalam Al-Qur’an merupakan kekafiran, maka merekapun berusaha untuk mengingkari hal tersebut. Akan tetapi riwayat-riwayat yang menyatakan perubahan di dalam Al-Qur’an tersebar luas di dalam kitab-kitab mereka. Kemudian di antara peristiwa yang membongkar kesesatan dan kekafiran mereka adalah munculnya sebuah kitab yang ditulis oleh salah seorang tokoh besar mereka yang berjudul “Fash-lul Khithab fii Tahriifi Kitabi Rabbil Arbab” (Kata Pemutus Tantang Adanya Perubahan di Dalam Kitabnya Pengasa Makhluk (kitab Al-Qur’an)). Penulisnya, yang bernama Mirza Taqiyy An-Nuuri Ath-Thibrisi menetapkan mutawatirnya riwayat adanya perubahan dalam Al-Qur’an (yang merupakan keyakinan kekafiran yang nyata dan membongkar kedustaan mereka!!!) di dalam kitab-kitab Rafidhah, dan dia mengakui bahwa para ulama mereka mengimani terhadap kekafiran ini! [Lihat Al-Mujaz fil Adyan wal Madzahib Al-Mu’ashirah, hal: 125, karya DR. Nashir bin Abdullah Al-Qifari dan DR. Nashir bin Abdul Karim Al-‘Aql]

2. Mereka Memiliki Keyakinan Syirik Terhadap Para Imam Mereka.

Keyakinan-keyakinan syirik yang bertebaran di dalam kitab-kitab induk mereka sangat banyak, keyakinan-keyakinan syirik yang lebih sesat dari orang-orang musyrik di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena orang-orang musyrik dahulu meyakini keesaan Allah di dalam rububiyahNya, sedang keyakinan syirik orang-orang Rafidhah adalah di dalam rububiyahNya. Inilah di antara keyakinan-keyakinan sesat mereka itu:

a). Diriwayatkan dari Abu Abdullah, yang berkata: “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui segala yang di langit dan di bumi, serta segala yang di surga dan di neraka, dan apa yang telah terjadi, serta sedang dan akan terjadi.” [Al-Kaafi fil Ushul I/261, Cetakan: Teheran]

b). Juga diriwayatkan dari Abu Abdullah, yang berkata: “Sesungguhnya dunia ini milik imam, dan akhiratpun milik imam. Dia meletakkannya di mana ia kehendaki dan memberikannya kepada siapa yang ia kehendaki.” [Al-Kaafi fil Ushul I/409, Cetakan:Teheran]

Bantahan:
Keyakinan yang tertulis di dalam kitab mereka itu adalah keyakinan syirk yang mengeluarkan dari agama Islam, dan merupakan keyakinan yang sangat bertentangan dengan Al-Qur’an, kitab Suci Allah Ta’ala!! Dia berfirman:

إِنَّ اللهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي اْلأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok.Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. [Luqman/31:34]

Allah juga berfirman.

فَلِلَّهِ اْلأَخِرَةُ وَاْلأُولَى

(Tidak), maka hanya milik Allah-lah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. [An Najm/53:25]

Sebenarnya masih banyak lagi keyakinan syirik yang tersebut di dalam kitab-kitab induk mereka, tetapi yang sedikit itupun telah mencukupi bagi orang yang cerdik!

3. Mereka Mengkafirkan Seluruh Sahabat, Kecuali Beberapa Orang Saja, Yaitu: Ali, Al-Miqdad, Salman Al-Farisi, Abu Dzarr, dan ‘Ammar bin Yasir.

a). Salah seorang tokoh mereka bernama Salim bin Qais Al-Kufi Al-Hilali Al-‘Amiri berkata di dalam bukunya “As-Saqifah (kitab Wafatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam)”, hal: 92 : “…Salman berkata: ‘Ali berkata: “Sesungguhnya seluruh manusia murtad setelah wafat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali 4 orang.”

b). Pada halaman lain disebutkan dari Ibnu Abbas: “Wahai saudara-saudaraku, pada hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, tidaklah beliau diletakkan di kubur beliau, sehingga orang-orang memecahkan janji dan murtad, serta mereka sepakat untuk menyelisihi”. [As-Saqifah, hal:249, karya Salim bin Qais Al-Kufi Al-Hilali Al-‘Amiri; juga semisalnya diriwayatkan oleh Al-Kulaini di dalam Ar-Raudhah minal Kafi, VIII/245, 296, dari Abu Ja’far]

c). Diriwayatkan dari Ja’far Ash-Shadiq, dia berkata: “Sesungguhnya seluruh manusia murtad setelah wafat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali segelintir orang saja.” [Al-Ushul minal Kafi II/319-320]

d). Pada riwayat lain disebutkan: “Seluruh manusia binasa …kecuali 3 orang.” [Ar-Raudhah minal Kafi, hal:361, karya Al-Kulaini]

Dengan keyakinan di atas maka tidaklah aneh jika kemudian mereka mecela para sabahat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Celaan yang membawa kepada kekafiran!!

Bantahan:
Kalau benar keyakinan mereka itu, berarti ummahatul mukminin (para istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan para sahabat semua murtad dan menjadi kafir menurut mereka. Ini adalah keyakinan yang sangat munkar, keji, dan bertentangan dengan puluhan ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih yang memuji para sahabat.

Allah berfirman bahwa para sahabat adalah ummat terbaik.

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. [Al Imran/ 3:110]

Kalau mereka dipuji oleh Allah sebagai umat yang terbaik, maka bolehkah berkeyakinan kalau mereka murtad?! Tidak, karena itu adalah keyakinan kufur!

Allah juga meridhai para sahabat, dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dengan firmanNya:

وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [At Taubah/9:100]

Dia juga berfirman.

لَّقَدْ رَضِىَ اللهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَافِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَة عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). [Al Fath/48:18]

مُّحَمَّدُُ رَّسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللهِ وَرِضْوَانًا

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. [Al Fath/48:29]

Kalau mereka diridhai oleh Allah dan dijanjikan masuk sorga, maka bolehkah berkeyakinan kalau mereka murtad?! Tidak, karena itu adalah keyakinan kufur!

Banyak di antara mereka yang mengingkari bahwa mereka mengkafirkan sahabat dan mencela mereka, tetapi bukti-bukti tertulis yang ada di dalam kitab-kitab induk mereka tidak dapat dihilangkan hanya dengan pengingkaran lesan saja!

Inilah sebagian kesesatan mereka, belum lagi kesesatan-kesesatan lain yang ada pada mereka, seperti: keyakinan mereka mengagungkan tempat-tempat gugurnya orang tertentu dan kubur-kubur; mengbolehkan nikah mut’ah bahkan meyakini keutamaannya; danlain-lain. Yang sedikit itu sesungguhnya sudah mencukupi bagi orang yang cerdik.

PERKATAAN PARA ULAMA TENTANG RAFIDHAH

Telah terjadi perselisihan antara Ahlus Sunnah dengan Rafidhah semenjak zaman dahulu, dan Salafush Shalih telah membantah mereka di zaman itu. Inilah para ulama yang tercatat membantah Rafidhah:

1. Imam Malik rahimahullah.
Beliau ditanya tentang Rafidhah, beliau menjawab: “Janganlah kamu berbicara dengan mereka, dan janganlah kamu meriwayatkan dari mereka, karena mereka berdusta.” [Minhajus Sunnah I/59]

Beliau juga berkata: “Orang yang mencela para sahabat Nabi, maka dia tidak termasuk golongan Islam.” [As-Sunnah II/557, karya Al-Khallal]

2. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Aku tidak pernah melihat seorangpun lebih berani bersaksi palsu daripada Rafidhah”. [Riwayat Al-Lalikai di dalam Syarh Ushul I’tiqad VIII/1457; Abu Hatim Ar-Razi di dalam Aadab Asy-Syafi’I wa Manaqibuhu, hal:187-189; dan Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah IX/114; serta disebutkan oleh Ibnu Taimiyah di dalam Minhajus Sunnah I/60 dan Adz-Dzahabi di dalam Siyar X/89]

3. Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Barangsiapa mencela sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kami khawatir dia keluar dari Islam.” [As-Sunnah II/558, karya Al-Khallal]

4. Imam Bukhari rahimahullah berkata: “Bagiku sama saja, apakah aku shalat di belakang orang yang berfaham Jahmiyyah atau Rafidhah, atau aku shalat di belakang orang Yahudi atau Nashrani. Dan seorang muslim tidak boleh memberi salam kepada mereka, menjenguk mereka ketika sakit, kawin dengan mereka, menjadikan mereka sebagai saksi, dan memakan sembelihan mereka.” [Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal:125, karya Imam Bukhari]

5. Imam Abdurrahman bin Mahdi bin Hasan bin Abdurahman Al-‘Ambari Al-Bashri rahimahullah, salah seorang imam Ahli Hadits ternama, wafat Th 198H. Beliau berkata: “Dua hal ini (mengingkari kejujuran sahabat dan mengangap mereka murtad) merupakan agama golongan Jahmiyyah dan Rafidhah.” [Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal:125, karya Imam Bukhari]

6. Imam Muhammad bin Yusuf Al-Faryabi rahimahullah, salah seorang ahli hadits terpercaya, dan terbaik di zamannya, wafat Th 212H, imam Bukhari meriwayatkan 26 hadits darinya. Ketika ditanya tentang orang yang mencela Abu Bakar, beliau menjawab: “Dia kafir.” [As-Sunnah VI/566, karya Al-Khallal; Ash-Sharimul Maslul, hal:570, karya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah]

7. Ahmad bin Yunus rahimahullah, salah seorang tokoh ulama Ahlus Sunnah di Kufah, wafat th. 227H. Beliau berkata: “Seandainya seorang Yahudi menyembelih seekor binatang, dan seorang Rafidhi (Syi’ah) menyembelih seekor binatang, niscaya aku hanya memakan sembelihan si Yahudi, dan aku tidak mau memakan sembelihan si Rafidhi karena dia telah murtad dari Islam.” [Ash-Sharimul Maslul, hal:570, karya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah]

Selain perkataan para ulama di atas, masih banyak lagi perkataan para ulama yang menyatakan kesesatan Rafidhah, di antaranya:

8. Abu Zur’ah Ar-Razi rahimahullah. Seorang tokoh ahli hadits, hafal 100 ribu hadits, sehingga ada yang berkata: “Setiap hadits yang tidak dikenal oleh Abu Zur’ah, maka hadits itu tidak memiliki asal usul.” Beliau wafat Th 227 H.
9. Ibnu Qutaibah rahimahullah, salah seorang ulama terkenal yang banyak karya-karyanya, wafat Th 276 H.
10. Abdul Qadir Al-Baghdadi rahimahullah, salah seorang tokoh ulama terkenal, wafat Th 429 H.
11. Al-Qadhi Abu Ya’la rahimahullah, seorang ‘alim masalah aqidah dan syari’ah di masanya, wafat Th 458 H
12. Al-Asfarayaini rahimahullah, seorang tokoh terkenal yang banyak karya-karyanya, wafat Th 471 H
13. Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah, wafat Th 505H.
14. Ibnu Hazm rahimahullah.
15. Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah. Seorang tokoh ahli hadits di zamannya, dari Maghribi, wafat Th 544 H
16. As-Sam’ani rahimahullah, tokoh penghafal hadits, yang banyak karya-karyanya, wafat Th 562 H.
17. Fakhrur Razi rahimahullah seorang tokoh terkenal, wafat Th 606 H.
18. Al-Qurthubi rahimahullah di dalam Tafsirnya.
19. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.
20. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah.
21. Imam Adz-Dzahabi rahimahullah.
22. Imam Ibnu Katsir rahimahullah.
23. Syaikh Al-Alusi rahimahullah.
24. Syaikh Ali bin Sulthan bin Muhammad Al-Qaari rahimahullah
25. Abul Mahasin Yusuf Al-Wasithi rahimahullah
26. Syeikh Syah Abdul Azizi Ad-Dahlawi rahimahullah
27. Muhammad Ali Asy-Syaukani rahimahullah
28. DR. Taqiyyuddin Al-Hilali Al-Husaini rahimahullah.
29. Syaikh Muhammad Bahjah Al-Baithar rahimahullah.
30. Syaikh Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah.
31. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah.
32. Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi rahimahullah.
33. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah
34. Syaikh Mushthafa al-Adawi.
35. Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari. Dan lainnya.

PENUTUP.
Setelah kita mengetahui sedikit saja tentang kesesatan Rafidhah, dan bahwa mereka adalah orang-orang yang dikenal berdusta di kalangan para ulama, maka janganlah kita terkecoh oleh mereka.

Kami sebutkan di sini, -sebagai nasehat dan peringatan, sesungguhnya peringatan itu berguna bagi orang-orang yang beriman- di antara orang yang terkecoh dan memuji-muji Syiah adalah seorang penulis Indonesia, yang banyak buku-bukunya, yaitu Prof. Dr. Abu Bakar Aceh di dalam bukunya yang berjudul Syi’ah, Rasionalisme dalam Islam. Di dalam bukunya tersebut Prof. meruju’ kepada berbagai buku-buku yang ditulis oleh orang-orang Syia’h, bahkan sempat memuji-muji kitab Muraja’at karya Abdul Husain Syarafuddin Al-Musawi (Pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Mizan Bandung dengan judul: Dialog Sunnah Syi’ah) .

TAMBAHAN
Cobalah dengar perkataan seorang Ahli hadits yang diakui ilmunya tentang kitab yang sempat mengecoh sang Prof. tersebut , inilah di antara perkataan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah tentang buku tersebut beserta pengarangnya.

1. Setelah menjelaskan palsunya sebuah hadits tentang keutamaan sahabat Ali Radhiyallahu ‘anhu di dalam kitab Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah no:892, Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata: “Sesungguhnya ada beberapa sebab yang mendorongku mentakhrij hadits ini, mengkritiknya, dan membongkar cacatnya, di antaranya : Aku melihat seorang Syaikh yang bernama Abdul Husain Syarafuddin Al-Musawi seorang Syi’ah telah menyebutkan hadits ini di dalam kitab Muraja’at karyanya, hal:27. Dia mentakhrij hadits ini menipu para pembaca bahwa hadits ini adalah shahih, sebagaimana kebiasaannya di kalangan orang-orang yang semisalnya.” [Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah II/295, Penerbit:Maktabul Ma’arif, Riyadh, Cet:5, Th:1412 H]

2. Kitab Muraja’at karya seorang Syi’ah tersebut dipenuhi oleh hadits-hadits lemah dan palsu tentang keutamaan Ali Radhiyallahu ‘anhu. Demikian pula disertai kebodohan terhadap ilmu (hadits) yang mulia ini, penipuan terhadap para pembaca, penyesatan dari al-haq yang nyata, bahkan kedustaan terang-terangan. Yang hampir-hampir tidak terlintas pada fikiran pembaca yang mulia bahwa ada seorang di antara para penulis terjerumus ke dalam keadaan semisalnya. Oleh karena inilah, tekadku kuat untuk mentakhrij hadits-hadits itu –walaupun jumlahnya banyak-, dan menjelaskan cacat-cacat dan kelemahannya, serta membongkar perkataan orang Syi’ah tersebut terhadap hadits-hadits itu, perkataannya yang berupa penipuan dan penyesatan.” [Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah II/297, Penerbit:Maktabul Ma’arif, Riyadh, Cet:5, Th:1412 H]

Inilah perkataan seorang yang ahli dan terpercaya mudah-mudahan membuka mata sebagian kaum muslimin yang tertipu dengan ulah orang-orang Rafidhah yang berusaha mengecoh mereka dengan perbuatan seperti di atas!

Wahai Allah tunjukkanlah al-haq kepada kami sebagai al-haq sehingga kami dapat mengikutinya.

Dan tunjukkanlah kesesatan kepada kami sebagai kesesatan sehingga kami dapat mengikutinya. Wallahu A’lam.

Abu Isma’il Muslim Al-Atsari

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun V/1422H/2001M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

Disalin dari artikel blog Abu Umamah untuk blog Abu Abdurrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s