Kebencian Yahudi Terhadap Malaikat Jibril

Kebencian Yahudi Terhadap Malaikat Jibril

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari Al-Bugisi)

“Katakanlah, ‘Barang siapa menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) sebelumnya, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman’.” (al-Baqarah: 97)

Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)
Sa’id bin Jubair meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Abbas c, ia mengisahkan bahwa sejumlah orang Yahudi datang kepada Rasulullah n lalu mereka berkata, “Wahai Abul Qasim (maksudnya Rasulullah n, red). Kami (akan) bertanya kepadamu tentang lima perkara, yang jika engkau mengabarkan kepada kami (tentang lima hal tersebut) maka kami percaya bahwa engkau adalah seorang nabi dan kami akan mengikutimu.”
Maka Rasulullah n pun mengikat perjanjian dengan mereka sebagaimana Israil (Nabi Ya’qub q) telah mengikat perjanjian dengan anak keturunannya di saat mereka mengatakan, “Allah adalah saksi terhadap apa yang kami ucapkan.” Kata Rasulullah n , “Bertanyalah!”
Mereka bertanya, “Kabarkanlah kepada kami tanda seorang nabi.”
Beliau menjawab, “Kedua matanya tertidur namun hatinya tidaklah tidur.”
Lalu mereka bertanya lagi, “Kabarkan kepada kami bagaimana seorang wanita bisa melahirkan (anak) perempuan dan laki-laki?”
Beliau menjawab, “Apabila bertemu dua mani. Ketika mani laki-laki keluar mendahului mani wanita maka yang jadi (adalah anak) laki-laki dan apabila mani wanita keluar mendahului mani laki-laki maka yang jadi adalah wanita.”
Mereka bertanya, “(Makanan) apa yang diharamkan oleh Israil (Nabi Ya’qub q) terhadap dirinya?”
Beliau menjawab, “Beliau mengeluh dari makan (daging) maka beliau tidak mendapatkan (daging) yang sesuai kecuali susu yang demikian—yaitu unta—, maka dia pun mengharamkan dagingnya.”
Mereka bertanya lagi, “Kabarkan kepada kami tentang kilat.”
Beliau menjawab, “Malaikat dari malaikat-malaikat Allah k yang ditugaskan mengarahkan awan, di tangannya ada cambuk dari api yang menghardik awan tersebut dan mengarahkannya berdasarkan perintah Allah k.”
Mereka berkata, “Lalu apa suara yang didengar itu?”
Beliau menjawab, “Suaranya.”
Mereka berkata, “Engkau berkata benar. Namun masih sisa satu pertanyaan yang dengannya kami memba’iatmu jika engkau mengabarkannya kepada kami. Sesungguhnya tidak (ada) seorang nabi melainkan dia mempunyai malaikat yang mendatanginya sambil membawa kabar (wahyu), maka kabarkanlah kepada kami siapa sahabatmu?”
Beliau menjawab, “Jibril q.”
Mereka berkata, “Jibril yang turun dengan peperangan dan siksaan, (dia adalah) musuh kami. Sekiranya engkau mengatakan Mikail yang menurunkan rahmat, tumbuhan, dan hujan (niscaya kami akan beriman).”
Maka Allah l pun menurunkan ayat tersebut.
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad, ath-Thabarani, dan yang lainnya, disahihkan oleh asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i dalam Shahih al-Musnad min Asbabin Nuzul, 21—22.
Dalam riwayat al-Imam Ahmad t yang lain ketika menjelaskan tentang makanan yang diharamkan Israil bagi dirinya, beliau menjawab bahwa Israil ketika sakit parah dan itu berlangsung lama, dia bernadzar kepada Allah l bahwa jika Allah l menyembuhkannya maka dia akan mengharamkan (atas dirinya) makanan dan minuman yang paling disukainya. Di mana makanan yang paling disukainya adalah daging unta, adapun minuman yang paling disukainya adalah susu unta.
Ath-Thabari t berkata, “Telah sepakat para ulama ahli tafsir bahwa ayat ini turun sebagai jawaban bagi Yahudi dari Bani Israil ketika mereka menyatakan bahwa Jibril adalah musuh mereka sedangkan Mikail adalah penolong mereka.” (Tafsir ath-Thabari, 1/431)

Penjelasan Kosakata
Jibril adalah salah satu malaikat Allah k. Al-Qurthubi t menyebutkan ada sepuluh bahasa dalam menyebutkan lafadz Jibril. (Tafsir al-Qurthubi, 2/37)
“Ia telah menurunkan ke dalam hatimu.”
Al-Qurthubi t berkata, “Makna lafadz ini ada dua kemungkinan:
1.    Allah l yang menurunkan Jibril menuju hatimu.
2.    Bahwasanya Jibril yang menurunkan Al-Qur’an ke dalam hatimu.” (Tafsir al- Qurthubi, 2/36)
Asy-Syinqithi t berkata, “Zhahir ayat ini bahwa Jibril memasukkan Al-Qur’an ke dalam hati Nabi n tanpa mendengarkan bacaan. Namun pada beberapa (ayat) yang lain bahwa maknanya adalah malaikat membacakannya sehingga beliau mendengarnya. Maka sampailah makna-makna (ayat tersebut) ke dalam hatinya setelah mendengarnya. Inilah yang dimaksud diturunkannya ke dalam hatimu. Seperti firman Allah l:
“Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya. Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu, (wahai manusia), mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.” (al-Qiyamah: 19—21) [Adhwa’ul Bayan, 1/82—83]
Disebutkannya hati karena merupakan tempat akal (memahami), ilmu, dan tempat menerima pengetahuan. (Tafsir al-Qurthubi)
“Dengan seizin Allah.”
Yaitu dengan kehendak Allah l dan ilmu-Nya.
“Membenarkan apa yang sebelumnya.”
Yaitu Taurat. (Tafsir al-Qurthubi)

Kandungan ayat
Al-‘Allamah as-Sa’di t menjelaskan ayat ini, “Katakan kepada mereka orang-orang Yahudi, yang mereka menyangka bahwa yang menghalangi mereka dari keimanan adalah karena penolongmu adalah Jibril q. Bila sekiranya malaikat Allah l yang lain, tentunya mereka akan beriman dan membenarkannya. Sesungguhnya persangkaan kalian ini bertentangan dan sombong terhadap Allah l. Karena sesungguhnya Jibril q-lah yang membawa turun Al-Qur’an dari sisi Allah l ke dalam hatimu, dan dialah yang menurunkan (wahyu) kepada para nabi sebelumnya. Allah l-lah yang memerintahkan dan mengutusnya, maka beliau semata-mata seorang rasul.
Padahal kitab yang Jibril turun membawanya—sebagai pembenar dari kitab-kitab sebelumnya—tidak menyelisihinya dan tidak pula menentangnya. Di dalamnya terdapat hidayah yang sempurna dari berbagai jenis kesesatan. Padanya juga terdapat kabar gembira tentang kebaikan dunia dan akhirat bagi orang yang beriman kepadanya.
Maka memusuhi Jibril yang telah memiliki sifat tersebut adalah kufur terhadap Allah k dan ayat-ayat-Nya serta memusuhi Allah k, para rasul dan malaikat-Nya.
Sesungguhnya permusuhan mereka dengan Jibril bukanlah terhadap diri pribadi (Jibril), bahkan terhadap kebenaran yang diturunkannya dari Allah k kepada para utusan Allah k. Maka, padanya mengandung kekufuran dan permusuhan kepada apa yang diturunkan dan diutusnya serta apa yang dibawanya, juga kepada siapa diutus. Inilah maksudnya.” (Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 60)

Beberapa Faedah Ayat
1. Bahwa Jibril adalah malaikat yang ditugaskan Allah k sebagai pembawa wahyu. Allah l berfirman:
“Katakanlah, ‘Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur’an itu dari Rabbmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, serta menjadi petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah k)’.” (an-Nahl: 102)
Yang dimaksud dengan Ruhul Qudus di dalam Al-Qur’an adalah Jibril, menurut pendapat yang rajih (kuat). (Adhwaul Bayan, 1/80)
Juga firman-Nya:
“Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril).” (asy-Syu’ara: 193)
2. Ayat ini juga menunjukkan ketinggian Allah k, bahwa Allah Mahatinggi di atas seluruh hamba-Nya. Karena Al-Qur’an dan kitab-kitab Allah k yang lain diturunkan kepada hamba-Nya, sehingga ini menunjukkan bahwa firman-firman Allah k tersebut berasal dari atas. (Syarah Nuniyyah oleh Ibnu ‘Isa, 1/412)
Menetapkan ketinggian Allah l merupakan perkara yang diketahui secara pasti dari Al-Qur’an, As-Sunnah dan kesepakatan ulama. Oleh karena itu, para ulama salaf sepakat mengafirkan orang yang mengingkari hal tersebut. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “…Di dalam Al-Qur’an ada seribu dalil atau lebih yang menunjukkan bahwa Allah l tinggi di atas seluruh makhluk dan bahwa Dia di atas seluruh hamba-Nya.” (Majmu’ Fatawa, 5/121)
Telah disebutkan oleh Ibnul Qayyim t dalam Nuniyyah-nya lebih dari 20 alasan. Masing-masing alasan tersebut dikuatkan dengan beberapa dalil.
3. Ayat ini juga menunjukkan bahwa barang siapa memusuhi salah seorang dari wali Allah k berarti dia telah menampakkan permusuhan kepada Allah l.
Al-Qurthubi t berkata, “Firman-Nya ‘Siapa yang menjadi musuh’ ini merupakan syarat, dan jawabannya adalah firman-Nya ‘Sesungguhnya Allah adalah musuh bagi orang-orang kafir’. Ini merupakan ancaman bagi orang yang memusuhi Jibril q dan penegasan bahwa memusuhi sebagiannya berarti telah memusuhi Allah k. Seorang hamba yang memusuhi Allah k berarti berbuat kemaksiatan, menjauhi ketaatan kepada-Nya, dan memusuhi para wali-Nya. Permusuhan Allah k terhadap seorang hamba adalah menyiksanya dan menampakkan pengaruh permusuhan tersebut.” (Tafsir al-Qurthubi, 2/36)
4. Dari sebab turunnya ayat ini juga menunjukkan kebenaran apa yang dibawa oleh Rasulullah n, dan semuanya berasal dari Allah k sehingga tidaklah bertentangan dengan apa yang diterangkan di dalam kitab-kitab Allah k yang terdahulu.
Asy-Syaukani t berkata, “Dalam hadits ini terdapat pengakuan dari orang-orang yang bertanya dari kalangan Yahudi bahwa permasalahan-permasalahan yang mereka tanyakan tersebut tidak ada yang mengetahuinya kecuali seorang nabi. Beliau (Rasulullah n) telah mengabarkan apa yang mereka pertanyakan tersebut dan mereka membenarkan semuanya. Maka tertolaklah keraguan orang-orang yang ragu dan batallah keraguan setiap orang yang mengingkarinya.” (Irsyad ats-Tsiqat, hlm. 47)
Wallahu a’lam.

Disalin dari artikel Majalah AsySyariah Edisi 004 untuk blog Abu Abdurrohman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s